Kamis, 28 Juli 2011

MASALAH PILIHAN

 “Jangan kamu menyangka bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang  ialah orang-orang seisi rumahnya. Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, Ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,  ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka (Mat 10:34-11:1).

Pada hari Minggu Palma malam di tahun 1212 terjadilah peristiwa di Assisi yang sangat penting dalam ‘gerakan Fransiskan’ yang masih sangat muda pada waktu itu dan juga dalam sejarah Gereja. Pada malam itu seorang gadis muda-usia dari sebuah keluarga bangsawan Offreduccio yang baru berumur 18 tahun, melarikan diri dari rumahnya. Seperti telah disepakati bersama sebelumnya, di gereja Portiuncula gadis muda itu bertemu dengan seorang laki-laki muda bernama Francesco (Fransiskus) – si kecil miskin dari Assisi.

Di sana Francesco memotong rambut perempuan muda yang bernama Chiara (Klara) Offreduccio itu, mengenakan kepadanya sepotong jubah kasar. Di situ pula, di hadapan  Fransiskus, Klara membuat komitmen untuk mengabdikan hidupnya bagi “Tuan Puteri Kemiskinan”.  Keluarga Offreduccio sangat terkejut dengan hilangnya Klara dari rumah. Mereka kemudian berusaha untuk membawanya kembali ke rumah, namun Klara bersiteguh dengan pilihan hidupnya itu.

Pada waktu adiknya, Agnes, bergabung dengan Klara, keluarga Offreduccio mengirim 12 orang bersenjata guna ‘mengambil’ kedua perempuan muda itu. Namun ketika Klara berdoa, tubuh Agnes menjadi sedemikian berat sehingga tidak seorang pun yang datang menjemputnya mampu untuk mengangkat dia. Alhasil, baik Klara maupun Agnes dapat tetap tinggal dalam biara.

Pada masa itu Klara dipandang orang-orang sebagai salah seorang perempuan paling cantik di Assisi. Sebenarnya dengan mudah Klara dapat mendapatkan seorang suami yang baik dan terpandang dalam masyarakat. Akan tetapi Klara tidak memilih gaya hidup yang penuh kenyamanan dan kemakmuran, melainkan dia memilih hidup dalam sebuah biara tertutup. Di mata keluarganya keputusan Klara kelihatan tidak rasional samasekali, namun dia sangat mengerti bahwa Allah mempunyai suatu visi yang berbeda untuk hidupnya – suatu kehidupan yang penuh dengan ‘biaya pemuridan’ yang riil, tetapi dipenuhi oleh rahmat-Nya yang berlimpah. Sebagaimana dijanjikan oleh Yesus, Klara “kehilangan nyawanya karena Yesus, namun memperolehnya” (lihat Mat 10:39).

Klara juga menyadari sepenuhnya, bahwa dengan pilihannya itu dia akan kehilangan apa-apa saja, dan akan memperoleh apa-apa saja, dalam Yesus. Dalam suratnya yang pertama kepada Agnes dari Praha – seorang puteri raja dari Bohemia – yang juga telah meninggalkan kehormatan duniawi agar dapat dapat bergabung dengan ordo biarawati yang belum lama dimulai oleh Klara –

Klara menulis sebagai berikut: “Memang pertukaran yang besar dan terpuji yakni: meninggalkan barang yang fana ganti barang kekal, mendapat yang surgawi ganti yang duniawi, mendapat seratus kali lipat ganti satu dan memperoleh milik berupa hidup kekal dan bahagia (Surat pertama Klara kepada Agnes dari Praha, 30 [terjemahan Pater C. Groenen OFM]).

Memang ada begitu banyak hal-hal duniawi yang menggoda kita dalam usaha kita menjauhi atau mencampakkan kehidupan yang ditawarkan Yesus kepada kita. Walaupun kita tidak terbujuk oleh ‘wah’-nya hal-hal duniawi tersebut, tetap saja hal-hal itu dapat menimbulkan rasa tidak puas dalam diri kita atas segala hal yang telah kita miliki, apakah harta kekayaan, ilmu pengetahuan, ketenaran dsb. Terlampau sering kita melihat hal-hal duniawi yang memang berwujud – yang kita ingin tinggalkan – secara khasat mata itu jauh lebih jelas. Sebaliknyalah hidup berserah-diri kepada Kristus yang penuh sukacita itu sukar untuk dilihat secara khasat mata.

Tanpa relasi yang akrab dengan Kristus, tanpa asupan makanan rohani dan penghiburan dari Dia, maka kita tidak dapat meninggalkan kehidupan lama kita demi mengikut Yesus. Namun apabila kita terserap ke dalam cintakasih-Nya, kita pun sungguh akan menemukan diri kita dalam suatu gaya hidup sebagaimana ditawarkan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mempersembahkan hari ini kepada-Mu. Penuhilah hatiku dengan suatu hasrat berkobar-kobar untuk menyerahkan setiap saat kehidupanku kepada-Mu saja. Amin.


Sumber : http://catatanseorangofs.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.