Minggu, 24 Juli 2011

Contoh Teladan, Cintakasih dan Integritas Diri

( Belajar dari Sikap dan Tindakan Fransiskus )

Teks Renungan dari karya Thomas dari Celano, Fransiskus dari Assisi: Riwayat Hidup II, Bab XV, 22:

Pada suatu malam, ketika lain-lainnya beristirahat, berteriaklah salah seorang pengikutnya: “Mati aku, saudara-saudara, sunguh-sungguh, mati aku karena kelaparan!” Segera gembala yang utama itu bangun dan bergegas-gegas menolong domba yang sakit dari antara kawanannya dengan penawar yang semestinya. Ia menyuruh siapkan meja penuh dengan makanan yang enak-enak, walaupun sederhana, sedang air menggantikan anggur yang tidak ada, seperti sering kali terjadi. Ia sendiri pertama-tama mulai makan dan agar saudara itu jangan merana karena malu, maka diajaknya pula saudara-saudara lainnya untuk ikut serta dalam pelayanan cintakasih itu.

Setelah menyantap makanan itu dengan takwa kepada Tuhan, maka untuk tidak menyalahi kewajiban cintakasih itu, bapak tersuci lalu menceriterakan perumpamaan yang panjang lebar kepada putera-puteranya tentang keutamaan keseimbangan hati. Ia menyuruh mereka, agar mereka menyampaikan kepada Allah kurban yang dibubuhi garam dan menasehati mereka dengan tegas, agar masing-masing menimbang kekuatannya sendiri dalam pengabdian kepada Allah.

Ditambahkannya, bahwa adalah sama salahnya mengurangi tanpa tahu batas apa yang perlu bagi tubuh, seperti memberi tubuh berlebih-lebihan karena kerakusan. “Bilamana aku telah makan, saudara-saudara terkasih,” sambungnya, “maka ketahuilah, bahwa itu terjadi karena pertimbangan seksama dan bukan karena nafsu yang tak terkekang, sebab cintakasih persaudaraan menuntut itu. Biarlah cintakasih itu menjadi contoh bagi kalian, karena makanan itu melayani kerakusan, sedangkan cintakasih itu melayani roh.”

Renungan:

Ketika St. Fransiskus masih hidup di dunia ini, telah banyak orang yang mau mencontoh hidupnya, baik semangat hidup maupun cara lahiriahnya. Semangat hidup Fransiskus memancar dan mempengaruhi begitubanyak orang, bahkan ketika dia masih hidup saja, ada ribuan orang telah tertarik dan mengikuti semangat dan cara hidupnya. Mengikuti cara hidup dan semangatnya merupakan suatu yang sangat positif, karena tujuan hidupnya tetaplah mau mengikuti Kristus Yesus. Lainhalnya dengan orang yang hanya mau mengikuti segi lahiriahnya saja.

Kisah yang diceritakan oleh Thomas dari Celano sangat menarik. Salah seorang saudara yang begitu terpukau melihat Fransiskus, langsung jatuh hati untuk mengikutinya secara lahiriah. Dan yang mau ditiru itu tak lain daripada matiraga dan puasanya. Fransiskus, yang telah terlatih dan terbiasa makan hanya sedikit saja, dan banyak ulahtapa, mau ditiru oleh salah seorang saudara. Rupanya dia berfikir, kalau mampu mengikuti dan meniru Fransiskus, akan sempurnalah hidupnya. Pemikiran ini benar dia laksanakan. Dia berulah tapa dan puasa dengan kerasnya, seperti Fransisikus.

Apa yang terjadi? Di tengah malam, ketika para saudaranya sedang enak-enaknya tidur, dia tidak tahan lapar. Dia kelaparan benar-benar dan berteriak-teriak: “Mati aku, saudara-saudara, sunguh-sungguh, mati aku karena kelaparan!” Fransiskus memahami dengan baik para saudaranya. Maka, kata Thomas dari Celano: “Segera gembala yang utama itu bangun dan bergegas-gegas menolong domba yang sakit dari antara kawanannya dengan penawar yang semestinya. Ia menyuruh siapkan meja penuh dengan makanan yang enak-enak, walaupun sederhana, sedang air menggantikan anggur yang tidak ada, seperti sering kali terjadi. Ia sendiri pertama-tama mulai makan dan agar saudara itu jangan merana karena malu, maka diajaknya pula saudara-saudara lainnya untuk ikut serta dalam pelayanan cintakasih itu”. Sekalipun suasananya malam, namun Fransiskus mendidik para saudaranya dengan cermat. Dia memberi contoh teladan. Setelah meja makan disiapkan dan dipenuhi dengan makanan, dia memulai menikmati hidangan yang ada. Juga para saudaranya diajak makan. Hal ini terjadi untuk mendidik saudara yang mau mati kelaparan itu.

