Selasa, 22 November 2011

MENDAMPINGI ORANG YANG AKAN MENINGGAL

Bila Anda mengetahui bahwa sebentar lagi Anda akan meninggal, apa yang akan Anda lakukan? Seseorang yang tahu bahwa dia akan meninggal kemungkinan besar akan mengalami penurunan, entah itu harapannya atau kondisi emosinya. Dalam keadaan seperti ini, konselor pastoral sebaiknya mendampingi dengan sabar dan memberikan penguatan iman, sehingga pengharapannya di dalam Kristus tidak goyah.

Sebagai seorang konselor, saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang menderita kanker, namanya Lois. Ia membicarakan ketakutannya akan rasa sakit. Lois juga takut menghadapi rasa kehilangan yang mungkin akan dialaminya pada waktu menjelang kematiannya. Dia cemburu ketika melihat sepasang suami istri yang tua berjalan bergandengan. Dia juga membicarakan pentingnya untuk tidak menunda menghadapi persoalannya dengan orang lain.

Saya pun mengatakan kepadanya, bahwa keadaannya dalam bulan-bulan terakhir, menjadi lebih penting dan bersemangat daripada bulan-bulan sebelumnya. Lois pun menanggapi, "Bila Anda mengetahui masa depan Anda di sini mungkin pendek, itu akan membuat masa sekarang menjadi lebih penting." Ketika kami mengakhiri pembicaraan kami, dia mengatakan bahwa adanya kesempatan membicarakan pengalamannya secara lengkap benar-benar sangat berarti baginya. Saya katakan kepadanya betapa saya juga tersentuh secara mendalam oleh segala hal yang diceritakannya.

Lois menolong saya melihat lebih jelas bahwa bagi sebagian orang, proses mendekati kematian dapat menjadi suatu tahap penting dari pertumbuhan individu yang terus-menerus!

Keadaan seseorang saat menjelang kematian sama uniknya dengan keadaan seseorang dalam menjalani hidupnya. Berikut ini, ada lima hal yang membantu sebagian orang dalam menghadapi kematian, sehingga dapat memperoleh perspektif yang lebih luas, menggerakkan kekuatan baru, dan kemudian meninggal dengan tenang.

1. Memunyai suatu komunitas penggembalaan, yang terdiri atas orang-orang yang akan mendengar dan memberi dukungan yang hangat.

Keadaan menjelang kematian adalah suatu pengalaman yang sangat pribadi dan suatu pengalaman antarpribadi yang hebat. Dalam masyarakat kami, ketika orang merasa sendirian, kekayaan jaringan antar pribadi seseorang dapat membuat perbedaan yang dahsyat dalam kualitas keadaan mendekati kematian seseorang.

2.  Menyelesaikan sebanyak mungkin masalah yang belum diselesaikan dalam kehidupan mereka, khususnya dalam hubungan dekat mereka (misalnya, mengungkapkan kasih, atau meminta dan menerima pengampunan orang lain). Ted Rosenthal, seorang konselor, menjelaskan, "Saya pikir orang tidak takut akan kematian. Apa yang mereka takutkan adalah ketidak sempurnaan hidup mereka."

3. Melaksanakan "kerja kedukaan" yang kompleks karena keadaan mendekati kematian, sehingga mereka dapat mencapai pengalaman penerimaan (Kubler-Ross).

4.  Memunyai suatu sistem iman, suatu rasa percaya, dan merasa betah dalam alam semesta, memberi suatu arti yang melebihi kehilangan yang berlipat ganda karena keadaan menjelang kematian.
  
5. Mempunyai suatu latar tempat seseorang dapat meninggal dengan bermartabat. Gerakan pembangunan rumah perawatan pasien terminal (hospice) ialah pembangunan yang paling manusiawi dalam tahun-tahun terakhir ini, berkaitan dengan keadaan menjelang kematian.

