Minggu, 25 September 2011

EVANGELISASI DAN FRANSISKAN AWAM
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Beberapa tahun lalu istilah “evangelisasi baru” menjadi topik yang cukup hangat. Akan tetapi, rasanya sekarang sudah mereda kembali atau hampir tidak terdengar lagi gaungnya. Gejala ‘hangat-hangat tahi ayam’? Tentunya hanya Allah yang tahu jawabannya.

Ataukah evangelisasi memang sudah tidak relevan lagi? Padahal hampir seperempat abad berselang, pada akhir tahun 1975 Paus Paulus VI pernah mengemukakan pendapatnya yang sampai saat ini sesungguhnya masih relevan, bahwa bukanlah suatu yang berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa dalam dunia muncul suatu daya tarik yang kuat dan tragis untuk diberi evangelisasi? (Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi [EN] tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern, 55). 

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kata ‘evangelisasi’ ini? Sesungguhnya kata evangelisasi ini sangat kuat berakar, baik pada Kitab Suci maupun tradisi Gereja. Namun demikian, kita harus mengakui bahwa bagi telinga sebagian besar umat Katolik kata evangelisasi ini terasa asing. Secara agak harafiah, evangelisasi berarti ‘komunikasi Injil’, penyebaran kabar baik Yesus Kristus. Kata ini berasal dari kata Yunani euaggelion yang berarti ‘kabar baik’. 

Evangelisasi Bukan Sekedar Program Gereja  

Dalam arti yang lebih luas, evangelisasi berarti pergi ke tengah orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Yesus Kristus, atau belum menyadari betapa Dia mengenal dan mengasihi mereka. Dalam artiannya yang seperti ini, dalam usaha, gerakan atau proses evangelisasi terkandunglah kegairahan dan semangat kerasulan untuk mewartakan Injil, suatu hasrat berapi-api guna menolong orang-orang lain agar jatuh cinta kepada Yesus dan kemudian mengabdikan diri mereka kepada-Nya untuk selama-lamanya. 

Evangelisasi bukanlah sekedar program Gereja atau umat beriman, baik secara berkelompok atau pun sendiri-sendiri. Evangelisasi adalah sebuah sikap. Suatu mentalitas untuk mensyeringkan, mengundang, menyambut orang-orang lain ke dalam sukacita persekutuan dengan Yesus Kristus. Evangelisasi dimulai oleh Yesus sendiri. Dalam Imbauan Apostoliknya, Paus Paulus VI menulis, “Yesus sendiri, Kabar Baik Allah, merupakan penginjil pertama dan terbesar. Kristus mewartakan penebusan, kurnia besar yang berasal dari Allah yang adalah pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia, tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan” (EN, 7-8). Menurut Paus Paulus VI,“tidak ada evangelisasi yang sejati, bila nama, ajaran, hidup dan janji-janji Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret, Putera Allah tidak diwartakan” (EN, 22).

Dalam Evangelii Nuntiandi Paus Paulus VI juga mengutip Deklarasi Para Bapa Sinode 1974 yang mengikrarkan bahwa “tugas untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja.” Dilanjutkan olehnya bahwa“Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam; Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam mis, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya yang mulia” (EN, 14). 

Tradisi gereja memerikan kegiatan evangelisasi Yesus ke dalam tiga perutusan-Nya, yaitu sebagai imam, nabi, dan raja. Lebih dari satu dekade kemudian, dikaitkan dengan karya kerasulan para awam, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Suatu aspek baru pada rahmat serta martabat yang berasal dari Permandian diperkenalkan di sini: kaum awam beriman berpartisipasi, demi bagian mereka, di dalamperutusan rangkap tiga Kristus selaku imam, nabi dan raja” (Imbauan Apostolik Christifideles Laici  [CFL] tentang Para Anggota Awam Umat Beriman Kristus, Maret 1989, 14). 

Yesus Kristus Sang Imam

Perutusan Kristus Sang Imam adalah membawa persekutuan penuh cintakasih antara Allah dan umat manusia lewat sengsara-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga, dan pemberian Roh Kudus-Nya kepada kita. Seperti dikatakan dalam Surat kepada orang Ibrani, “….. setiap imam besar yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa” (Ibr 5:1). Yesus Sang Imam “mengorbankan diri-Nya sendiri di salib dan terus dikorbankan di dalam perayaan Ekaristi demi kemuliaan Allah serta keselamatan umat manusia” (CFL, 14). 

Dalam diri-Nya yang terdalam, Yesus adalah imam – karena inkarnasi-Nya –, Pengantara satu-satunya, pembangun jembatan antara Allah dan umat manusia. Jadi, Dia membawa surga ke bumi dan bumi ke surga sebagai “Imam Besar Agung” (Ibr 4:14). Satu dari kegiatan-kegiatan keimaman terbesar dari Tuhan Yesus adalah hidup doa-Nya, persekutuan rohani-Nya dengan Allah. Persekutuan keimaman dan keakraban penuh kasih dengan Allah ini dikomunikasikan kepada para murid-Nya pada waktu Dia menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka (Yoh 20:22; Rm 5:5).

Kita perbaharui persekutuan itu hari ini melalui partisipasi kita dalam sakramen- sakramen dan hidup doa kita, kehidupan Roh sendiri yang menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Rm 8:26). 

Yesus Kristus Sang Nabi 

Perutusan Yesus Kristus Sang Nabi adalah mengkomunikasikan pengenalan-Nya yang mendalam akan Allah. Pengenalan Yesus akan Allah begitu unik dalam kedalamannya, suatu keakraban yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Ank itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).

Kristus Sang Nabi sungguh ingin mengungkapkan pengenalan intim-Nya akan Bapa karena Dia menghendaki agar para murid-Nya memiliki hidup kekal: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). 

Cara Yesus mengkomunikasikan hidup kekal adalah melalui pengajaran dan pewartaan sabda-Nya. Kita bertugas untuk melanjutkan perutusan kenabian-Nya itu.

Yesus Kristus Sang Raja 

Perutusan Yesus Kristus Sang Raja adalah membentuk sebuah komunitas saudara dan saudari dengan melayani kebutuhan-kebutuhan manusiawi yang mendasar. Namun kerajaan Yesus bukanlah dari dunia ini (Yoh 18:36). Kerajaan Allah adalah milik mereka yang menderita, mereka yang lemah lembut, mereka yang miskin dalam roh dan mereka yang dianiaya karena membela keadilan.

Untuk masuk kerajaan Allah, artinya “untuk dapat diselamatkan”, seseorang harus menghayati kemiskinan dalam roh sedemikian dan bekerja untuk keadilan (Mat 5:3-10).

Lagipula, untuk melanjutkan perutusan-Nya sebagai Raja, kita harus memperlakukan semua orang seperti kita akan memperlakukan Yesus sendiri, karena Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Saudara bagi setiap orang (Mat 25:31-46). 

