Rabu, 10 Agustus 2011

Uang Bukan Tuan Kita

Salah satu ciri masyarakat postmo berpusat pada benda, materi, dan harta milik. Untuk mendapatkan semua ini, peran uang sangatlah penting. Status sosial seseorang pun diukur dari banyaknya harta benda dan kekayaan. Kita hidup dalam budaya masyarakat dengan sistem dunia seperti ini. Bagaimana kita menyikapinya? Apa pula kata Alkitab tentang materi, dan keinginan memburu uang?

Fakta membuktikan bahwa komunitas punya kekuatan yang besar. Kekuatan tersebut dapat termanifestasi secara positif atau negatif, membangun atau menghancurkan. Dalam kehidupan sehari-hari hal itu mudah kita saksikan. Sebagai contoh yang terjadi akhir-akhir ini. Perhatikan munculnya komunitas-komunitas ekstrem yang kekuatannya tak dapat disepelekan. Melalui komunitas tersebut modus operandi disusun dengan sangat rapi. Akibatnya bom meledak di mana-mana. Teror disebar kepada banyak orang. Trauma melanda masyarakat luas. Memang jumlah kelompok itu tidak banyak, namun mereka punya kekuatan karena berjejaring, membentuk komunitas.

Miliaran orang di seluruh dunia saling berlomba mengumpulkan harta benda dan kekayaan sebanyak-banyaknya. Sistem yang tengah bekerja begitu kuatnya sehingga membuat orang tak lagi bisa bahagia dan puas dengan dimilikinya. Orang juga akan dipacu untuk mendapatkan, dan terus-menerus menginginkan segala sesuatu yang belum/tidak mereka miliki. Memang faktanya, sekarang ini sulit bagi seseorang untuk bisa merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya. Di abad postmo ini, orang harus berupaya ekstra keras untuk bisa merasa puas. Juga, harus bergumul begitu hebat untuk meraih kebahagiaan.

Tentu, tak ada yang salah dengan mencari uang. Asal saja, tidak menyimpang dari hukum negara dan prinsip firman Allah. Prinsip semua untukku, dan tak ada yang untuk orang lain, jelas merupakan sesuatu yang tak bermoral. Seseorang yang memiliki prinsip dan berpegang teguh pada nilai-nilai Alkitab akan menjadi penatalayan yang baik. Orang tersebut akan menemukan kebahagiaan di saat ia bisa berbagi dengan orang lain. Ia akan merasa puas dengan kehidupannya dan semua yang dihasilkannya.

Saat ini banyak orang merasa bingung, frustrasi, dan tidak bahagia dengan kehidupan mereka. Namun, selama ada di dalam Kristus, kita memunyai kemampuan untuk bisa merasa puas. Hal ini memiliki arti dan nilai yang begitu besar ketika semua orang di sekitar kita tak memiliki kesempatan untuk bisa merasakannya. Kita bisa merasa puas meski hanya punya makanan dan pakaian secukupnya. Kita memiliki harta lain juga yang amat besar nilainya bila disebutkan. Tubuh sehat dan tempat berteduh, termasuk juga dalam harta tersebut. Bagaimana pula dengan cinta dan kehangatan yang diberikan keluarga ataupun sahabat? Ini pun harta yang tak ternilai. Banyak orang tak menyadari apa yang sesungguhnya berarti dalam hidup ini.

CINTA UANG?
Kisah Para Rasul 16:16-24 mengisahkan sebuah peristiwa yang dialami Rasul Paulus. Bersama rekannya Silas, Paulus dipukuli berkali-kali, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Filipi. Perhatikan, apa yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa ini? Ketika mereka berada di tempat sembahyang, Paulus mengusir roh jahat dari seorang hamba perempuan. Dengan dibebaskannya perempuan ini dari roh jahat, maka membuatnya tak mampu lagi melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang tenung. Inilah pokok permasalahannya. Tuan-tuan (para penguasa hidup) perempuan tersebut menjadi kesal dan marah. Sebab sumber utama penghasilan mereka dari perempuan yang malang ini, tiba-tiba saja berhenti. Mereka kemudian menyalahkan Paulus dan Silas. Oleh karena itu, Paulus dan Silas mengalami perlakuan amat kejam, yang sangat sulit dibayangkan.

