Minggu, 24 Juli 2011

Mengapa Orang-orang Mengikuti Engkau, Fransiskus?


Sekarang sudah delapan abad semenjak St. Fransiskus untuk pertama kalinya menyampaikan pesan Injilnya kepada dunia. Namun demikian tidak seorang pun meragukan daya tariknya atau relevansinya dewasa ini. Kesaksian yang diberikan oleh Si Miskin dari Asisi melampaui batas zaman dan budayanya sendiri. Hal itu tidak dapat dikungkung oleh batas suatu tradisi religius juga tidak oleh semacam “pemilikan privat” para pengikutnya. Hal itu merupakan suatu kenyataan roh, yang memiliki dinamikanya sendiri, yang daya tariknya tidak terbatas pada suatu waktu atau kelompok.

Justru ketika anda memikirkan bahwa anda telah mengungkapkan pesan itu dengan batasan-batasan atau ketika anda percaya bahwa hal tersebut telah dipahami dan dirumuskan sekali untuk selamanya, maka kekayaannya meledak dalarm pewahyuan akan kedalaman dan kekaguman yang baru. Banyak keluarga religius telah mengikutinya berabad-abad lamanya.

Mereka dan kelompok-kelompoknya telah menentukan parkembangan kharisma ini sebagaiman juga pelbagai “pembaharuan” dalam Tarekat-tarekat Fransiskan. Semua hal itu menunjukkan betapa mendalam kekayaan roh yang tidak- dapat tinggal diam ini. Kita sedang berbicara tentang suatu pesan dan suatu spiritualitas yang mengklaim suatu kebebasan dan joi de vivre (kegembiraan hidup) yang pantas untuknya. Semakin tidak terjamin, semakin “krasan”.

Setiap jejak paerbudakan menghilang di hadapan pesan yang diwartakan pada hari itu di alun-alun kota Asisi, di hadapan Uskup dan penduduk kota yang tercengang-cengang. Itu adalah saat ketika Fransiskus menanggalkan pakaiannya dan mengembalikannya kepada bapanya dengan kata-kata: “Mulai sekarang ini aku dapat mengatakan dengan leluasa: ‘Bapa kami yang ada di surga …’ dan bukan lagi ‘bapaku Pietro Bernardone’”. Semenjak itu tidak ada lagi setelan pakaian yang cocok untuknya.

“Fransiskus, mengapa seluruh dunia mengikuti engkau dan semua orang mau melihat, mendengar engkau dan taat kepadamu? Fransiskus, mengapa orang-orang mengikuti engkau” (Fior 10).

Pertanyaan saudara Maseo akan mendapat pelbagai jawaban dewasa ini: “Karena semangat puitismu”, “karena cintamu akan alam dan segala ciptaan “karena engkau berbagi secara instingtif dengan yang termiskin dari orang miskin”, “karena kemampuanmu untuk manyatukan pihak-pihak yang saling berlawanan dalam perujukan dan perdamaian”. Daftar jawaban dapat diteruskan. Nyatanya setiap zaman mempunyai daftar hal-hal yang paling erat berkaitan dengannya.

Setiap keluarga atau lembaga Fransiskan, dari antara ratusan yang muncul dalam perjalanan abad-abad, dapat mengklaim dan memberi batasan pada lambang dan “kebiasaan”-nya sendiri, tatanan dan karya yang dipilihnya sendiri. Tetapi janganlah melihat pekerjaan atau bentuk-bentuk lahiriah seolah-olah semua hal itu merupakan ungkapan definitif spiritualitas Fransiskan! Kepada setiap saudaranya Fransiskus mengulangi yang berikut: “Janganlah berkata kepadaku tentang suatu Anggaran Dasar, entah Anggaran Dasar St. Benediktus, St. Augustinus entah St. Bernardus; janganlah berbicara tentang suatu cita-cita atau bentuk hidup yang lain daripada yang Tuhan sudi berikan dan tunjukkan kepadaku dalam belaskasihan-Nya. Tuhan telah memberitahukan kepadaku agar aku mau manjadi serupa dengan-Nya, yakni seorang bodoh di dunia ini” (Cerkes 68; lih. 1 Kor 4:10).

Fransiskus, sebuah mukjizat hidup Injili tampil pada saat ketika hidupnya, yang sampai saat itu dibentuk oleh perdagangan dan perolehan dan berpakaikan perlengkapan ksatria, mengubah haluan menjadi gambar Yesus yang miskin, gambar seorang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam kemiskinan, menjadi rapuh, mengosongkan dirinya dengan tindakan penyerahan diri yang paling radikal- “Putra Manusia tidak mempunyai sesuatu pun untuk rneletakkan kepala-Nya”.

Justru dalam keadaan tidak terjamin yang dipilih oleh Putera Allah untuk hidup-Nya di dunia Sang Santo dari Asisi menemukan jaminannya. Inilah titik acuan, cakrawala benderang yang sama sekali menguasainya sehingga segala sesuatu di sekitarnya berubah rupa dan maknanya. Dengan demikian muncullah hubungan-hubungan yang bebas dan membebaskan. Kekuatan baru mengalir di dalam dirinya: kedalaman makna yang baru muncul, suatu afektivitas yang tidak terhambat, suatu kekayaan imaginatif akan lambang-lambang yang dengan bertambahnya tahun menjadi semakin berani dan semakin membawa harapan.

