Minggu, 31 Juli 2011

Abraham, Juru Syafaat Kota

Abraham sedemikian terkenal di sepanjang zaman. Nama ini disebut dalam 27 kitab Perjanjian Lama dan Baru. Laki-laki yang terlahir di Ur Kasdim ini meninggal pada usia 175 tahun dan dikenang umat manusia sebagai bapa orang beriman. Injil Matius pun dimulai dengan menyebut nama Abraham sebagai leluhur Sang Mesias. "inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham." (Matius 1:1) Abraham adalah seorang pemimpin dari kaum keluarga yang bertumbuh menjadi sebuah kelompok masyarakat yang besar. Alkitab mencatat bahwa Abraham sangat kaya, banyak ternak, perak, dan emasnya (Kejadian 13:2). Kaum kerabatnya sangat besar, apalagi ketika masih hidup bersama Lot dan keluarganya, mereka sampai kekurangan lahan untuk tempat tinggal (Kejadian 13:6).

Abraham juga memunyai pasukan militer yang terdiri dari tiga ratus orang lebih (Kejadian 14:14). Abraham menjadi pemimpin sebuah bangsa yang bertumbuh semakin kuat. Tuhan sendiri berjanji "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2).

Sebagai seorang pemimpin yang sangat berpengaruh, Abraham sangat diperhitungkan. Abraham sangat disegani oleh raja-raja. Firaun menyambutnya dengan baik di Mesir (Kejadian 12:16). Kuasa Tuhan atas Abraham membuat Firaun tertimpa tulah ketika ia berniat mengambil Sara menjadi istrinya (Kejadian 12:17). Hal itu membuat sang raja ketakutan. Abimelekh, raja Gerar juga menjadi sangat ketakutan karena ditegur Tuhan manakala hendak menghampiri Sara (Kejadian 20:6-8).

Pasukan Abraham berhasil mengalahkan koalisi raja-raja Timur yang menyerang kota Sodom (Kejadian 14:1-2). Rupanya pasukan Abraham sangat terlatih dan jumlahnya cukup besar, sehingga mampu mengejar musuh sampai jauh (Kejadian 14:14-15). Abraham beserta para raja lain memimpin peperangan itu. Akhirnya, Lot beserta semua tawanan dan harta benda yang dirampas musuh berhasil direbut kembali (Kejadian 14:16). Raja Salem bernama Melkisedek juga sangat menghormati kepemimpinan Abraham. Sebagai seorang iman Allah yang mahatinggi, Melkisedek memberkati Abraham, katanya, "Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi." (Kejadian 14:19) Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Abraham diakui baik oleh kalangan sekuler maupun alim ulama.

Kehidupan Doanya

Keakraban hubungan Abraham dengan Tuhan terlihat bagaimana Tuhan berbicara kepada hamba-Nya ini. Ketika berumur 75 tahun, Tuhan memberi panggilan dan janji kepada Abraham dengan sangat jelas (Kejadian 12:1-4). Abraham pun taat, ia segera pergi ke negeri yang ditunjukkan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan merupakan kunci keberhasilan seorang pemimpin. Melalui kehidupan doa yang mendalam, kita akan banyak memperoleh pimpinan Tuhan. Sama seperti Abraham, Tuhan akan menunjukkan jalan bagi pelayanan kita, bisnis kita, lokasi kerja kita, dan lain sebagainya.

Bersama Tuhan, seorang pemimpin tidak akan kekurangan tuntunan.

Pemazmur berkata, "Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya" (Mazmur 23:3b). Abraham juga senang mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan (Kejadian 12:8; 13:4). Mezbah berbicara tentang bagaimana ia mempersembahkan korban syukur bagi Tuhan. "Memanggil nama Tuhan" menunjukkan pemahaman Abraham yang mendalam bagi pribadi Tuhannya. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diri dalam beberapa nama seperti Elohim atau Sang Pencipta (Kejadian 1:1), Jehovah atau Pribadi yang dengan sendirinya (Kejadian 2:4), Adonai atau Tuan (Kejadian 15:2).

