Jumat, 25 November 2011

Santo Petrus dari Alcantara (1449-1562; Pesta 19 Oktober)

Hari ini, tanggal 19 Oktober, keluarga besar Fransiskan memperingati Santo Petrus dari Alcántara, seorang mistikus dari Spanyol dan pendiri para Fransiskan tak berkasut Spanyol. Petrus Garavito dilahirkan di Alcántara, Spanyol. Ayahnya adalah seorang pengacara hukum dan ibunya berasal dari keluarga bangsawan. Sejak masih kecil Petrus sudah menunjukkan kebiasaan untuk berdoa dengan serius. Apabila dia sedang berdoa, tak ada seorang pun para pelayan di rumah dapat memperoleh tanggapan dari dirinya.

Di Universitas Salamanca Petrus Garavito mengambil keputusan untuk bergabung dengan Ordo Saudara Dina (Fransiskan). Setelah lulus dari universitas, dia pun berketetapan hati untuk masuk biara Fransiskan aliran ketat. Untuk menghalanginya masuk biara, si penggoda (Iblis) menggambarkan kehidupan nyaman dalam dunia yang dapat dinikmati oleh Petrus, dan pada saat yang sama dia masih mempunyai waktu untuk praktek-praktek kesalehan. Namun doa-doa Petrus yang disampaikan dengan rendah hati kepada Allah mampu mengatasi dan mengalahkan godaan-godaan si Jahat. Pada tahun 1515 Petrus bergabung di biara di Monjarez yang sunyi.

Dalam perjalanannya ke biara tersebut, Petrus memperoleh sebuah tanda jaminan sehubungan dengan panggilan hidup membiara ini. Dia sampai ke sebuah sungai kecil. Karena hujan yang sangat deras, tepi sungai digenangi dengan luapan air sungai. Pada saat itu Petrus tidak mempunyai alat apa pun yang dapat membantunya. Oleh karena itu dia pun berlutut dan mohon pertolongan dari Allah. Secara tiba-tiba, tanpa mengetahui bagaimana semua ini terjadi, tahu-tahu dia sudah berada di seberang sungai.

Begitu masuk biara, Petrus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah agar tercapai suatu kebersatuan dengan-Nya. Dia ditahbiskan imam pada tahun 1524. Kehidupan doa, ulah tapa, mati raga dan sejenisnya mewarnai hidup sehari-hari Petrus. Kendati demikian, Allah menjaga kesehatan Petrus dengan baik. Ia tidak pernah lelah pergi dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka perjalanan misinya ke tengah-tengah orang miskin di provinsi Estremadura. Biasanya misinya dilaksanakan dengan baik.

Banyaknya kegiatan yang dilakukannya itu samasekali tidak mengurangi semangat Petrus untuk berdoa. Dia juga selalu berusaha untuk menularkan semangat yang ada pada dirinya kepada orang-orang lain. Pada tahun 1538 Petrus dipilih menjadi minister dari provinsi Santo Gabriel (Estremadura). Sebagai minister-provinsial, Petrus tidak ragu-ragu sedikit pun untuk mengerjakan tugas dalam biara yang paling rendah sekali pun. Dia mengintrodusir reformasi atas kehidupan Fransiskan dengan ketaatan ketat, namun usulnya ditolak keras oleh para anggota ordo. Petrus kemudian ‘turun takhta’ dan mengundurkan dirinya ke dalam suatu gaya hidup askese di dekat Lisbon, Portugal. Tidak lama kemudian sejumlah saudara dina bergabung dengan Petrus dan mereka membentuk sebuah komunitas. Komunitas ini pada tahun 1560 dihubungkan dengan provinsi Arabida.

Sengsara Kristus merupakan devosi istimewa yang dilakukan Petrus. Yesus Kristus mengorbankan diri-Nya bagi kita, oleh karena itu Petrus melihat tidak sulitlah baginya untuk melayani Tuhan. Karena Kristus menebus dosa kita lewat penderitaan yang begitu berat, maka Petrus pun mempraktekkan laku-tobat yang keras. Adat kebiasaan untuk mendirikan sebuah salib di tempat misi dimulai oleh Santo Petrus dari Alcántara ini. Apabila dimungkinkan, dia akan mendirikan salib di tempat yang memiliki ketinggian sehingga dapat dilihat dari titik mana saja di seluruh paroki.