Dari kisah di atas, tampak jelas bahwa cinta uang menjadi hal yang utama bagi terbentuknya sifat-sifat dan perilaku jahat. Perempuan itu menjalani kehidupan pahit dan mengerikan akibat perbudakan yang dilakukan para tuannya. Mereka mendapatkan banyak uang dari hasil profesi perempuan ini. Namun, sepertinya itu bukanlah masalah bagi mereka. Jadi, benarlah apa yang dikatakan Paulus, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:9-10).

SIAPA AKU, BUKAN APA YANG KUMILIKI
Ini tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang itu penting, karena dapat memelihara kehidupan kita. Jika dibelanjakan dengan cara yang benar, pada benda-benda yang benar, dan di tempat yang benar, uang dapat melakukan banyak hal yang mendatangkan kebaikan. Allah lebih menekankan pada cara yang kita gunakan di dalam mencari uang. Amsal 15:6 berkata, “Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.”

Perhatikan, siapa diri kita jauh lebih penting daripada apa yang kita miliki. Jika seseorang mengorbankan semua nilai moral dan kebenaran demi mendapatkan uang, ia telah melakukan hal paling bodoh dalam hidupnya. Banyak orang melakukan praktik-praktik yang tak jujur dan tercela akibat tamak akan uang. Banyak orang mengalami kesuksesan yang didasarkan atas motif yang salah. Istilah populernya, menghalalkan segala cara demi memperoleh uang. Seorang ibu berkata kepada putranya, “Aku tak mau melakukan sesuatu, sekecil apapun itu, yang kelak bisa menghalangiku masuk surga.” Perkataan ibu ini tak pernah dilupakan putranya. Perkataan tersebut telah membimbing perjalanan hidup pria ini dari hari ke hari.

Budaya dan masyarakat kita telah menipu kita. Ketika kita punya benda-benda tertentu, kita akan merasa bahagia. Namun, kita harus menolak pandangan dunia tentang kekayaan, harta benda, dan kebahagiaan seperti ini. Kita tidak harus memiliki semuanya ini. Tak perlu mengenakan pakaian yang mahal. Tak harus mengendarai mobil mewah merk tertentu. Tak mesti beli rumah lebih besar lagi jika yang ada sekarang pun masih cukup nyaman dihuni. Juga, tak usah punya belasan kartu kredit dalam dompet. Jangan biarkan dunia mendikte kita tentang hal-hal yang harus ada dalam hidup kita. Jangan biarkan pula dunia menyecar kita dengan gambaran kesuksesan yang semata-mata diukur dari harta benda dan kekayaan materi. Sukses artinya melakukan apa yang dikehendaki Allah dalam hidup kita.

Rasul Paulus menulis surat kepada orang-orang percaya di Filipi dengan sebuah statement yang amat terkenal, seperti tertulis di Filipi 4:11-12. Akan tetapi, ia tak cuma menekankan betapa perlunya hidup dengan rasa puas seperti itu. Pada ayat-ayat sebelumnya, ia juga menegaskan agar kehidupan setiap orang percaya selalu dipenuhi dengan damai sejahtera dan ucapan syukur, bersukacita senantiasa di dalam Tuhan, menjalani hidup dengan melakukan banyak kebaikan, tidak khawatir tentang apapun juga, serta memikirkan segala hal yang positif (ayat 4-8).

Menginginkan kekayaan yang besar, dengan menghabiskan waktu seumur hidup demi mengejar kelimpahan dan kemakmuran, hanyalah menyia-nyiakan waktu di dunia yang telah Allah berikan kepada kita. Namun, menggunakan uang sebagai sarana, bukan sebagai tujuan guna menumpuk harta benda dan materi, merupakan jalan terbaik yang harus diambil.

Di dalam Kristus, setiap orang percaya telah diberi posisi bergengsi, terhormat, dan istimewa sebagai ahli waris Allah. Kita tidak perlu menunggu sampai kita berpulang ke Rumah Bapa agar warisan yang telah Dia janjikan itu menjadi kenyataan. Alkitab menyatakan bahwa Bapa Surgawi menganugerahkan berkat- Nya kepada kita setiap hari. Dengan demikian, kita pasti dimampukan menjalani hidup di dunia ini tanpa beban, godaan, dan keinginan yang dapat menjerat.

Sumber  :  http://www.ebahana.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.