Senin, 27 Juni 2011

Waktu Teduh, Waktu Bersama Allah

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar.
Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35).

Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai
Juruselamat pribadinya, merupakan cabang dari Pokok Anggur yang benar (Yohanes 15:15). Cabang yang menempel pada pokok anggur akan mendapat aliran bahan makanan terus-menerus dan berbuah lebat.

Apa akibatnya bila cabang tersebut tidak menempel atau dipotong dari pokok anggurnya? Cabang tersebut akan layu, daunnya menguning, dan kemudian mati kekeringan.
Cabang yang menempel pada pokok angggur merupakan gambaran dari pentingnya hubungan pribadi kita dengan Allah setiap hari. Persekutuan ini akan memberikan makanan dan kekuatan bagi kita untuk bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan ini.

Apakah Waktu Teduh itu?

Waktu teduh adalah waktu khusus yang disediakan bagi Tuhan setiap hari. Dalam waktu teduh ini kita “bertemu” dengan Tuhan, berbicara dengan-Nya dalam doa, membaca, merenungkan, dan melakukan apa yang akan dikatakan-Nya melalui firman-Nya.

Waktu teduh merupakan kesempatan bagi kita untuk merenungkan keberadaan Allah dan hubungan pribadi kita dengan-Nya. Waktu teduh merupakan respons kita terhadap kerinduan Allah untuk bersekutu dengan anak-anak-Nya. Waktu teduh adalah persekutuan yang indah dengan Tuhan setiap hari, dan merupakan penyerahan diri secara baru pada hari itu.

Mengapa Kita Perlu Waktu Teduh?

Ada lima alasan mengapa kita perlu mengadakan waktu teduh.

1. Teladan dari Tuhan Yesus. 
Tuhan Yesus menunjukkan betapa Dia menikmati persekutuan dengan Bapa-Nya. Meskipun Tuhan Yesus amat sibuk hari sebelumnya, keesokan harinya Dia bangun pagi-pagi dan menyediakan waktu bagi Bapa-Nya (Markus 1: 21-37). Jika Yesus saja memerlukan waktu teduh, apalagi kita.

2. Tuhan merindukan persekutuan dengan kita. 
Ini adalah suatu hal yang luar biasa, bahwa pencipta langit dan bumi benar-benar menginginkan persekutuan dengan ciptaan-Nya. Tuhan merindukan kita seperti seorang ibu yang merindukan anaknya yang sedang menuntut ilmu jauh darinya.

3. Tanpa waktu teduh yang teratur, kita tidak dapat bertumbuh dalam iman.
Orang-orang saleh yang dipakai Tuhan dari abad ke abad, semuanya mempunyai waktu teduh yang teratur, misalnya Daud (Maz-mur 5:4), Daniel (Daniel 6:11), dan lain-lain.

4. Waktu teduh mengoreksi kehidupan kita. 
Pembacaan dan perenungan terhadap firman Tuhan pada waktu teduh akan membukakan aspek-aspek kehidupan kita, dan memahami standar kerohanian yang dituntut oleh Allah: Bagaimana kehidupan kristiani yang berkenan, apa yang harus saya lakukan, dan lain-lain.

5. Waktu teduh membuat kita peka. 
Hubungan pribadi yang akrab dengan Dia akan menimbulkan kepekaan di dalam diri kita terhadap kehendak-Nya. Kepekaan dan pemahaman akan kehendak Allah akan menghasilkan perubahan sikap, karakter, penempaan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Kapan Waktu Teduh Dilakukan?

Hubungan seorang anak dan orangtuanya dimulai saat anak tersebut masih kecil, bahkan ketika anak tersebut masih di dalam kandungan. Sejak kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita, hubungan pribadi kita dengan-Nya melalui waktu teduh merupakan sesuatu yang alami dan sangat kita butuhkan.
Apakah waktu teduh harus dilakukan pada pagi hari? Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mengatakan bahwa waktu teduh harus dilakukan pada pagi hari walaupun Dia melakukannya pada pagi hari (Markus 1:35). Yang lebih penting adalah bagaimana kita memiliki dan mengkhususkan waktu tertentu untuk mengadakan waktu teduh.

Saran-saran Praktis untuk Berwaktu Teduh

1.   Sediakan waktu yang teratur setiap hari. Sebaiknya pada pagi hari sebelum kita memulai kegiatan hari itu. Mulailah dengan 15 menit. Sesudah kebiasaan itu tertanam, sediakanlah waktu yang lebih lama.

2.   Carilah tempat yang tenang, hindari suara-suara yang dapat mengganggu, misalnya suara radio, tape recorder, dan lain-lain.

3.   Tenangkan hati dan harapkan kehadiran Tuhan. Tujuan waktu teduh adalah untuk memenuhi kebutuhan kita akan Tuhan, mengisi “tangki” rohani kita se-belum perjalanan pada hari itu dimulai.

4.   Bacalah Alkitab dengan mengikuti buku penuntun seperti Renungan Harian, Santapan Harian, Saat Teduh,  yang dapat Anda peroleh di toko-toko buku kristiani. Atau renungkanlah satu bagian dari Alkitab selama satu minggu, misalnya Matius 5-7, Yohanes 15, 17, dan lain-lain.

5.   Tanyakan kepada diri kita pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

 Adakah firman Tuhan hari ini berbicara tentang sifat-sifat Allah, hubungan kita dengan-Nya, atau hubungan kita dengan sesama?
 Apakah hal-hal praktis yang harus saya ingat dan taati sepanjang hari ini dan hari-hari selanjutnya?
 Adakah sifat-sifat buruk dan dosa yang harus kita buang?
 Apakah bagian Alkitab ini memberikan suatu teladan kepada kita untuk menghadapi kehidupan?
 Apakah bagian Alkitab ini memberi peringatan atau larangan tertentu kepada kita?
 Tindakan-tindakan konkret apa yang harus kita lakukan?

6.   Tulis dalam buku khusus apa yang Tuhan ajarkan setiap hari. Catatan khusus ini membantu kita untuk mengingat kembali dan meneguhkan apa yang telah kita dapat pada waktu teduh. Catatan ini juga membantu kita saat mengevaluasi diri.

7.   Doakan apa yang telah kita dapatkan melalui waktu teduh hari itu, juga bawa dalam doa segala tindakan konkret yang akan kita lakukan hari itu dan serah-kanlah diri kita pada pimpinan Tuhan.

8.   Biasakan untuk mengevaluasi setiap hari (sebelum tidur atau keesokan harinya) apa yang Tuhan lakukan dalam diri kita. Evaluasi akan membantu kita melihat sejauh mana kita telah melakukan perintah-Nya, dan menyerahkan segala kelemahan kita kepada-Nya.


Saran bacaan lebih lanjut:
-    Bagaimana Bersaat Teduh (Warren & Ruth Myers), diterbitkan oleh Kalam Hidup.


(Dikutip dari buku “Aku Mau Bertumbuh” karya Panitia KATA Yogyakarta, hal 36-40)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.