Abraham memberi contoh kehidupan doa yang tidak egois, yang hanya meminta-minta kepada Tuhan. Pemimpin Kristen harus belajar untuk memberi korban syukur kepada Tuhan, menaikkan pujian dan penyembahan sebagai ukupan yang harum bagi Allah. Banyak pemimpin Kristen yang tidak memunyai pemahaman mendalam mengenai Tuhan. Ada pun Abraham memahami dengan jelas siapa Allah itu. Jika seorang pemimpin memunyai pemahaman bagus mengenai Tuhan, kehidupan doanya akan menjadi efektif. Ketika keuangan mulai seret, kita bisa berdoa kepada Tuhan yang adalah Jehova Jireh (Tuhan yang memelihara hidup kita). Menghadapi ketidakadilan, kita berseru kepada Jehovah Tsidkenu (Tuhan keadilan kita).

Pada waktu sakit, kita bisa berdoa kepada Tuhan yang adalah Jehovah Rapha (Tuhan yang menyembuhkan). Kehidupan doa Abraham membawa dirinya memperoleh kunjungan Allah dalam bentuk penampakan manusiawi (Kejadian 18:1-2). Abraham bergaul karib dengan Tuhan serta menerima berbagai pengalaman adikodrati bersama Tuhan. Banyak pemimpin mengeluh karena kesepian, tetapi Abraham memunyai sahabat sejati yang bergaul karib dengannya, yaitu pribadi Tuhan sendiri.

Syafaat untuk Kota Sodom

Abraham bukan hanya senang berdoa, ia adalah seorang pendoa syafaat. Abraham tidak hanya berdoa untuk istrinya, anak yang dijanjikan Tuhan, bisnisnya, dan kelompoknya sendiri. Ia bukan seorang yang egois. Abraham juga berdoa untuk kota Sodom yang jahat. Seringkali seorang pemimpin hanya berdoa untuk gerejanya, lembaganya, jemaatnya, dan keluarganya sendiri. Sebenarnya Tuhan memberikan beban bagi para pemimpin untuk mendoakan kota mereka. Firman-Nya, "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7) Untuk itulah sekarang dibangun "Jaringan Doa Sekota" dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Sangat menarik jika kita perhatikan bagaimana Tuhan berpikir. Tuhan bertanya kepada diri-Nya sendiri, "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan?" (Kejadian 18:17) Tuhan membeberkan rencana-Nya untuk menghancurkan kota Sodom dengan belerang dan api dari langit.

Tuhan akan menyatakan hal-hal besar kepada pemimpin yang tekun berdoa. Kata Tuhan, "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui (Yeremia 33:3). Banyak pemimpin salah memprediksi masa depan, melakukan perencanaan jangka panjang dengan perhitungan yang menduga-duga. Tetapi dengan doa yang kuat, mata rohani kita menjadi tajam untuk melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan. Ketika mendoakan kota Sodom, Abraham melakukan tawar-menawar agar Tuhan membatalkan murka-Nya (Kejadian 18:23-32). Artinya, Tuhan sangat menghargai pandangan, argumentasi, dan masukan dari hamba-Nya. Doa syafaat Abraham bersifat dialogis, dua arah secara dinamis. Hal itu juga menunjukkan bagaimana ia sungguh berjuang demi keselamatan kotanya. Jenis pemimpin seperti inilah yang dicari Tuhan, seorang yang mau memperjuangkan nasib kotanya melalui doa. Demikian firman Tuhan, "Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya" (Yehezkiel 22:30).

Diambil dari:
Judul buku
:
Mezbah Doa Para Pemimpin
Judul artikel
:
Abraham: Juru Syafaat Kota
Penulis
:
Haryadi Baskoro
Penerbit
:
Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
Halaman
:
3 -- 8

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.