Senin, 25 Juli 2011

AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30).


Beban-beban kehidupan kadang-kadang dapat kelihatan seakan-akan datang tanpa henti-hentinya. Kita harus menyediakan kebutuhan primer seperti makan-minum dan tempat tinggal bagi keluarga kita. Dinamika keluarga dapat membuat kita tegang dan membesarkan anak-anak pada zaman yang penuh perubahan serta kompleks ini sudah jauh berbeda dengan zaman awal Republik tercinta kita ini.

Usia tua dan segala sakit-penyakit yang menjadi asesoris-nya dapat menyebabkan orang semakin terbenam dalam alam ketidakpastian, penderitaan fisik serta batin, dan tentunya biaya uang yang harus dikeluarkan. Namun demikian, lebih dari sebelumnya, kali ini kembali Yesus mengundang kita untuk memanggul salib-Nya: “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29). 

Yesus berjanji akan membantu kita menanggung/memikul beban-beban kita selagi kita menerima salib-Nya dan belajar dari Dia. Menerima salib-Nya berarti kita menjawab undangan-Nya untuk menjadi murid-Nya.

Pemuridan memang berarti mengikuti Yesus, menjalani proses agar dapat menjadi serupa dengan Dia, namun tidak berarti menjalankan hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan seturut sebuah daftar yang sangat panjang. Sekadar mengikuti do’s & don’ts list dapat membuat kita menjadi orang Farisi zaman modern. 

Kemuridan/pemuridan berarti kita memperkenankan Yesus untuk memancarkan terang-Nya atas pikiran-pikiran serta motif-motif kita dan menggerakkan kita agar menjadi taat dan patuh terhadap perintah-perintah-Nya. Dengan lemah lembut dan penuh bela rasa Dia akan menyatakan kasih-Nya dan membawa kesembuhan bagi kita.
Perjumpaan dengan Dia seperti itu dan mengalami kasih-Nya seperti itu sungguh akan mentransformasikan diri kita.  Situasi-situasi yang sulit malah menjadi peluang atau kesempatan bagi rahmat Allah untuk menggerakkan kita dan melalui kita, …… kepada orang-orang lain. 
Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih lesu dan berbeban berat, bukan saja yang ‘suci’ atau mereka yang memiliki kecenderungan patuh dalam kehidupan beragama. Siapa saja dapat menanggapi undangan Yesus itu, berdasarkan alasan ‘karena Siapa Allah itu dan bukan karena siapa diri kita’. Dengan kuasa Yesus dan pengantaraan-Nya, bahkan ketika Dia kelihatan jauh, Dia siap untuk menolong kita memikul beban-beban kita.

Yesus adalah seorang Pribadi yang dapat dipercaya dan dengan setia Dia akan memenuhi segala hal yang telah dijanjikan-Nya kepada kita. 

Kita dapat berada di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat bermeditasi atas satu/dua ayat Kitab Suci atau sebuah misteri Kristus. Kita dapat melakukan refleksi atas anugerah besar yang kita terima pada Ekaristi. Kita dapat mencari Hati Yesus pada diri orang-orang di sekeliling kita, melihat dalam diri orang-orang itu bagian dari kebesaran Allah, bukan sekadar sebagai seorang lain dengan siapa kita harus berhubungan. 

Oleh karena itu Saudari dan Saudariku, “Perkenankanlah Yesus hadir dalam diri anda. Dia rindu untuk menganugerahkan kepada anda hikmat-Nya, rahmat, kesembuhan dan bahkan mukjizat-mukjizat. Yang anda perlukan adalah minta kepada-Nya.” 

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.