Kamis, 03 November 2011

KETIKA ALLAH BERSUKA CITA
Refleksi dari Lukas 15:1-10,  (Sebuah percakapan imaginer penulis)


Suatu hari aku melihat Bapa sedang melamun di takhtaNya.
Aku menghampiri-Nya dan pelan-pelan aku bertanya kepada-Nya, 
"Bapa, apa yang sedang Kau pikirkan?"

Bapa menoleh ke arahku, dan Ia tersenyum, lalu Ia berkata dengan lembut, 
"Aku hanya sedang memikirkan manusia, anakKu.. Kemarilah."
Aku mendekat perlahan dan bersimpuh didekatNya.

"Manusia? Ada apa dengan mereka?" tanyaku
"Tahukah kau bahwa Aku sangat mengasihi mereka?" tanya-Nya,
"Iya, aku tahu itu, kenapa Tuhan?"

"Aku mengasihi manusia sedemikian besarnya, sehingga Aku merelakan Anak-Ku terkasih, Yesus Kristus untuk turun ke bumi, hidup diantara mereka, menderita, dihina dan akhirnya mati bagi mereka."

"Iya, itu adalah karya penebusan yang sangat indah." kataku
"Tapi...."
Ups..., masih ada tapi dan terasa ada nada sedih di suara-Nya.

"Tapi, mengapa manusia masih juga meragukan kasihKu?" tanya Bapa
Aku terdiam, aku tidak dapat menjawab pertanyaan-Nya, karena aku pun tidak tahu...

"Hari ini, ada satu anakKu menangisi dosanya, dia memohon pengampunanKu, Aku mengampuninya dan Aku sudah tidak mengingat-ngingat lagi dosa yang ia lakukan, tapi...."

"Tapi kenapa Tuhan?"

"Saat Aku berkata demikian, ia menggelengkan kepalanya, ia berkata, tidak akan ada pengampunan lagi atas dosa yang ia perbuat, ia sudah terlalu sering jatuh bangun dalam dosa, ia mengatakan bahwa ia membenci dirinya..."

Aku diam, menantikan Tuhan melanjutkan.

"Kenapa ia memandang hina dirinya? Padahal dia adalah biji mataKu, kekasih hatiKu. Darah Yesus PutraKu sudah tercurah untuknya, Aku sudah mengampuninya, tapi ia tidak percaya. Aku sudah melupakan semua dosanya, tapi ia berkata tidak mungkin. Mengapa ia memandang rendah pengorbanan Yesus di kayu salib?"

"Darah Yesus tercurah di Kalvari untuk menebus dosa mereka, hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada mereka sudah diambil alih oleh PutraKu, sehingga mereka dapat memperoleh keselamatan di dalam Dia, tapi mereka merasa tidak yakin bahwa apa yang telah Dia lakukan sanggup menebus mereka dari maut, mereka tidak yakin dengan karya penebusan yang telah dilakukan oleh PutraKu."

Tanpa sadar, aku menangis, aku membayangkan, seandainya aku sudah memberikan hadiah yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk orang yang aku kasihi, tapi ternyata hadiah itu dianggap rendah, diacuhkan dan dibuang begitu saja. Kira-kira, apakah masih tersisa kasih dalam hatiku untuk mengasihi orang itu ? Kalau itu aku, mungkin aku tidak akan mengasihi orang itu lagi.

"Lalu Tuhan, apakah sekarang Engkau masih mengasihi mereka?" tanyaku kemudian.
"Ya, Aku sangat mengasihi mereka!" Jawab Bapa.

Aku terkejut! Sedemikian besarnyakah kasih Allah untuk manusia?

"Walaupun mereka seperti itu?" tanyaku
"Ya, walaupun seperti itu. Karena Aku rindu suatu hari mereka akan datang kepadaKu dan mengatakan bahwa mereka mengasihiKu."

Aku masih terheran-heran. Siapakah manusia itu sehingga Allah, Sang Pencipta langit dan bumi begitu mengasihinya? Bukankah mereka hanyalah debu dan abu?

Bukankah jika Tuhan mau, Tuhan bisa dengan mudah menghancurkan manusia dan membuat yang lebih baik? Aku rasa hal itu tidak sulit untuk Tuhan, bukankah Ia menciptakan langit dan bumi hanya dengan perkataan saja? Hal seperti ini sangat sulit untuk diterima, mengapa Tuhan sampai sedemikian dalam mengasihi manusia?

Aku memberanikan diriku, aku bertanya lagi kepada Tuhan, "Tuhan, sungguhkah Engkau mengasihi manusia ?"

Tuhan tersenyum dan Ia berkata, "Sangat, Aku sangat mengasihi manusia. Jika tidak, Aku tidak akan mengutus PutraKu Yesus untuk mati bagi mereka. Sekalipun mereka sekarang jauh dari-Ku, Aku sangat rindu mereka kembali kepada-Ku. Karena mereka adalah anak-anak-Ku terkasih."

Mendengar jawaban Tuhan aku tersenyum. Aku mengerti kenapa Allah tetap mengasihi manusia....
Allah memiliki kasih yang tidak bersyarat!
Itulah Allah kita, yang cintaNya kepada manusia begitu besar tanpa syarat..

Tiba-tiba, dari antara suara riuh tawa, ejekan, hujatan dan bahkan kutukan di bumi menyeruak satu suara yang perlahan, lirih, sedih namun BENING dan suara2 riuh tadi seakan hilang.

Suara ini ternyata menarik perhatian Allah, Tuhan kita...
Samar-samar aku bisa mendengar seseorang berdoa...

"Allah yang maha rahim, aku menyesal sungguh atas dosa-dosaku, sebab itu Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah menghina Engkau dan Putra-Mu, tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku.
Aku benci akan segala dosaku dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang maha murah, ampunilah aku, orang berdosa..Amin"

Saat doa itu selesai diucapkan, aku melihat senyum di wajah Tuhan mengembang, lalu berubah menjadi tawa sukacita, Ia sangat bahagia, karena saat itu, ada satu anakNya yang terhilang kembali kepadaNya, dan ia berkata kepada para malaikat:

"Bersukacita dan bergembiralah, karena anak-Ku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapati kembali."

Aku tidak tahu, dosa apa yang kamu perbuat, aku tidak tahu berapa lama kamu tinggal dalam dosa itu. Dan aku hanya tahu satu hal,

"Bapa di Surga mengasihimu, dan tangan-Nya terbuka menunggumu pulang. Kembalilah, jangan biarkan Dia menunggu terlalu lama. Allah mengasihimu!"

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.