Komunitas Para Imam, Nabi dan Raja 

Para murid Yesus dipanggil untuk menghayati hidup evangelisasi ini. Hidup penyembahan, pengajaran, dan pelayanan yang merupakan inti dari Injil. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21), demikian sabda Yesus kepada para rasul-Nya di tempat mereka berkumpul. Seperti Yesus diutus oleh Bapa untuk mewartakan Kabar Baik, kita juga diutus oleh Yesus untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita memang dipanggil untuk mengikuti jejak Kristus! 

Penting diingat adalah kenyataan bahwa Yesus memberikan tugas kepada semua murid sebagai sebuah komunitas, tidak sendiri-sendiri. Dia mengirimkan Roh Kudus kepada mereka pada waktu mereka berkumpul dalam sebuah ruangan tertutup (dalam keadaan ketakutan). Dengan cara seperti ini, sebenarnya Dia membentuk mereka menjadi satu tubuh, yaitu Gereja. Sejak awal pendiriannya, Gereja sudah ditugaskan untuk melakukan evangelisasi. Seperti telah dikemukakan di atas, “Gereja ada untuk mewartakan Injil” (EN, 14). 

Kita semua diutus untuk mewartakan Injil sebagai Gereja dan tidak hanya sebagai individu-individu karena evangelisasi adalah sebuah “visi total” (total vision). Di akhir Injil Matius, jelas kelihatan bahwa Yesus memberdayakan Gereja, sebagai komunitas para murid, untuk membawa pengaruh Injil kepada setiap bangsa sepanjang masa (Mat 28:18-20).

Paus Paulus VI mengungkapkan visi total ini ketika beliau menulis, “Bagi Gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru” (EN, 18). 

Inilah alasannya mengapa kekristenan – dalam arti yang total atau sepenuhnya – harus mencakup Gereja. Bagi Yesus untuk mencapai “segala tingkat/strata kemanusiaan”, untuk diwartakan kepada semua bangsa dan sepanjang masa, Dia membutuhkan Tubuh-Nya, yaitu Gereja.

Seandainya seseorang berkata, “Aku telah menerima Yesus dalam hatiku, tetapi belum (mau) menerima tubuh-Nya, yaitu Gereja”, maka hal ini berarti bahwa orang itu hanya menerima Yesus secara sepotong-sepotong saja.
         
Sebagai Gereja, kita diutus oleh Yesus untuk menjadi Tubuh-Nya di dalam dunia – tubuh dan darah-Nya, tangan-tangan-Nya, kaki-kaki-Nya, hati-Nya, mata-Nya dan mulut-Nya. Meskipun Yesus tentunya selalu hadir dalam Ekaristi, Yesus tidak memiliki tubuh lagi di dunia ini kecuali kita.

Untuk memenuhi tugas perutusan kita, kita harus bekerja sama untuk pergi menemui dan menyentuh orang-orang lain di tempat mereka berkarya, di sekolah, pada tempat-tempat pertemuan umum, di lingkungan tempat tinggal, di kebun, di pasar dan secara khusus dalam persahabatan  dengan orang-orang di mana saja. Kita tidak cukup hanya menerima Injil. Kita harus menghayati Injil dalam setiap keadaan kehidupan kita (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium [LG] tentang Gereja, 41; bdk. Anggaran Dasar OFS Pasal 2 Artikel 10). 

Mengapa harus Evangelisasi?  

Mengapa kita harus mewartakan Injil? Kita sebenarnya melakukan evangelisasi karena alasan yang sama seperti Yesus melakukan evangelisasi, yaitu “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Kita percaya bahwa Yesus sendiri adalah kepenuhan hidup; dan Gereja (Tubuh-Nya) adalah kepenuhan Yesus (Ef 1:22-23).

Melalui Gerejalah Yesus melayani sebagai “Roti Kehidupan” (Yoh 6:25-59) karena Dia tahu bahwa dunia lapar dan haus akan kepenuhan hidup. Kita haus akan cintakasih persekutuan yang akrab, karena hati kita yang gelisah telah menemukan kenyataan bahwa tidak ada seorang manusia pun dapat menghadirkan dirinya secara total bagi manusia lainnya, bahwa kesepian dan isolasi dapat tetap ada, meski dalam relasi yang penuh cintakasih sekali pun.

Rasa lapar kita akan pengetahuan mendesak kita untuk mencari kebenaran yang lebih bersifat kekal daripada ‘kebenaran-kebenaran’ yang bersifat sesaat seperti apa saja yang trendy atau populer. Kita juga merasa lapar akan suatu kesempatan untuk melayani orang-orang lain karena – sadar maupun tak sadar – kita telah menjadi letih setelah sekian lama diperbudak oleh konsumerisme, materialisme, hedonisme, serta pelbagai konsep sekularisme yang sudah sekian lama – sadar tidak sadar – berhasil menyusup ke dalam pikiran dan perilaku kita. 

Spiritualitas Gereja (Katolik) yang bersifat inkarnasional memuaskan rasa lapar dan haus kita akan keakraban penuh cintakasih. Ajaran-ajaran Gereja komprehensif yang didasarkan atas sabda kebenaran abadi Kristus dan diwartakan dalam Gereja yang sudah berumur 20 abad memuaskan rasa lapar kita akan pengetahuan universal. Sifat universal Gereja Katolik, baik dilihat dari sudut geografis maupun kultural memberikan kepada kita kesempatan untuk melayani orang-orang dengan daya jangkau yang jauh lebih luas, daripada yang sekedar dibatasi oleh kelas sosial-ekonomis kita atau batas-batas nasional kita sendiri.

Bagaimana dengan Para Awam Fransiskan?

Kita telah melihat di atas bahwa bagi umat Katolik, evangelisasi adalah tanggung jawab untuk mengkomunikasikan Kabar Baik keselamatan, untuk menemukan dan menyingkapkan kehadiran dan kuat-kuasa Imanuel (Allah-beserta-kita) dalam dunia, artinya untuk mengungkapkan Yesus Kristus sendiri yang menguduskan (sebagai Imam), yang mengajar (sebagai Nabi) dan yang memimpin (sebagai Raja). Yesus Kristus yang menyembuhkan pribadi manusia dan mempersatukan umat Allah dan merekonsiliasikan segenap ciptaan dengan Bapa surgawi. Yesus Kristus yang mensyeringkan cintakasih Bapa, mendirikan Gereja dan mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah. Dengan demikian evangelisasi lebih-lebih berarti membagikan dengan orang-orang lain kekayaan iman yang kita miliki.

