Selasa, 27 September 2011

Yang Terkecil Diantara Kamu Sekalian, Dialah Yang Terbesar
Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50)
Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya.
Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2).
Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka? 
Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi ‘persaingan tidak sehat’ satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48).

Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah. 

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7).

Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19).
Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). 

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29).

Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.” 


Sumber  : 
http://catatanseorangofs.wordpress.com/2011/09/25/yang-terkecil-di-antara-kamu-sekalian-dialah-yang-terbesar/


Siapakah yang Terbesar ?

Apa yang dimaksudkan dengan “terbesar dalam kerajaan Allah”? Para murid Yesus yang paling akrab dengan diri-Nya, berpikir bahwa posisi mereka yang berada dekat dengan Yesus membuat mereka “besar”. Bagaimana pun juga, bukankah mereka sahabat-sahabat Yesus, sang nabi besar dan pembuat mukjizat ternama dari Nazaret? Di samping itu, Yesus juga telah mempercayakan kepada mereka sebagian dari karya pelayanan-Nya sendiri, mendelegasikan kepada mereka kuasa dan otoritas atas roh-roh jahat, untuk menyembuhkan dan mewartakan Injil (Luk 9:1-2).
Jadi, wajar kan kalau mereka berpikir bahwa mereka adalah pribadi-pribadi “spesial” di mata Yesus dan tentunya juga “orang-orang penting” dalam kerajaan Allah. Kesimpulan (salah) inilah yang membuat mereka bertengkar satu sama lain tentang siapa yang paling besar di antara mereka (Luk 9:46). 
Kelihatannya para murid telah melupakan apa yang telah Yesus katakan kepada mereka, bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Luk 9:44) dan Dia tidak akan memakai kuasa dan otoritas-Nya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Pada kenyataannya, Ia akan menyerahkan diri-Nya (bahkan sampai pada kematian) dan Ia minta agar para murid-Nya melakukan hal yang sama (Luk 9:21-25).
Yesus mencoba untuk menunjukkan kepada para murid-Nya itu, bahwa menjadi “besar dalam kerajaan Allah” bukanlah masalah menjadi bagian sebuah kelompok eksklusif, bukan pula selalu lewat peragaan kuasa ilahi yang dikaruniakan kepada orang bersangkutan, misalnya dalam hal pengusiran roh-roh jahat atau mukjizat-mukjizat lainnya dan berbagai tanda heran lainnya. 
“Kebebalan” dan/atau ketidakpahaman para murid barangkali membuat jengkel hati Yesus, tetapi yang jelas tidak membuat-Nya mengabaikan atau meninggalkan mereka, Dia malah mengambil kesempatan untuk mengajar mereka. Yesus mengambil seorang anak kecil, yang dalam dunia kuno dinilai sebagai tidak signifikan dan tak  bernilai.
Dia melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang nilai-nilai inheren dalam hal kerajaan Allah, yang menghindari kemuliaan dan kekuasaan duniawi dan merangkul kerendahan-hati (kedinaan) dan pelayanan dengan menerima bahkan orang-orang yang paling kecil sekali pun. 
Dalam terang pelajaran ini, Yohanes ingin mengetahui apakah tanggapan mereka terhadap si pengusir-setan yang bukan anggota kelompok mereka merupakan tindakan yang benar. Ia mengemukakan situasi tersebut kepada Yesus dan diperintahkan oleh-Nya bahwa siapa saja yang bekerja dalam nama Yesus tidak boleh dicegah hanya karena para murid ingin menjaga eksklusivitas pelayanan mereka.
Yesus mendorong para murid untuk mengesampingkan kebanggaan pribadi dan mengakui bahwa kuat-kuasa Allah dapat dinyatakan melalui siapa saja yang tidak menentang-Nya (Luk 9:49-50). 
Kita harus melihat pesan dari Injil Lukas sebagai Kabar Baik yang sesungguhnya. “Kebesaran” (dalam arti greatness) adalah karunia dari Allah – bukan diberikan kepada orang penting, melainkan kepada mereka yang melayani dengan rendah hati. “Kebesaran” tidak dipelihara dengan mempertahankan serta membela wilayah pengaruh seseorang, melainkan dengan menerima dan mengamalkan karunia-karunia yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya. 

Sumber  :  http://sangsabda.wordpress.com/2011/09/25/siapa-yang-terbesar/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.