Minggu, 24 Juli 2011

Belajar dari Sikap dan Tindakan Fransiskus :


Keras Terhadap Diri Sendiri, Bertindak Manusiawi Terhadap Sesama


Teks Renungan dari Legenda Maior St. Bonaventura, bab V, 1:

Ketika hamba Allah, Fransiskus, melihat, bahwa oleh teladannya amat banyak orang dibesarkan hatinya untuk memanggul salib Kristus dengan semangat yang berkobar-kobar, maka ia sendiri selaku panglima bala-tentara Kristus yang baik bersemangat juga untuk memperoleh palam kemenangan dengan mencapai puncak keutamaan yang tiada terkalahkan. Sebab ia memperhatikan perkataan Rasul itu: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”(Gal 5:24).
Untuk membawa perlengkapan senjata Kristus dalam tubuhnya Fransiskus membendung segala keinginan hawa nafsu dengan kekerasan tata-tertib yang demikian besarnya, sehingga ia hampir tidak menggunakan apa yang sangat perlu untuk pemeliharaan hidupnya.
Sebab biasa dikatakannya, bahwa sukarlah orang memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuhnya, tanpa menuruti kecondongan nafsu-nafsunya. Oleh karena itu di kala ia sehat, ia hampir tidak dan jarang makan makanan yang dimasak; dan apabila ia sesekali melakukan, maka makanan itu atau ditaburi abu atau seperti kebanyakan kali terjadi rasa bumbu dibuat hambar dengan dicampuri air. Apa gerangan hendak kukatakan tentang air anggur, kalau air saja, dikala rasa haus membakar kerongkongannya, hampir tidak cukup diminumnya?

Tiap-tiap kali diketemukannya cara-cara untuk dapat lebih berpantang, dan kian hari ia kian terlatih. Dan walaupun ia sudah mencapai puncak kesempumaan, namun ia selalu berbuat seakan-akan ia baru memulai; dan ia selalu menemukan sesuatu yang baru untuk menghukum nafsu daging dengan siksaan-siksaan. - Jika ia pergi ke luar, ia mengikuti sabda Injil; ia menyesuaikan diri dengan orang-orang yang menjamunya dalam hal makanan, tetapi segera ia kembali ke dalam, ia memelihara dengan saksama kecermatan keras puasanya.
Demikianlah dengan berlaku keras terhadap dirinya sendiri tetapi dengan bertindak manusiawi terhadap sesama, ia menunjukkan dirinya patuh kepada Injil Kristus dalam segala-galanya dan memberikan teladan yang membina tidak hanya dengan berpuasa, tetapi juga dengan makan.
Jika tubuhnya kelelahan, maka biasanya ia berbaring di atas tanah belaka; dan sering juga ia duduk dengan kepalanya bersandarkan sepotong kayu atau sebuah batu. Ia mengenakan sehelai jubah sederhana dan mengabdi kepada Tuhan dalam kedinginan dan ketelanjangan.

Renungan


Contoh teladan St. Fransisksus bercahaya begitu cemerlang, sehingga setiap orang yang berjumpa dengannya dapat merasakan pancarannya. Teladan hidupnya membuat dunia berubah, manusia bertobat dan banyak orang yang mau mencontoh teladannya itu. Hidup rohaninya penuh, sehingga hanya Tuhan Yesus sajalah yang perlu di dalam hidup sehari-hariannya. Akan tetapi semakin Fransiskus
menghayati Kristus di dalam hidupnya, semakin dia merasa belum apa-apa, semakin dia sadari betapa masih jauh hidupnya dari yang dicita-citakannya, mengejar kesempurnaan hidup.

Ketika Fransiskus menyadari bahwa contoh teladan hidup dan ajarannya membesarkan hati sesama manusia, dia semakin tekun mendalami hidupnya di dalam Tuhan, semakin pasrah dan mengandalkan diri pada Tuhan saja. Keinginan dan nafsu yang ada dalam dirinya dikuasai dan ditundukkannya. Pantang dan puasa dibinanya. Matiraga dan ulah tapa ditingkatkannya. Hidupnya diarahkan ke satu tujuan saja, yakni hidup di hadirat Tuhan. Tiada kesukaan, keinginan dan kepuasan lain, selain daripada Tuhan saja. Makanan yang dipandangnya sebagai sarana kehidupan tidaklah dianggap penting lagi, apalagi makanan yang enak-enak. Semuanya itu akan akan dibuatnya menjadi hambar bagi dirinya sendiri.