Kita juga telah melihat bahwa dunia mempunyai rasa lapar dan haus akan iman ini. Tuhan Yesus tergantung pada mereka yang telah dibaptis untuk melanjutkan karya evangelisasi ini. Evangelisasi memang merupakan tanggung jawab sebagai akibat pembaptisan kita, di mana kita diangkat menjadi anak-anak Allah dalam Yesus Kristus dan menjadi anggota Tubuh-Nya dan berpartisipasi dalam perutusan-Nya. Yesus Kristus datang sebagai “Roti Kehidupan” karena Dia tahu orang-orang sesungguhnya mempunyai rasa lapar akan kepenuhan hidup, namun Dia memanggil kita untuk memberi makan kepada domba-domba-Nya. Bagaimana para awam Fransiskan menanggapi panggilan-Nya itu? 

Kita mengumumkan, mengkomunikasikan, atau mensyeringkan Kabar Baik kehadiran Yesus Kristus dan kekuatan penyelamatan-Nya kepada orang lain, lewat kata-kata dan tindakan-tindakan kita.

Sebagai Fransiskan, ini memang tugas perutusan kita. Kita telah dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi para ‘penghayat Injil’, para ‘pelaku Injil’ dan para ‘pewarta Injil’. Pada pertemuan mereka di Bahia tahun 1983, para Saudara Dina memproklamirkan bahwa gerakan Fransiskan adalah suatu ‘Evangelization Vanguard’, artinya berada pada barisan depan dalam proses evangelisasi ini. Ordo Fransiskan Sekular adalah bagian dari keluarga Fransiskan. Dengan demikian evangelisasi – mau tidak mau – merupakan sesuatu yang melekat pada keberadaan Ordo Fransiskan Sekular. 

Dengan demikian Ordo Fransiskan Sekular bukan sekedar sebuah ‘paguyuban suci’, bukan pula sebuah ‘kumpulan rohani’ atau sebuah ‘kelompok doa’ belaka, namun sebuah komunitas penginjilan  yang dinamis yang para anggotanya terdiri dari orang-orang awam (sekular) yang sudah dibaptis, yang menghayati spiritualitas, gaya hidup dan misi berdasarkan Injil, seturut teladan Santo Fransiskus dari Assisi (Anggaran Dasar Ordo Fransiskan Sekular [AD OFS] Pasal 2 Artikel 4). 

Karena spiritualitas Ordo Fransiskan Sekular itu bersifat sekular, demikian pula kiranya pelayanannya: suatu transformasi dunia dan pelayanan kepada Gereja oleh orang-orang awam untuk memberikan kesaksian akan cintakasih Kristus yang bersifat inkarnasional, untuk membawa persatuan bagi Tubuh Kristus  dan untuk merekonsiliasikan segenap ciptaan dalam Kristus, dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan spiritual, psikis, sosial-kemasyarakatan dan keduniawian dari orang-orang di sekeliling mereka. Menjadi seorang Fransiskan sekular berarti menjalani kehidupan kerasulan dari hari ke hari.

Cara hidup ini bukannya dimaksudkan hanya untuk tercapainya kekudusan para anggota masing-masing, tetapi juga dalam rangka menuju tercapainya rekonsiliasi tatanan dunia dalam Allah dan pelayanan kepada umat Allah. Agar supaya cita-cita para Fransiskan sekular menjadi efektif, maka haruslah dibuat praktis lewat kesaksian dan pelayanan, lewat teladan hidup dan kegiatan kerasulan.

Fransiskus sendiri menunjukkan kepada kita bahwa proses evangelisasi dapat mengambil dua bentuk, ketika dia memberitahukan kepada para Saudara Dina bagaimana mengkomunikasikan Kabar Baik:“Saudara-saudara yang pergi dapat membawa diri secara rohani di antara orang-orang itu dengan dua cara. Cara yang satu ialah: tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, tetapi hendaklah mereka tunduk kepada setiap makhluk insani karena Allah dan mengakui bahwa mereka orang Kristen.

Cara yang lain ialah mewartakan firman Allah, bila hal itu mereka anggap berkenan kepada Allah supaya orang percaya akan Allah Yang Mahakuasa (Anggaran Dasar Tanpa Bulla [AngTBul] XVI:5-7). 

Dengan mengambil isyarat dari petunjuk Fransiskus di atas, kita melaksanakan juga perintah Yesus yang bersabda, “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43) – artinya kita melakukan evangelisasi – dalam dua cara yang berbeda namun terkoordinasi satu sama lain: dengan cara pemberian kesaksian hidup yang efektif dan juga melalui program kerasulan. 

Kitab Hukum Kanonik [KHK] menyatakan,“Umat beriman Kristiani awam, berkat sakramen baptis dan penguatan, merupakan saksi-saksi warta Injili dengan kata-kata dan teladan hidup Kristiani mereka; mereka dapat diajak pula untuk bekerjasama dengan Uskup dan para imam dalam pelaksanaan pelayanan sabda” (KHK, Kanon 759).

Lihatlah sekarang kesejajaran yang ada dalam AD OFS, yang menyatakan, “….. hendaklah mereka (anggota OFS) menjadi saksi dan alat perutusan Gereja di tengah-tengah manusia manusia, sambil mewartakan Kristus dengan cara hidup dan kata-kata mereka” (AD OFS Pasal 2 Artikel 6). 

Kanon dalam KHK yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa ada dua segi utama dari panggilan Kristus bagi para awam dalam Gereja. Yang pertama adalah untuk menjadi saksi Injil dan yang kedua adalah kerjasama dengan para gembala Gereja dalam hal pelayanan sabda Allah.

 Meskipun kedua segi ini memberi kesan sangat erat satu sama lain dan agak tumpang tindih dalam contoh-contohnya, tetap dapat terlihat adanya urut-urutan logis yang harus dilalui, dan hal ini harus tidak boleh kelewatan. Seseorang pertama-tama harus menjadi saksi Injil lewat kata-katanya dan teladan hidupnya, baru setelah itu kerja samanya dengan para gembala Gereja dalam hal pelayanan sabda Allah akan sungguh-sungguh bermakna atau memiliki arti. 

Evangelisasi lewat Kata-kata, Teladan Hidup Kristiani, dan Pelayanan Sabda 

Kesaksian adalah ciri dari hidup Kristiani di mana seseorang menghayati komitmen pribadinya kepada Yesus Kristus dan Gereja dengan kredibilitas, keyakinan, dan kesungguhan sehingga orang lain dapat mencatat dan merefleksikan relasi mereka sendiri untuk menerima dan kemudian ‘memberitakan’ Injil. Kesaksian merupakan kekuatan dari ‘contoh yang baik’ untuk menyentuh hati orang-orang lain dan membawa perubahan dalam sikap dan perilaku mereka. Kadang-kadang keefektifan kesaksian berada di luar daya upaya secara sadar; artinya terjadi secara otomatis karena dedikasi dari sang saksi kepada Tuhan Yesus yang begitu otentik dan transparan. 