Dia menulis sebuah risalat tentang doa dan meditasi. Paus Gregorius XV mendeklarasikan bahwa risalat itu ditulis di bawah bimbingan Roh Kudus. Santa Teresa dari Avila yang hidup pada zaman yang sama menginginkan agar Petrus menjadi pembimbing rohaninya. Petrus memang sempat membantu Santa Teresa dari Avila melakukan reformasi dalam Ordo Karmel dan pendirian biara di Avila pada tahun 1562. Seperti kita ketahui, upaya reformasi dari Santa Teresa dari Avila bersama Santo Yohanes dari Salib pada gilirannya melahirkan Ordo Karmelit tak berkasut (OCD).

Pada tahun 1553 Petrus kembali ke Spanyol (dari Portugal) dan sekitar tahun 1556 dia mendirikan biara di Pedrosa yang kemudian menjadi basis para Fransiskan pengikutnya.  Reputasi Petrus yang tinggi di bidang spiritualitas membuat dirinya dicari sebagai penasihat. Bukan hanya Teresa dari Avila yang minta nasihat-nasihat dari Petrus, melainkan juga Kaisar Carlos V minta Petrus menjadi bapa-pengakuannya. Menanggapi permintaan sang kaisar, Petrus mohon agar kaisar jangan terlalu mendesaknya, karena menurut dia, ada banyak imam yang lebih terpelajar dan terkenal ketimbang dirinya.

Petrus adalah seorang yang rendah hati dan penuh kasih dalam membuat penilaian. Pada suatu hari seorang bangsawan mengemukakan kepada Petrus tentang adanya begitu banyak kejahatan dalam dunia. Petrus menjawab: “Benar, masalah-masalah di dunia berada dalam keadaan yang buruk, namun apabila anda dan saya dengan tulus mulai mereformasi diri sendiri, maka sebuah awal yang sungguh baik akan tercipta.” Otobiografi Santa Teresa dari Avila merupakan sumber utama tentang hidup dan karunia-karunia yang dimiliki Santo Petrus dari Alcántara ini.

Petrus dari Alcántara berjumpa dengan Saudari Maut (badani) pada tanggal 18 Oktober 1562. Santa Teresa dari Avila menulis, bahwa dia melihat jiwa Pater Petrus terangkat ke surga. Kemudian dia menampakkan diri kepada Santa Teresa dari Avila dan berkata: “O pertobatan membahagiakan yang membuat aku menikmati kemuliaan yang demikian penuh keajaiban!” Banyak mukjizat, termasuk enam orang mati yang dibangkitkan untuk hidup kembali,  terjadi sebagai jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan kepadanya. Petrus dari Alcántara dikanonisasikan oleh Paus Klemen IX pada tahun 1669.

BAHAN PERMENUNGAN

Santo Petrus dari Alcántara mempraktekkan pertobatan yang keras selama hidupnya, dan untuk itu dia pun memperoleh ganjaran yang indah. Ia suka berkata: “Saya telah membuat kontrak dengan tubuhku; tubuhku telah berjanji untuk menerima perlakuan yang keras dari pihakku di atas muka bumi ini, dan aku telah berjanji bahwa tubuhku itu akan menerima istirahat kekal di surga.” Ganjaran atas pertobatan dapat menjadi milik kita kalau kita menginginkannya. Dan kita mempunyai lebih banyak alasan untuk mempraktekkan pertobatan karena sejak masa kecil kita tidak hidup seperti Santo Petrus dari Alcántara, melainkan penuh dosa. Namun kita tidak perlu meniru praktek pertobatan sangat keras yang dilakukan orang kudus ini. Soal mati raga, ulah tapa dan sejenisnya haruslah dilakukan setelah berkonsultasi dengan pembimbing rohani kita masing-masing.

Yang jelas harus kita lakukan adalah menolak sensualitas dan melakukan silih atas dosa-dosa kita dengan suatu hidup pertobatan sejati. Maka penderitaan kita sekarang akan menghasilkan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (lihat 2Kor 4:17).

DOA: Ya Allah, Engkau menganugerahkan kepada Santo Petrus dari Alcántara karunia pertobatan yang indah dan kontemplasi yang agung. Kami mohon agar kami pun Kauberikan karunia pertobatan seturut kehendak-Mu, sehingga kami dapat lepas dari kuasa kedagingan yang ada pada diri kami, dengan demikian dapat lebih siap untuk memeluk hal-hal surgawi. Amin.


(Sumber: Marion A. Habig OFM, The Franciscan Book of Saints, hal. 789-792 dan Matthew Bunson, Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY, hal. 652-653).

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.