Sikap Fransiskus terhadap dirinya sendiri itu sangat keras dan tegas. Badan, yang dianggapnya sebagai saudara keledai tidaklah boleh dimanjakan, tetapi harus dapat menjadi sarana semakin dekat dengan Tuhan. Dalam rangka itu pantang, ulah tapa dan matiraga dilaksanakannya dengan keras. Sikap keras terhadap diri sendiri ini mewarnai juga sikapnya dalam mengejar kesempurnaan hidup. Dia sungguh bersikap keras terhadap dirinya sendiri. Hidup doa dan matiraga antara lain dijadikan sebagai sarananya, sebagai salah satu cara untuk mengikuti Kristus yang disalibkan. Partisipasinya dalam jalan salib Tuhan Yesus Kristus ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari yang harus dijalannya dengan mengekang diri, menguasai nafsu, keinginan dan berbagai kecenderungan duniawi.

Sekalipun sikapnya itu tegas dan keras terhadap diri sendiri, ternyata Fransiskus bersikap sangat manusiawi terhadap sesamanya. Sikap keras terhadap dirinya tidaklah dijadikan ukuran bagi sesamanya. Terhadap sesamanya dia dapat memaklumi dan bersikap sangat manusiawi. St. Bonaventura antara lain menyatakan bahwa St. Fransiskus itu “menunjukkan dirinya patuh kepada Injil Kristus dalam segala-galanya dan memberikan teladan yang membina tidak hanya dengan berpuasa, tetapi juga dengan makan”. Kita ingat akan berbagai kisah dalam Injil, Yesus makan di rumah Zakheus, Yesus makan dengan para pemungut cukai dan pendosa, dls. Makan bersama dengan mereka dapat dinilai sebagai suatu tindakan untuk menyelami kehidupan mereka, dan mengajak mereka untuk bertobat, menyambut Kerajaan Allah yang sudah dekat. Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja dan mengalahkan segala kuasa. Hanya Allah sajalah yang berkuasa dan menentukan kehidupan kita. Kalau Yesus berkenan menyelami bagaimanakah kehidupan kongkrit nyata manusia, maka Fransiskus yang mau mengikuti jejakNya tidak segan-segan pula memberikan contoh teladan dalam hal makan, minum dan berbagai perbuatan yang biasa dilaksanakan oleh manusia. Contoh teladan dan sikapnya terhadap sesama sangatlah manusiawi, mau menyelami sesamanya dan seluruh realitasnya. Mau memahami keadaan yang sebenarnya, dan tidak mau menuntut lebih dari itu.

Fransiskus tidak menuntut sesamanya untuk melakukan seperti yang diperbuatnya, juga sikapnya sangatlah lembut terhadap sesamanya. Fransiskus bersikap sangat manusiawi. Hal itu tidaklah berarti bahwa Fransiskus mentolerir tindakan jahat dan dosa. Fransiskus sangat membenci dosa dan perbuatan jahat, tetapi dia mencintai pendosa agar bertobat dan kembali kepada Allah. Dengan demikian sikap manusiawinya itu terarah ke dimensi spiritual, yakni pertobatan dan beriman yang teguh.

Sikap manusiawi Fransiskus membuka cakrawala baru, yakni hidup yang lebih memahami sesamanya dan sekaligus mengarahkan sesamanya itu ke hidup spiritual yang sebenarnya. Matiraga, ulah tapa dan puasa bukanlah tujuan hidup, tetapi hanya sebagai cara untuk semakin menusiawi, semakin menyadari
diri, semakin memahami sesamanya, dan sekaligus membangun hidup rohani yang kuat. Dengan demikian, semakin manusia itu beriman, semakin manusiawilah sikap dan tindakannya.

Sumber : http://ofm.or.id/belajar-dari-sikap-dan-tindakan-fransiskus-kemalasan-sebagai-sumber-segala-pikiran-jahat/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.