Kita memberi kesaksian atas iman-kepercayaan kita dan dengan demikian kita mengkomunikasikan Kabar Baik Yesus Kristus melalui kata-kata yang kita gunakan. Di satu pihak, apabila kita bercerita dengan jujur dan sederhana kepada orang-orang lain bagaimana Allah bekerja dalam hidup kita dan betapa perspektif kita mengenai kehidupan telah berubah karena Allah berdiam dalam diri kita dan di tengah-tengah kita, maka kita menyentuh pikiran dan hati orang-orang itu dan menyesuaikan diri mereka pada kehadiran dan kuat-kuasa Allah. Di lain pihak, kredibilitas dari hal-hal yang kita katakan – bebas dari kata-kata kasar, kata-kata yang mengandung praduga, prasangka dan penghakiman serta memuji diri sendiri – meneguhkan keotentikan hidup kita yang berorientasi kepada Allah dan yang melayani Allah. 

Kita juga memberikan kesaksian lewat tindakan-tindakan kita yang biasa-biasa saja di tengah-tengah keluarga, para sahabat, para tetangga, para kerabat kerja dan bahkan orang-orang asing yang belum kita kenal sebelumnya. Karena efek sakramen baptis dan krisma, keberadaan kita merupakan kesaksian atas kebenaran Injil. Hal ini berarti bahwa setiap kegiatan sehari-hari kita merupakan cermin yang memantulkan kehadiran Allah di dunia ini, suatu sarana perantara yang meng komunikasikan pesan Allah, sebuah saluran yang menyalurkan cintakasih Allah.

Cara kita berinteraksi dengan orang-orang lain; cara kita memperlakukan binatang / hewan peliharaan atau liar, cara kita menggunakan kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan, misalnya bidang teknologi; cara kita membawa diri kita sendiri dalam masyarakat, cara kita memenuhi tanggung jawab kita sendiri sebagai warga Gereja, negara dan bangsa; cara kita mengambil pelbagai inisiatif dan isu-isu yang ada, misalnya dalam bidang pengentasan kemiskinan, ekologi/lingkungan hidup serta perdamaian dan keadilan.

Semua kegiatan ini dan banyak lagi kegiatan yang tak mungkin disebutkan satu persatu di sini, sebenarnya mengungkapkan kepada orang-orang lain integritas dari hati Kristiani kita sendiri, ketulusan tekad kita sendiri untuk menepati hidup Injili dan tentunya keaslian hasrat kita untuk memberi kesempatan kepada ‘Sang Sabda yang menjadi daging’ untuk berdiam dalam diri kita masing-masing. Dengan perkataan lain, contoh dari perilaku yang kita tunjukkan kepada orang-orang lain dapat menjadi ‘jembatan’ (sebaliknya juga dapat menjadi ‘penghalang’) bagi mereka untuk mengenal Tuhan Yesus, berinteraksi dengan Dia dan akhirnya mengikuti jejak-Nya. 

Menurut saya, tugas evangelisasi yang paling besar (dalam Gereja Katolik) pada zaman kita sekarang ini adalah untuk memberikan inspirasi kepada umat Katolik pada umumnya untuk jatuh cinta kepada Yesus, untuk balik bertobat kepada-Nya, untuk membuat-Nya menjadi pusat kehidupan mereka, untuk mengikuti jejak-Nya, untuk mensyeringkan pengalaman akan Kristus dengan orang-orang lain.

Bagaimana pun juga ‘sumber daya’ terbesar adalah umat kita sendiri. Setiap paroki kita memiliki data statistik yang lengkap mengenai berapa orang yang dipermandikan, jumlah umat setiap tahun, dan seterusnya. Akan tetapi, apakah setiap paroki mengetahui dengan jelas berapa banyak umat yang praktis tidak menghadiri Misa Kudus atau yang sudah keluar (meskipun secara tidak resmi alias tanpa melapor) menyeberang ke gereja-gereja lainnya atau ‘pindah agama’ karena perkawinan campur atau alasan lain? Terus terang saja, seandainya semua umat Katolik KAJ menghadiri perayaan Ekaristi setiap hari Minggu, maka seluruh paroki yang ada di KAJ ini sungguh-sungguh tak akan mempu menampung umat yang datang ke gereja. 

Mengikuti Jejak Kristus Sang Imam 

Ini berarti menjalankan kepemimpinan spiritual terutama melalui hidup doa, pengorbanan dan perayaan sakramental. Inilah alasannya mengapa bagi umat Katolik, liturgi begitu penting artinya. Liturgi, khususnya Ekaristi adalah model dari kegiatan imamat. Ini juga yang menjadi fokus evangelisasi Katolik. Liturgi itu adalah puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja dan serta-merta sumber segala daya-kekuatannya (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

Evangelisasi Katolik diarahkan agar dapat mengundang orang-orang untuk mengalami secara penuh Yesus Kristus yang dirayakan dalam liturgi. Tujuan kita adalah persekutuan ataucommunio dengan Yesus Kristus. Apa lagi yang lebih baik daripada komuni kudus? Ketika Yesus mengenyangkan kita dengan Tubuh-Nya sendiri dalam Ekaristi, Roh Kudus-Nya terus membentuk kita menjadi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Kita pun menjadi roti bagi dunia sekeliling kita. Dalam hal ini, cara hidup bagi para Fransiskan awam adalah sebagai berikut: 

“Sebagaimana Yesus menjadi penyembah sejati bagi Bapa, demikian pula mereka (para Fransiskan sekular) hendaknya membuat doa dan kontemplasi menjadi jiwa bagi kehidupan dan tingkah laku mereka. Hendaklah mereka ambil bagian dalam kehidupan sakramental Gereja, terutama sakramen Ekaristi, dan menggabungkan diri dengan doa-doa liturgis dalam salah satu bentuk yang dianjurkan Gereja; supaya dengan demikian mereka menghidupkan kembali misteri-misteri kehidupan Kristus”(AD OFS Pasal 2 Artikel 8). 

Ada cukup tersedia ruangan bagi para Fransiskan awam (sekular) untuk terlibat secara aktif dalam hal ini, antara lain dengan teratur menghadiri Misa Kudus harian, menjalankan tugas pelayanan sebagai pro diakon di paroki masing-masing dan lain-lain. 

Spiritualitas keluarga juga merupakan dasar dari kehidupan Gereja. Paus Yohanes Paulus II menekankan kebutuhan akan doa yang dimulai di rumah. Sri Paus juga menunjukkan hubungan timbal balik yang penting antara hidup doa di rumah dan hidup doa di paroki. Lewat doa-doa bersama di rumah, para orangtua juga dapat memperkenalkan doa-doa liturgis dari seluruh Gereja, mungkin dimulai dengan ibadat pagi, ibadat sore, dan ibadat penutup secara bersama. Doa bersama di meja makan dapat merupakan persiapan yang baik sekali untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Dengan demikian sebuah paroki dapat menjadi ‘keluarga dari keluarga-keluarga’. 