Berpusatkan keyakinan: “Sekarang saya dapat mengatakan dengan leluasa: Bapa kami yang Ada di surga”, seluruh hidup menjadi sederhana dan suatu yang menyeluruh. Kemisikinannya memberikan ruang kepada Roh, yang pada gilirannya, menggandakan kamampuan kreatifnya yang berasal datri Allah dan hanya dari Dia saja.

Mengapa Fransiskus masih tetap menjalanan apa yang mengasyikkannya dan tidak membiarkan kita tidur dengan tenteram? Pasti karena ia mengembalikan kita kepada Khabar Gembira, langsung menuju pesan Injil yang sederhana dengan tawarannya: “Sekaranglah giliranmu untuk mengejawantahkan Injil dalam tubuh dan hatimu dan melakukannya dengan berani dan tanpa ragu-ragu. Engkau berada dalam pelukan Allah Bapa. Jangan takut!”

Fransiskus menarik karena ia mengeluarkan dan mengungkapkan kepada semua orang kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi di dalam diri kita yang tidak lepas bebas karena kekhawatiran akan pelibatan diri kita sendiri yang melumpuhkan. Ketika menyerahkan dirinya kepada Allah Fransiskus menyadari kepercayaan akan dirinya sendiri, seraya mengetahui bahwa dia sendiri adalah penerima karunia Allah yang tiada habisnya, seraya menyampaikan bentuk-bentuk pengungkapan yang tiada batasnya.

Hal itu menunjukkan kepadanya kegembiraan karena penolakan segala sesuatu yang menjadi miliknya dan kebebasan Kerajaan. Hal itu membuka pandangan tentang daya hidup yang nampak dalam dan dengan bantuan hubungan-hubungan dengan orang lain dan dengan seluruh ciptaan, yang membuat dia menjadi seorang manusia dialog, manusia persekutuan dan manusia perdamaian.

Tetapi penyerahan diririya yang total seperti pada seorang anak yang percaya pada orang tuanya atas segala sesuatu, hanya diperoleh melalui upaya mendengarkan Firman Allah setiap hari, seakan-akan dengan melindungi Allah terhadap diri kita sendiri, dengan menerima dengan berani cara-cara di mana kita dilepaskan harta milik kita.

“Fransiskus”, kata penulis riwayat hidupnya yang pertama, “kelihatan seperti seorang dari dunia yang lain” (I Cel 36). Hal itu merupakan suatu dunia yang lebih manusiawi, lebih bersaudara, lebih penuh rasa hormat, suatu dunia rasa-setia-kawan; dunia yang kita semua. cita-citakan dan inginkan. Hal itu dapat merupakan dunia milenium ketiga. Apa yang diperlukan adalah menolak untuk menerima secara pasif banyak bentuk penyembahan ber-hala dan egosentrisme yang membayangi kita, tetapi menerima dengan hati yang dibaharui maksud Allah yang semula untuk perkembangan kita.

Sangatlah panting bahwa sekali lagi dengan penuh entusiasme kita mewujudkan di dalam diri kita kesegaran pesan Injil yang sampai pada kita pertama-tama karena daya tarik Fransiskus. Kita harus menemukan bentuk-bentuk baru melalui mana hakekat hal ini akan kelihatan dengan lebih baik, diungkapkan dengan lebih baik sehingga maknanya nampak dengan jelas. Kita harus menemukan “kantong-kantong baru untuk anggur baru” agar hidup kita menjadi kesaksian yang jelas tentang Dia pada siapa kita telah menaruh harapan kita.
Pada saat hendak meninggal si Miskin memberikan kepada kita masing-masing, laki-laki dan perempuan, perintah yang besar,: “Aku telah menyelesaikan bagianku; semoga Kristus mengajarkan kamu untuk melakukan bagianmu” (2 Cel 214). Fransiskus telah meninggalkan kita isi yang “telanjang” sama seperti tatkala ia berdiri telanjang di alun-alun kota Asisi. Adalah tugas kita untuk mengenakannya pada tubuh kesaksian kita.

“Mengapa orang-orang mengikuti engkau, Fransiskus?” Ketika Fransiskus melewati jalan-jalan, mereka mengikutinya karena mereka merasakan bahwa di dalam dirinya terdapat sesuatu yang lebih daripada dirinya. Tugas kita sekarang adalah menyegarkan, mempraktekkan pesan tersebut sesuai dengan keadaan kita dewasa ini. Kita tidak boleh mangecewakan harapan dunia di mana kita hidup.

Sdr. Giacomo Bini, OFM
(Dari: Franciscan Martyrs of China. Canonization of the Martyrs of China, Sunday 1st October 2000.)
http://ofm.or.id/mengapa-orang-orang-mengikuti-engkau-fransiskus/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.