Tanpa ragu apapun, saudara yang lapar itu ikut menikmati makanan yang ada. Dan persis dalam situasi yang demikian itu, St. Fransskus menunjukkan jalan, agar tidak sembrono dalam menaggapi hidup ini. Artinya tetap memperhatikan kekuatan tubuh, bila mau matiraga dan bertapa. Fransiskus tidak mau mempermalukan saudara yang kelaparan akibat ulahtaapa yang keras itu, tetapi secara manusiawi dia memberikan suatu penghiburan, teguran yang mengarahkan ke pertobatan dan contoh teladan yang membuka hati sesamanya akan kasih Tuhan.

Thomas dari Celano menulis, apa yang dilaksanakan oleh Fransiskus setelah bersantap memulihkan kekuatan orang yang hampir mati kelaparan itu. Dalam hidup ini sangatlah perlu adanya keutamaan keseimbangan hati. Orang dapat menempatkan diri pada tempatnya yang tepat. Orang menyadari dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Orang dapat memahami sesamanya. Dan orang harus mengenal dirinya sendiri. Thomas dari Celano menceritakan: “Setelah menyantap makanan itu dengan takwa kepada Tuhan, maka untuk tidak menyalahi kewajiban cintakasih itu, bapak tersuci lalu menceriterakan perumpamaan yang panjang lebar kepada putera-puteranya tentang keutamaan keseimbangan hati.

Ia menyuruh mereka, agar mereka menyampaikan kepada Allah kurban yang dibubuhi garam dan menasehati mereka dengan tegas, agar masing-masing menimbang kekuatannya sendiri dalam pengabdian kepada Allah”. Diharapkan kalau orang mempunyai keseimbangan dalam keutamaan, orang akan mengenal kekuatannya sendiri dalam pengabdiannya kepada Allah dan pelayanannya terhadap sesama manusia. Diharapkan orang akan mengenal dirinya sendiri dengan baik. Dan konsekwensinya tidak akan menyusahkan orang lain dalam hidupnya sehari-hari.

Oleh karena itu kata Thomas dari Celano dalam riwayat hidup St. Fransiskus itu: “sama salahnya mengurangi tanpa tahu batas apa yang perlu bagi tubuh, seperti memberi tubuh berlebih-lebihan karena kerakusan. “Bilamana aku telah makan, saudara-saudara terkasih,” sambungnya, “maka ketahuilah, bahwa itu terjadi karena pertimbangan seksama dan bukan karena nafsu yang tak terkekang, sebab cintakasih persaudaraan menuntut itu. Biarlah cintakasih itu menjadi contoh bagi kalian, karena makanan itu melayani kerakusan, sedangkan cintakasih itu melayani roh”.

Pesan St. Fransiskus ini kiranya harus memberikan semangat kita dalam mengabdi kepada Tuhan. Cintakasih kita haruslah menjadi contoh teladan bagi sesama. Dalam rangka itu, makan minum ataupun ulah tapa dan matiraga haruslah dipandang sebagai suatu sarana untuk semakin dekat dengan Tuhan, dan bukannya menyiksa tubuh, sehingga akan bersengsara dan tidak mampu memuji Tuhan. Sarana untuk semakin mengabdi kepada Tuhan memang penting, akan tetapi haruslah ada keseimbangan keutamaan dalam hidup ini, agar semuanya dapat berjalan dengan sebaik mungkin, tanpa merepotkan sesama kita.

oleh: Martino Sardi, OFM
http://ofm.or.id/belajar-dari-sikap-dan-tindakan-fransiskus-contoh-teladan-cintakasih-dan-integritas-diri/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.