Misi atau perutusan Kristus Sang Imam telah dijalankan dengan setia oleh para imam/rohaniwan, biarawan-biarawati yang penuh dedikasi. Mereka telah mengajarkan kepada kita bagai mana cara berdoa. Hal yang sama juga dijalankan oleh para awam yang memiliki komitmen, teristimewa para orangtua, kakek-nenek, laki-laki dan perempuan lain yang saleh, yang telah memberikan kepemimpinan religius yang dindah bagi umat. Ada juga orang-orang dewasa dan pemuda-pemudi tidak menikah yang telah memberikan tantangan sekaligus menjadi motivator bagi teman-teman dan rekan-rekan sejawat mereka untuk bertumbuh dalam hidup Kristiani. 

Di dalam ‘gereja-paroki’ kita merayakan sakramen-sakramen bersama-sama – baptis, ekaristi, krisma, tobat, perkawinan, imamat, dan sakramen orang sakit. Di sana pula kita dapat melakukan Ibadat Harian (Ofisi Ilahi) atau pelbagai devosi yang ada. Kalau semua ini dirayakan oleh seluruh atau sebagian besar komunitas dalam suatu suasana doa yang benar dan penuh cintakasih, maka paroki-paroki sungguh akan menjadi pusat-pusat evangelisasi yang tangguh. 

Ini berarti pewartaan dan pengajaran. Seperti telah kita ketahui, Yesus mendelegasiikan kepada Gereja misi pewartaan Injil-Nya dan misi mengajar kepada semua bangsa (Mrk 16:15; Mat 28:18-20). 
Untuk mengalami misi Kristus seperti yang dialami oleh umat Kristiani perdana, kita semua harus bertekun dalam ‘pengajaran para rasul’ (Kis 2:42). Pengajaran para rasul dimaksud sekarang terdapat dalam Perjanjian Baru dan pelbagai dokumen dari Gereja yang mengajar. Kita sepatutnya bersyukur kepada Allah bahwa sejak beberapa dasawarsa yang lalu sudah cukup banyak program Gereja yang bersumber pada Kitab Suci, sehingga dengan demikian kita dapat mengalami Kristus lewat kuat-kuasa sabda-Nya.

AD OFS menyatakan, “….. hendaklah kamu Awam Fransiskan tekun membaca Injil, sambil beralih dari Injil kepada hidup yang nyata dan dari hidup yang nyata kepada Injil” (Pasal 2 Artikel 4; bdk. Dekrit Apostolicam Actuositatem [AA] tentang Kerasulan Awam, 30). 

Setiap tugas pelayanan sabda yang kita lakukan – sebagai lektor, katekis, pewarta mimbar awam, pelbagai tugas pemuka umat lainnya – seharusnya berakar pada Kitab Suci, teristimewa keempat Injil. Dengan demikian kita akan mampu dengan lebih efektif “mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya” (EN, 17). 
Akan tetapi, sebagai orang Katolik kita percaya bahwa misi kenabian juga dilaksanakan melalui Tradisi Suci Gereja. Konsili-konsili dan pelbagai dokumen Gereja sungguh penting bagi kita semua sebagai pelengkap dari sabda Allah yang tertulis. Demikian pula dengan hidup para kudus yang merupakan suatu bagian penting dari tradisi, karena para kudus itu telah menunjukkan cara mereka mengikuti jejak Kristus Sang Nabi dengan begitu indahnya.

Khusus bagi anggota keluarga Fransiskan, cerita-cerita tentang ratusan santo-santa, beato-beata anak-anak Fransiskus dan Klara – di samping keberadaan begitu banyaknya tulisan-tulisan tentang Fransiskus dan Klara sendiri – cukup tersedia sebagai sumber. Semua ini belum memperhitungkan mereka yang belum diresmikan oleh Gereja sebagai orang kudus.

Menurut sebuah sumber, selama abad ke-20 ini OFM saja telah mempersembahkan 400 orang martirnya bagi kemuliaan Allah. Provinsi FMM di Tiongkok / Hongkong saja sampai sekarang masih memiliki puluhan ‘martir-hidup’ yang selama puluhan tahun mendekap dalam tahanan pemerintahan komunis Cina dan banyak menderita karena mengalami penganiayaan luar biasa.

Sejak abad ke-13 para Fransiskan sekular juga telah menyumbangkan para santo-santa dan beato-beatanya kepada Gereja, yang jumlah keseluruhannya sampai saat ini sudah lebih dari seratus orang. Mereka berasal dari lapisan masyarakat yang  berbeda-beda dan juga dari pelbagai negara dan bangsa, termasuk puluhan orang yang berkebangsaan Jepang dan Cina. Ada yang mengatakan ‘spiritualitas Fransiskan’ lebih-lebih merupakan ‘story spirituality’, yaitu spiritualitas lewat proses mempelajari cerita-cerita tentang kehidupan Bapak Fransiskus, Klara dan para kudus Fransiskan lainnya, tentunya termasuk mempelajari tulisan-tulisan mereka.

Mereka semua pada dasarnya adalah para nabi dan nabiah pada zaman mereka masing-masing. Dengan secara tekun mempelajari hidup para kudus tersebut, kita pun – Insya Allah – akan menjadi nabi atau nabiah bagi zaman ini. 

Mengikuti Jejak Kristus Sang Raja 
Ini dilakukan dengan melayani setiap orang sebagai saudara atau saudari dan membentuk semua orang ke dalam sebuah komunitas. Mengikuti jejak Kristus Sang Raja pada dasarnya berarti memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisik dasar setiap orang yang membutuhkan – termasuk musuh-musuh kita. Pelbagai kegiatan pelayanan dengan segala macam bentuknya telah dilakukan oleh banyak paroki yang saya ketahui, dari kegiatan ‘normal’ Seksi Sosial, pasar murah bulanan sampai dengan keterlibatan dalam pembagian sembako dan pembentukan posko-posko. 

Keluarga sebagai ‘gereja domestik’ harus juga ‘bersemangat pelayanan’. Pada salah satu kesempatan Paus Yohanes Paulus II meminta semua keluarga dan paroki untuk “tidak memandang ke dalam”, tetapi untuk “mencapai juga mereka yang membutuhkan.” Teristimewa “kepada para saudara dan saudari dalam iman yang telah tersisihkan karena kemasa bodohan atau mereka yang telah diljukai dengan salah satu cara.”

Sri Paus juga suka menggemakan apa yang telah dikatakan oleh pendahulunya, Paus Paulus VI, mengenai keluarga yang harus merupakan “suatu tempat di mana Injil diteruskan dan dari mana Injil bercahaya. Di dalam suatu keluarga yang sadar akan perutusan tadi, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerima evangelisasi. Orangtua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tapi dari anak-anak mereka orangtua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka” (EN, 71; bdk. Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Familiaris Consortio tentang Keluarga, 52). 

Mengikuti jejak Kristus Sang Raja berarti mengikuti kesaksian hidup-Nya akan persaudaraan dan persahabatan. “…. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15).

