Rabu, 31 Agustus 2011


3 Tingkatan Kasih

By  : 
-         St. Thomas Aquinas in the book “Christian Perfection and Comtemplation” dan Summa Theology, II-II, q.34, a.9.
-         Reginald Garrigou Lagrance in the book St. John of the Cross.

St. Thomas Aquinas memberikan analogi tingkatan kasih, seperti manusia yang dapat bertumbuh dari bayi sampai dewasa, yaitu dimulai dari bayi yang tidak dapat menggunakan akal budinya, kemudian berkembang kepada tahapan seseorang dapat menggunakan akal budi (age of reason), yang kemudian disusul dengan tahapan dewasa, yang dilengkapi dengan akal budi dan juga kesiapan untuk berkeluarga.

Hal ini sama seperti tingkatan kasih, yang melalui tahap perkembangan. Secara prinsip, kasih dapat bertumbuh terus sampai mencapai puncaknya di dalam Kerajaan Sorga. Jadi, selama kita di dunia ini, maka kasih kita dapat terus bertumbuh semakin sempurna, yang dapat dibagi menjadi tiga:

A.    Tingkatan pemula (beginners atau purgative).
Pada tingkatan ini, seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam dosa berat, dan juga berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan berbuat dosa (concupiscences).

Dalam tahap ini, seseorang masih berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang dulunya sering dia lakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama.

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa yang sama, menghindari tempat-tempat yang dapat membangkitkan keinginan untuk berbuat cabul, menghindari kesempatan-kesempatan untuk dapat melakukan dosa tersebut. Orang ini menyadari bahwa kalau dia jatuh ke dalam dosa berat yang sama, maka dosa berat tersebut akan menghancurkan kasih.

Dengan kata lain, orang-orang dalam tingkatan ini senantiasa berusaha menghindari dosa berat.

B.     Tahap kedua (Illuminative Way).
Pada tahap ini, seseorang bukan lagi berfokus pada menghindari dosa, melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan.

Mereka membuat kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Seseorang pada tahap ini mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk dapat semakin memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dia tidak lagi memikirkan untuk menghindari dosa pornografi, namun dia mulai berfikir, bagaimana dia dapat memberikan kebaikan kepada sesama, sehingga dia dapat membantu orang-orang yang mempunyai ketergantungan terhadap pornografi.

Orang yang dalam tahap ini, bukan hanya berfikir untuk menghindari dosa berat, namun juga dia mencoba mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Dia mencoba untuk menghilangkan kecenderungan-kecenderungan di dalam dirinya yang menghalanginya untuk bersatu dengan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih dengan cara berbuat kasih.

c. Tahap sempurna (Univitive Way / Heroic Love).
Dalam tahap ini, seseorang secara sadar tidak mau dan dengan segala kekuatannya dia berusaha untuk menghindari dosa-dosa yang kecil (venial sins) sekalipun.

Walaupun kadang dia masih mengalami dosa kecil, namun dosa-dosa kecil ini terjadi dengan tidak sengaja. Secara aktif dia mencoba menghilangkan apa yang tidak sempurna dalam dirinya, sehingga seluruh akal budi, perbuatan dan perkataannya bertujuan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Dia setia terhadap inspirasi dari Roh Kudus, dan menjalankan semua hal, termasuk hal-hal kecil dengan kasih yang besar. Dia sekaligus lemah lembut namun juga kokoh dalam imannya. Dia memandang rendah hal-hal dunia ini, dan secara aktif dan terus-menerus mempunyai kontemplasi terhadap hal-hal ilahi. Dia mempunyai hati yang besar (magnanimity), sehingga membuatnya dapat menyingkirkan hal-hal dunia agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Bahkan, dia menginginkan persatuan abadi dengan Kristus melebihi apapun di dunia ini.

Dalam tahap ini, seseorang juga mempunyai derajat kerendahan hati yang sempurna. Walaupun kehidupan spiritualitasnya berkembang dengan sempurna, namun dia justru melihat dirinya yang paling rendah dari manusia lain. Karena hidupnya senantiasa dipenuhi dengan sinar ilahi, maka secara jelas dia dapat melihat apa-apa yang tidak sempurna dalam dirinya secara jelas dan pada saat yang bersamaan dia melihat Allah yang adalah segalanya.

Dalam kondisi seperti inilah, maka orang dalam derajat kasih yang tertinggi juga akan mempunyai derajat kerendahan hati yang tertinggi.

Yang mungkin tidak kalah pentingnya adalah tiga tingkat kesempurnaan kasih di atas juga berhubungan dengan kasih terhadap sesama.
Dalam tingkat awal, dia akan mengasihi orang -orang yang dia kenal tanpa mengabaikan orang-orang lain.
Di tingkat ke dua, dia dapat mengasihi orang-orang asing, yang tidak mereka kenal.
Dan di tingkat kesempurnaan, dia dapat mengasihi musuh-musuh mereka.

Yang perlu juga menjadi catatan adalah seseorang dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi, namun orang juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang paling awal.

Hanya rahmat Allah dan kesediaan untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah, dan juga tujuh karunia Roh Kudus, yang memungkinkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan kasih.

Demikian, apa yang dapat saya jelaskan tentang tingkatan kasih, seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus, Dionisius, St. Thomas Aquinas, St.Yohanes Salib.

Semoga, kita yang masih dalam tingkat pertama maupun kedua, dapat terus bertumbuh di dalam kasih sampai mencapai kesempurnaannya di dalam Kerajaan Sorga.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Sumber  :  http://katolisitas.org/2011/08/15/tiga-tingkatan-kasih/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.