Minggu, 24 Juli 2011

Butir Renungan Transitus :

Doa Fransiskus Di Hadapan Salib San Damiano

St. Fransiskus dari Assisi, santo pelindung binatang dan lingkungan hidup, adalah pendiri Ordo Fransiskan. Ia menjalankan Injil secara harafiah dengan  mengikuti semua yang Yesus katakan dan lakukan. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober. Sebelum perayaan 4 Oktober biasanya keluarga besar fransiskan-fransiskanes memperingati ‘transitus’ Fransiskus Assisi.


Transitus adalah istilah fransiskan untuk mengilustrasikan beralihnya jiwa Si Miskin dari Assisi dari dunia yang fana ke surga penuh kemuliaan. Biasanya para keluarga fransiskan-fransiskanes memperingati transitus ini dengan ibadat bersama dalam komunitas dan diadakan renungan dengan butir-butir permenungan yang diambil dari beberapa pokok penting dalam masa hidup Fransiskus.

Pada kesempatan ini butir renungan transitus diambil dari salah satu peristiwa penting awal pertobatan Fransiskus yang mencerminkan motivasi dan hati yang sesungguhnya dari St. Fransiskus Assisi.

Doa Di Hadapan Salib


Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan,
terangilah kegelapan hatiku
dan berilah aku
iman yang benar,
pengharapan yang teguh,
dan kasih yang sempurna
berilah aku, ya Tuhan,
perasaan yang peka
dan budi yang cerah,
agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu
yang kudus dan yang takkan menyesatkan.



Saya sering berefleksi berdasarkan doa ini, dan sebagai seorang sarjana Fransiskan saya membuktikan bahwa doa ini benar-benar digubah oleh St. Fransiskus sendiri. Tiap kali saya mendoakannya, semakin saya yakin bahwa doa ini mengungkapkan isi hati St. Fransiskus yang sebenarnya.

Terangilah Kegelapan Hatiku
Doa Fransiskus tidak dimulai dengan kalimat yang mengandung arti “Kesengsaraaan diriku” atau betapa sengsaranya jiwa. Namun doa ini diawali dengan fokus kepada kemuliaan serta betapa mulianya keindahan Tuhan.

Hanya dengan mengucapkan kata-kata tersebut dalam semangat pujian, hati kita semakin ringan dan kita merasa diayunkan ke dalam kehadiran Tuhan yang penuh kemuliaan! Doa ini dimulai dengan kata-kata pujian! Pujian berarti mengangkat kita dari keasyikan atas diri sendiri dan kegelisahan kita. Pujian dan ucapan syukur membantu mencerahkan kegelapan hati saya.

Karena suatu alasan, saya merasa senang karena Fransiskus menggunakan kata ‘hati’ daripada ‘pikiran’, saat ia berkata “Terangilah kegelapan hatiku”. Kata ‘pikiran’ seakan membawa kita lebih banyak ke kepala. Dan ini bukanlah sikap St. Fransiskus yang sesungguhnya. Sikap St. Fransiskus yang sesungguhnya berasal dari hati. Hati memberi kesan kompleksitas kasih manusiawi dan misteri hasrat keinginan yang terdalam pada manusia-dengan semua sukacita dan dukacita yang ada padanya.

Hati Fransiskus sangat terarah pada kepenuhan misteri curahan kasih Tuhan. Suatu kali, menurut St. Bonaventura (1221-1274) - penulis riwayat hidupnya - sementara berdoa dalam tempat yang sunyi, Fransiskus mendapatkan penglihatan Kristus yang sedang memandangnya dari salib dengan kasih yang bernyala-nyala sehingga “jiwanya meleleh”. Kita hanya bisa percaya bahwa, setelah peristiwa jiwa-meleleh ini, setiap kali Fransiskus berdoa di hadapan salib, ia mengalami kembali curahan kasih Tuhan yang sama dan luar biasa itu.

Iman yang benar, Pengharapan yang Teguh dan Kasih yang Sempurna
Sewaktu Fransiskus mengatakan “iman yang benar,” ini seakan membangkitkan penglihatan transformasi-hati dari curahan kasih Tuhan yang tak berakhir, kasih yang tidak mengharapkan pamrih sama sekali! Inilah iman yang benar yang dimohon oleh Fransiskus - juga oleh saya dan Anda - dalam doa ini. Dan tidakkah iman yang benar ini - yang merupakan pemberian dan pengungkapan diri total Allah - menerangi kegelapan hati kita?

Kita berdoa bersama Fransiskus memohon “pengharapan yang teguh” yang mengalir dari “iman yang benar.” Dan dalam manakah “iman yang benar” ini mengungkapkan dirinya kepada kita secara lebih penuh selain dalam Kebangkitan Yesus? Para rasul secara nyata menjadi saksi dari pengharapan yang benar, saat Kristus yang bangkit memperlihatkan diri-Nya kepada mereka pada Minggu Paskah pertama. Ingatlah khususnya Rasul Thomas dalam hal ini. Yesus yang bangkit begitu menerangi kegelapan hati Thomas yang penuh keraguan, sehingga sambil menyembah ia menyatakan tanpa ragu lagi: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Sama seperti Fransiskus melihat Yesus pada salib menyerahkan diri-Nya kepada Fransiskus dan seluruh umat manusia dalam kasih yang sempurna dan total, demikian pula Fransiskus memohon agar ia menerima “kasih yang sempurna” yang sama pula. Kasih seperti ini memampukan Fransiskus untuk menjawab totalitas kasih Allah yang sama. Selanjutnya Fransiskus juga memohon “perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu”. “Perintah” di sini sebenarnya berarti rencana mulia Tuhan yang dipelihara oleh semua anak Tuhan dalam kasih Kristus dan suatu saat nanti bangkit bersama Kristus ke dalam rangkulan kasih Tuhan.

Merefleksikan Salib San Damiano
Dokumen-dokumen awal fransiskan dari abad ke-13 mengindikasi bahwa salib yang dihadapannya Fransiskus berdoa (seperti doa di atas ini) adalah salib yang dikenal banyak orang yang tergantung di dalam kapel kecil di San Damiano, dekat kota Assisi. Salib yang dicintai ini, sangat dikenal oleh semua pengikut St. Fransiskus di seluruh dunia, dan dipanggil dengan nama Salib San Damiano. Salib ini sarana yang sangat baik untuk meditasi.

Jika memandang cermat pada tubuh Kristus yang tergambar di salib ini, akan terlihat bahwa bukan tubuh sengsara atau tubuh yang menanggung penderitaan berat yang tergambar di sana. Tetapi yang tergambar adalah tubuh yang sungguh bercahaya, seperti tubuh yang sudah bangkit, memancarkan kepenuhan Tuhan. Selain itu, alih-alih mahkota duri, kepala Kristus dikelilingi oleh lingkaran cahaya kemuliaan. Dan tubuhnya dengan tangan yang terentang nampak seperti sedang naik ke surga. Singkatnya, gambar di salib itu dengan jelas menampakkan Yesus yang bangkit mulia.

Tentu saja, jika gambaran Kristus seperti itu yang tertera di salib San Damiano yang direnungkan oleh St. Fransiskus dalam doa yang timbul dari hatinya, maka sangat masuk akal bahwa Fransiskus menyebut Yesus sebagai “Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan!” Karena semua tanda kemuliaan ada di salib itu.
O Kasih Tuhan yang Mahamulia, terangilah kegelapan hati kami!

Sumber : St. Francis’ Prayer Before the Crucifix, by Friar Jack Wintz, O.F.M., americancatholic.org
Artikel ini di ambil dari http://ofm.or.id/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.