Para Fransiskan sekular bersama-sama dengan semua orang yang berkehendak baik, terpanggil untuk membangun dunia yang lebih bersaudara dan lebih Injili sehingga Kerajaan Allah terwujud (lihat AD OFS Pasal 2 Artikel 14).

Rasa persaudaraan membuat para Fransiskan sekular bergembira dan bersedia menyamakan diri mereka dengan semua orang, terutama dengan orang-orang yang paling kecil (lihat AD OFS Pasal 2 Artikel 13; bdk. Mat 25:31-46). 

Beberapa catatan mengenai evangelisasi para awam Fransiskan 
Karena panggilan khusus mereka di tengah-tengah dunia, bentuk evangelisasi para awam juga bersifat khusus. “Tugas mereka adalah untuk menggunakan setiap kemungkinan Kristiani dan penginjilan yang tersembunyi tetapi sudah ada dan aktif dalam urusan-urusan dunia. Bidang evangelisasi mereka ialah dunia politik yang luas dan kompleks, bidang kemasyarakatan dan ekonomi, tapi juga dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan seni, kehidupan internasional, bidang media massa. Juga mencakup kenyataan lain yang terbuka bagi evangelisasi, seperti misalnya cintakasih manusiawi, keluarga, pendidikan anak-anak dan kaum remaja, kerja profesional, penderitaan” (lihat EN, 70). 

Para awam memang tidak dipanggil untuk menjadi seperti imam atau para religius lainnya. Hidup spiritual dan hidup kerasulan para awam berbeda. Para awam dipanggil untuk menjadi lebih-lebih seperti Kristus dalam memenuhi tugas dan tanggung jawab mereka, sesuai dengan keadaan masing-masing di dunia ini (lihat AD OFS Pasal 2 Artikel 10; bdk. LG, 41).

Namun menurut Paus Yohanes Paulus II semua kaum awam merupakan misionaris (utusan Kristus, pengemban misi Kristus) berdasarkan baptisan (lihat Ensiklik Redemptorist Missio [RM] tentang Amanat Misioner Gereja, 71-72). Dalam ensikliknya ini Sri Paus mengatakan perlunya semua kaum beriman ikut ambil bagian dalam tanggung jawab ini, bukan sekedar suatu usaha untuk lebih mengefektifkan kerasulan saja, tetapi justru karena ini adalah hak dan kewajiban yang dilandaskan pada martabat baptisan mereka.

Melalui baptisan itu “kaum awam beriman berpartisipasi, demi bagian mereka, di dalam perutusan rangkap tiga dari Kristus selaku imam, nabi, dan raja” (RM, 71; bdk. CFL, 14). 

Jelas di sini para awam mendapat tempat dalam hal evangelisasi. Bagaimana dengan para Fransiskan awam? Hal-hal apa sajakah yang dapat mencirikan atau menggaris-bawahi evangelisasi yang dilakukan oleh para Fransiskan sekular, hal-hal yang mencerminkan adanya nuansa perbedaan meski dalam kesatuan gerak bersama para awam lainnya?

Untuk itu kita harus kembali berpaling kepada Bapak Serafik kita sebagai sumber, baik melalui tulisan-tulisan mengenai dirinya maupun tulisan-tulisannya sendiri, kemudian membuat beberapa catatan yang kiranya dapat digunakan sebagai pegangan bagi usaha evangelisasi para Fransiskan sekular. Fransiskus sendiri adalah seorang saksi sejati dari hidup Injili yang radikal dan kita nota bene adalah para anak rohaninya.

Catatan berikut ini bukanlah sebuah daftar yang lengkap dan komprehensif karena kekayaan rohani Bapak Serafik kita tidak mungkinlah untuk dipadatkan dalam beberapa catatan singkat sebagai hasil permenungan pada saat tertentu saja. 

1.  Pada zamannya, ketika ajaran Injil pada umumnya di mana-mana mengalami banyak kemunduran karena perbuatan-perbuatan insani. Fransiskus diutus Allah untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran di mana-mana seturut teladan para Rasul (lihat 1Cel 89). 

2.  Roh yang tinggal di dalam lubuk hatinya, bersedia, berserah, dan berkobar-kobar untuk menaburkan benih sabda Allah. Ia memenuhi seluruh bumi dengan Injil Kristus, sehingga dia dalam tempo satu hari sering mengunjungi empat atau lima kampung atau malahan kota, seraya mewartakan kabar gembira kerajaan Allah di tiap-tiap  tempat; dan dengan membuat seluruh tubuhnya menjadi lidah, ia membina para pendengarnya tidak kurang dengan teladan daripada dengan perkataan (lihat 1Cel 97). 

3.  Dengan kehangatan jiwa yang besar dan dengan perasaan sukacita dia mulai mewartakan pertobatan kepada semua orang; dengan perkataan yang sederhana tetapi dengan hati yang luhuria membina para pendengarnya. Perkataannya bagaikan api yang membakar, menembus sampai ke lubuk hati dan memenuhi segala budi dengan ketakjuban (lihat 1Cel 23). 

4.  Kelihatannya memang Allah membangkitkan keluarga Fransiskan sebagai para penginjil: “untuk mewartakan dan memuji-muji Allah” (lihat Legenda Perugia, 43). 

5.  Fransiskus ‘menemukan’ panggilannya dengan jelas ketika imam di gereja menjelaskan kepadanya ayat-ayat Injil tentang ‘pengutusan para murid oleh Yesus’ dan serta-merta dilakukannya semua dengan gembira. Ia bukan pendengar Injil yang tuli, melainkan berusaha menepati segala apa yang didengarnya dengan cermat secara harafiah (lihat 1 Cel 22). 

6.  Fransiskus adalah pendiri tarekat religius pertama dalam sejarah yang memasukkan catatan mengenai misi kepada saudara-saudari yang beriman-kepercayaan lain (lihat AngTBul XVI).

7.  Fransiskus adalah pendiri tarekat religius pertama yang pergi sendiri ke tengah-tengah saudara-saudari yang beriman-kepercayaan lain (lihat LegMaj IX:8). 

8.  Fransiskus adalah pendiri tarekat religius pertama yang mengutus para pengikutnya ke tengah-tengah saudara-saudari yang beriman-kepercayaan lain, meskipun ditentang oleh Kardinal Hugolino sebagai pelindung Ordo  (Speculum Perfectionis/ Cermin Kesempurnaan, 65). 

9.  Keprihatinan Fransiskus yang utama adalah untuk mengajar para saudaranya terlebih-lebih dengan tindakan-tindakannya daripada dengan kata-kata, perihal apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka hindari (lihat Legenda Perugia, 85). 

