Sabtu, 20 Agustus 2011


“Semua Orang Bisa Naik Kelas”

Semua orang pasti bisa “naik kelas”, karena “naik kelas” itu bukan hak dominasi kelompok tertentu. Terlebih setiap orang ada di jalur perlintasan yang sama, naik kelas tidak memerlukan jalan memotong.

Mereka yang sebelumnya mantan tukang cendol, kenek angkot, penjual sandal di kaki lima, kuli bangunan dan anak tukang becak tidak mustahil jika pada akhirnya berdiri sejajar dengan para orang ternama dan sukses di jagad ini.

Sebuah kelompok band asal Lampung dapat kita jadikan contoh. Anggota personil band tersebut rata-rata berasal dari ekonomi bawah dan berhasil “naik kelas”. Walaupun saat menjadi bintang tamu dalam acara Kick Andy host acara Andy F Noya menilai wajah mereka “amit-amit…..”

Berbagai cemoohan lain pun kerap mereka terima. Tetapi apapun yang mereka lakukan, mereka adalah pribadi-pribadi yang meraih kesuksesan bukan karena wajah rupawan, keluarga kaya ataupun gelar akademis. Namun karena kerja keras dan semangat juang yang gigih.

Sekalipun wajah dan gaya hidup mereka dianggap tidak “sekelas” namun pada kenyataannya lagu-lagu band tersebut mendapat tempat dihati semua kalangan masyarakat dan tenar. Sukses.

Sebuah grup band atau siapapun selalu bisa naik kelas. Anda dan saya juga selalu bisa naik kelas. Dengan memanfaatkan cemooh dan kritik, perendahan dan penilaian di bawah standar sebagai anak tangga. Justru karena melaluinya kita dapat menampilkan diri kita secara bebas.

Biarkan orang lain melihat kita secara terbatas tetapi buatlah diri kita selalu tampil tanpa batas. Berterima kasihlah kepada mereka yang masih memberikan waktu nya untuk memberikan kritik dan penilaian bagi kita.

Corrie Ten Boom pernah berkata: “Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita yang bekerja tanpa bayaran”. Oleh karena itu tanggapilah kritik bahkan cemoohan sekalipun bukan dengan kemarahan.

Karena dari dalamnya kita bisa mendapatkan apa yang sulit untuk kita temukan, dan melihat apa yang sulit untuk dapat kita lihat. Bukankah pisau tidak pernah bisa menajamkan dirinya sendiri, dan mata tidak pernah bisa melihat dirinya sendiri.

Setiap kita pasti bisa “naik kelas”, untuk itu buanglah semua belenggu yang ada di benak kita yang pernah orang lain lontarkan bagi kita: berpikirlah bebas, berani dan kreatif.

Beranilah menegakkan kepala kita: lakukan apa yang perlu kita lakukan, jangan pernah menunda dan buatlah gerakan. Mengambil waktu untuk sebuah perencanaan itu baik, tetapi jika tiba saatnya untuk melakukan sesuatu maka berhentilah berpikir dan majulah dengan semangat dan keyakinan.

Kahlil Gibran mengungkapkan : “Semangat adalah gunung api yang puncaknya tidak pernah ditumbuhi kebimbangan”.

Kesampingkan pikiran tentang kegagalan, tetapi fokuskanlah diri kita kepada keberhasilan. Yakinkan diri kita bahwa saat itu kita sedang melakukan sebuah perjalanan yang menyenangkan menuju “kelas” yang lebih tinggi daripada “kelas” sebelumnya.

Saat itulah kita sedang melakukan sebuah perjalanan tanpa membawa ide lama yang acapkali menghalangi diri kita untuk dapat merealisasikan ide baru. Jika ada hal-hal yang tampak menyulitkan, yakinlah bahwa masa sulit itu tidak akan pernah bertahan lama.

Kita akan selalu dapat melampauinya. Ingatlah kesulitan sehari hanya cukup untuk sehari, karena setiap hari yang kita jalani adalah hari yang baru dalam hidup kita.

Selamat mengukir prestasi dan menikmati “naik kelas” di setiap kesempatan.


Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.