10.   Ketika para saudaranya mengeluh karena tidak diperkenankan berkhotbah oleh uskup-uskup setempat ke mana mereka diutus, Fransiskus menjawab dengan penuh semangat, “Kamu sekalian, para saudara dina, tidak tahu kehendak Allah dan kamu sekalian tidak memperkenankan  aku mempertobatkan seluruh dunia sesuati dengan kehendak Allah. Kamu harus pertama-tama mempertobatkan para prelat itu dengan kerendahan hatimu dan ketaatanmu yang penuh hormat kepada mereka. Apabila mereka melihat hidup kudusmu dan ketaatanmu yang penuh hormat kepada mereka, mereka sendiri akan meminta kamu untuk berkhotbah dan mempertobatkan orang-orang” (Legenda Perugia, 115).

11. “….. semua saudara hendaknya berkhotbah dengan perbuatan” (AngTBul XVII:3). 

12. Fransiskus memohon kepada para saudara “agar mereka berusaha merendahkan diri dalam segalanya; tidak memegahkan diri, tidak berpuas-puas diri, dan tidak meninggikan diri dalam batin atas perkataan dan perbuatan baik, bahkan atas kebaikan mana pun juga yang dikerjakan atau dikatakan dan dilaksanakan oleh Allah sewaktu-waktu dalam diri mereka atau melalui diri mereka” (AngTBul XVII:5-6). 

13. AngTBul XVII dan Anggaran Dasar dengan Bulla [AngBul] IX berisikan peraturan-peraturan hidup yang menyangkut para saudara yang bertugas sebagai pengkhotbah.

14. Karya evangelisasi atau misi / perutusan apa pun juga harus didasarkan oleh inspirasi Roh Kudus. “Karena itu setiap saudara yang atas ilham Ilahi mau pergi ke tengah kaum Muslimin dan orang tak beriman …..” (AngTBul XVI:3). 

15. Dengan demikian, evangelisasi Fransiskan harus berlandaskan hidup doa dan penyembahan kepada Allah yang mendalam. Seperti telah dicontohkan oleh Fransiskus sendiri dan para kudus Fransiskan lainnya, kontemplasi dan misi sebenarnya adalah seperti sisi yang berbeda dari sepotong mata uang yang sama. Untuk memproklamasikan Injil dengan penuh entusiasme, kita sendiri harus sungguh-sungguh tertarik dengan pribadi Yesus Kristus dan pesan keselamatan-Nya dan malah mengalami sendiri Yesus ini. Fransiskus mengalami Allah sebagai “kebaikan” (lihat AngTBul XXIII:9).“Seluruh jiwanya haus akan Kristus dan dia mendedikasikan tidak hanya seluruh hatinya, tetapi juga seluruh tubuhnya kepada-Nya” (2Cel 94).

Thomas Celano mengatakan Fransiskus tidak saja seorang pendoa, tetapi dia sendiri menjadi doa itu sendiri (2Cel 95). Ketika Thomas Celano mengatakan ini tentang Fransiskus, dia telah mengatakan semuanya. Doa Fransiskus kembali kepada dirinya; dia menjadi apa yang dilakukannya. Kemauan berdaya tahan Fransiskus untuk berdoa dan untuk mengikut-sertakan tubuhnya mengambil peran dalam doa itu, membuat manusia Fransiskus ini menjadi doa itu sendiri. Sigmatisasi-nya di bukit La Verna merupakan bukti yang jelas akan hal ini.

Dalam bukunya tentang “Riwayat Hidup Santo Fransiskus”, Santo Bonaventura menceritakan dengan baik sekali hidup doa orang kudus ini yang patut kita renungkan terus-menerus dan gunakan sebagai contoh dan cermin bagi hidup doa kita masing-masing (lihat LegMaj X). 

16. Seperti yang dilakukan Fransiskus dulu, evangelisasi Fransiskan seharusnya juga berisikan undangan kepada semua orang untuk terus-menerus melakukan pertobatan (lihat butir 3 di atas). Para pengikut Fransiskus pada awalnya disebut ‘para pentobat dari Assisi’ (lihat Kisah Tiga Sahabat [L3S], 37).

Dalam surat pertamanya kepada para kustos, Fransiskus mengatakan, “Dan dalam setiap khotbah yang kamu bawakan, hendaknya kamu menasihati umat bahwa mereka mesti bertobat” (1SurKus 6). Sangat relevan berkaitan dalam hal ini adalah peringatan yang diberikan oleh Paus Yohanes Paulus II:“Kita tidak dapat mewartakan pertobatan jika kita sendiri tidak bertobat terus menerus setiap hari” (RM, 47; lihat juga AD OFS Pasal 2 Artikel 7). 

17. Bagi Fransiskus, pelayanan sabda oleh para pengkhotbah dan teolog adalah ‘pelayanan roh dan kehidupan’ bagi kita semua (Wasiat Santo Fransiskus [Was], 13). 

18. Pelaku evangelisasi Fransiskan menunjukkan kesederhanaan orang kecil. “Kami tidak terpelajar dan menjadi bawahan semua orang”  (Was 19; bdk. AngTBul XVI:6). Mereka seharusnya sungguh dina yang tunduk kepada sekalian orang dan selalu mencari tempat kerja yang dipandang hina dan melakukan tugas yang hina (lihat 1Cel 38). 

19. Seperti Fransiskus, seorang Fransiskan jika berbuat salah dalam salah satu hal, mengakui kesalahannya di dalam khotbah di depan seluruh rakyat. Dia segera datang dengan rendah hati kepada orang, terhadap siapa dia berpikir dan berkata tidak baik, dan minta maaf kepadanya (lihat 1Cel 54). 

20. Seperti yang telah dicontohkan oleh Fransiskus, pendekatan evangelisasi seorang Fransiskan seharusnya bersifat ‘pribadi yang satu kepada pribadi yang lain’ (person-to-person), meskipun misalnya dia sedang berkhotbah dengan umat yang berjumlah banyak. Thomas Celano menulis, “Bilamana dia seringkali mewartakan sabda Allah di tengah-tengah ribuan orang, ia begitu pastinya seperti kalau dia berbicara dengan teman akrabnya saja. Jumlah orang yang amat besar dipandangnya seperti satu orang; dan kepada satu orang ia berkhotbah dengan penuh semangat seperti kepada orang banyak”(1Cel 72). 

21. Dengan meneladani Fransiskus, kemurnian jiwa harus menyertai para Fransiskan dalam ber-evangelisasi. Mengenai Fransiskus, Thomas Celano menulis, “Kemurnian jiwalah yang memberi kepastian dalam menyampaikan khotbahnya; dan tanpa berpikir-pikir sebelumnya dia mengatakan hal-hal yang menakjubkan dan yang belum pernah terdengar. Dan jika ada kalanya dia menyiapkan khotbah dengan renungan sebelumnya, maka di depan rakyat yang berkumpul ia kadang-kadang tidak ingat lagi akan apa yang telah direnungkannya, dan ia tidak tahu mengatakan sesuatu lainnya juga.

Dengan tidak malu-malu diakuinya di depan umum, bahwa dia betul telah merenungkan banyak-banyak sebelumnya, tetapi dia sekali-kali tidak ingat lagi akan apa-apa. Lalu tiba-tiba dia dipenuhi dengan kemahiran bicara sedemikian, hingga dia membuat hati para pendengar menjadi takjub. Tetapi kalau dia sesekali tidak tahu mengatakan apa-apa lagi, dia lalu memberikan berkatnya kepada mereka dan melepas mereka untuk pergi, dan itu pun sudah merupakah khotbah bagi mereka” (1Cel 72). 

22. Seorang Fransiskan, religius atau awam adalah anggota sebuah persaudaraan. Dunia yang penuh dengan perpecahan sungguh rindu untuk mendengar bahwa persaudaraan itu memang mungkin, bahwa persaudaraan itu bukan sekadar utopia tetapi adalah kenyataan hidup, bahwa pengampunan dan rekonsiliasi memang dimungkinkan, kalau saja kita mamu memulainya dengan diri kita sendiri. Hidup Fransiskan dalam persaudaraan sejati adalah tugas pelayanan kita masing-masing, yang pertama dan utama. Kita diutus sebagai saudara untuk menjadi saudara bagi siapa saja yang kita temui. 

23. Dengan demikian, seperti Fransiskus, para Fransiskan seharusnya menjadi duta-duta damai. Dalam setiap khotbahnya, sebelum Fransiskus menyampaikan sabda Allah kepada orang-orang yang berkumpul, ia menyampaikan salam damai, katanya, “Semoga Tuhan memberikan damai kepada kalian.” Damai itu disampaikannya dengan amat khidmat kepada pria dan wanita, kepada yang dijumpainya dan kepada yang berpapasan dengannya. Karena itulah banyak orang yang tadinya membenci damai dan keselamatan, lalu dengan bantuan Tuhan memeluk damai dengan segenap hati dan malah menjadi anak-anak damai dan pengejar keselamatan (1Cel 23).

Para Fransiskas sekular,“sebagai Pembawa damai yang sadar bahwa damai itu adalah sesuatu yang harus diusahakan terus menerus, hendaklah mereka merintis jalan menuju persatuan dan kerukunan persaudaraan lewat dialog, sambil tetap percaya bahwa ada benih ilahi dalam diri manusia, dan bahwa kasih serta pengampunan mampu menghasilkan perubahan” (AD OFS Pasal 2 Artikel 18). 

24. Fokus dari evangelisasi Fransiskan biasanya diarahkan kepada saudara-saudari yang miskin dan papa serta mereka yang termarginalisasikan dalam masyarakat, katakanlah orang-orang kusta pada zaman kita ini. Semasa hidupnya Fransiskus menyentuh, mencium dan kemudian merawat orang-orang kusta. Fransiskus malah melihat saat mulai pertobatannya berkaitan dengan saat dia memeluk seorang kusta; kemudian dia mendefininisikan kembali apa yang ‘memuakkan’ dan apa yang menjadi ‘kemanisan jiwa dan badan’ (lihat Was 1-3).

Atas perintah Yohanes Pembaptis para muridnya menemui Yesus dan menanyakan apakah Yesus sungguh Mesias yang dinanti-nantikan itu. Yesus tidak menanggapi pertanyaan para murid Yohanes itu dengan misalnya menunjukkan KTP-Nya di mana tertulis pekerjaan-Nya adalah sebagai “Mesias”. Di tengah-tengah kesibukan karya kasih-Nya Yesus cuma menjawab dengan begitu lugu dan lugas, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan demikian memang preferential option for the poor wajar untuk menjadi satu unsur yang hakiki dalam segala macam bentuk evangelisasi Fransiskan, termasuk yang dilakukan oleh para awam Fransiskan.

Tidak mengherankanlah apabila dalam ensikliknya yang berjudul “Centesimus Annus” [Ulang Tahun ke Seratus] (1 Mei 1991), Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Evangelisasi Baru, yang dewasa ini sangat dibutuhkan oleh dunia dan yang seringkali kami tekankan, di antara unsur-unsurnya yang paling cocok harus mencakup pewartaan ajaran sosial Gereja” (Centesimus Annus, 5). Sebelumnya Sri Paus juga berkata, “Roh Kudus memimpin kita kepada pemahaman hari ini bahwa kekudusan tidak dapat dicapai tanpa suatu komitmen terhadap keadilan” (Sinode Para Uskup 1987). 

25. Integritas ciptaan tidak boleh luput dari proses evangelisasi yang dilakukan oleh setiap Fransiskan. ‘Kidung Saudara Matahari’ hendaknya kita hayati atau nyanyikan tidak hanya pada upacara misarequiem kematian saudara atau saudari kita saja. Khusus bagi para Fransiskan sekular, “….. mereka hendaknya memiliki rasa hormat terhadap ciptaan-ciptaan lain, yang berjiwa atau bukan, yang menjadi lambang Yang Mahatinggi; dan hendaklah mereka sungguh-sungguh berusaha menghindar dari godaan menyalah-gunakan ciptaan, menuju kepada wawasan Fransikan perihal persaudaraan universal” (AD OFS Pasal 2 Artikel 18; lihat juga 1Cel 80). 

Catatan penutup 
Secara sederhana tujuan evangelisasi sebenarnya adalah membuat Yesus Kristus hadir bagi orang lain. Pelbagai contoh dari kehidupan Fransiskus dan tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa teknik evangelisasi yang digunakan adalah dengan memberikan alternatif positif kepada orang-orang yang sedang mengalami situasi yang negatif bagi keselamatan jiwa mereka. Banyak sekali contoh yang menunjukkan bahwa evangelisasi yang telah dilakukan oleh Fransiskus biasanya membawa dampak yang positif bagi martabat orang yang diinjili olehnya, harapan-harpan orang itu, dan kepercayaan dirinya. 

Seperti juga para awam lainnya, setiap Fransiskan sekular dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik ke semua strata kemanusiaan lewat apa yang dikatakannya dan diperbuatnya, sehingga membuat jelas sabda Tuhan Yesus, “Lihatlah, aku menjadikan segala sesuatu baru!”  (Why 21:5).

Semua orang yang melakukan evangelisasi juga harus mampu berkata bersama Rasul Yohanes: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan (umumkan) kepada kamu” (1Yoh 1:1). 

Evangelisasi berasal dari pengalaman mendalam akan Allah. Evangelisasi adalah buah dari sebuah pertemuan pribadi dan mendalam dari seseorang dengan Sang Juru Selamat (Konstitusi Dogmatik Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi, 2). Dengan demikian kita dapat mensyeringkan Tuhan Yesus Kristus kepada orang lain kalau kita tidak mengenal dan mengalami-Nya sendiri dan kita tidak dapat memberitakan Kabar Baik, apabila hati kita sendiri belum siap untuk menerima Kabar Baik itu.


Catatan: Tulisan ini diambil dari majalah PeranTau XII, No.5-6, September-Desember 1999.

Sumber  :  http://catatanseorangofs.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.