Cicely Sander, seorang dokter Kristen, telah merintis berdirinya rumah perawatan pasien terminal yang pertama pada tahun 1967 yang bernama panti St. Christopher. Panti ini terletak di daerah pinggiran kota London. Sanders mengatakan, sebuah rumah perawatan pasien terminal, baik itu berupa panti asuhan atau bangsal rumah sakit, atau rumah yang dikelola oleh perawat keliling atau oleh staf rumah sakit, bertujuan untuk memampukan pasien agar dapat hidup hingga batas potensi kekuatan fisik, mental, dan emosional, serta hubungan sosialnya.

Program "hospice" memungkinkan pasien terminal meninggal di rumahnya dengan dikelilingi oleh anggota keluarganya. Jadi, dia tidak mati dalam suasana yang impersonal (tak berpribadi), yang merupakan ciri khas dari banyak rumah sakit. Hal ini dimungkinkan karena program hospice ini dengan hati-hati mengurus pasien. Di samping itu, seorang tenaga sukarelawan sering berkunjung untuk memberi dukungan dan pendampingan pada orang yang akan mati dan keluarganya. Sukarelawan yang bekerja dalam rumah perawatan pasien terminal, terus berhubungan dengan keluarga ketika mereka mengerjakan tugas kedukaan mereka sesudah kematian.

Program penggembalaan suatu jemaat, sepantasnya belajar dari dan bekerja sama secara penuh dengan program rumah perawatan pasien terminal setempat, atau berprakarsa membantu kelancaran program semacam itu jika belum ada. Para pendeta sepantasnya mendorong anggota jemaat untuk mengikuti pendidikan rumah perawatan pasien terminal dan berpartisipasi dalam pelayanan ini.


Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: Basics Types of Pastoral Care and Counseling
Judul buku: Tipe-Tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral
Judul asli artikel: Membangun dan Menuntun Suatu Kelompok
Penyembuhan Kedukaan
Penulis: Howard Clinebell
Penerjemah: Pdt. B.H. Nababan, DPS
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2002
Halaman: 301 -- 302
Alamat URL buku:
http://books.google.com/books?id=OY-zyvkF0xgC&pg=PA301&lpg=PA301



TANYA JAWAB: SIAPAKAH YANG
HARUS MENDAMPINGI ORANG YANG AKAN MENINGGAL?

Orang tua kerap membebankan pendidikan agama anak-anak kepada gereja serta sekolah. Mereka kurang menyadari bahwa pendidikan agama yang paling utama adalah di dalam keluarga dan harus diawali dalam keluarga. Begitu juga dengan rawatan iman bagi orang-orang yang akan
meninggal. Hal ini kerap kali dibebankan pada gereja, padahal kita semua terpanggil untuk menjadi pemberita Injil bagi mereka.

Konseli: Siapa yang harus mendampingi orang-orang yang akan meninggal?

Konselor: Seperti halnya pendidikan, pelayanan rawatan iman bagi orang-orang yang akan meninggal juga dimulai dari keluarga. Mereka yang bisa mendampingi adalah:

1. Orang Tua.

Seperti pendidikan agama bagi anak-anak dan orang sakit yang belum berkeluarga, maka ayah dan ibu bertugas mendampingi serta memberitakan kebaikan Tuhan bagi semua orang dan tentang rumah kita di surga. Bacalah Ulangan 6:6-9.

2. Suami atau Istri.

Pada waktu pemberkatan pernikahan di gereja, calon suami atau istri mengucapkan janji pernikahan antara lain: "... aku akan mengasihi engkau baik dalam keadaan susah atau senang, miskin atau kaya, sakit atau sehat, sampai maut memisahkan kita." Mengasihi berarti mendampingi, merawat jasmani dan rohani, sampai akhir hayat.

3. Anak-Anak.

Semua anak berkewajiban merawat orang tua mereka yang sakit atau sudah tua. Hukum kelima berbunyi, "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12)

Sia-sialah semua ibadah, penyembahan, dan persembahan kita kepada Tuhan, jika kita tidak menunjukkan kasih dan hormat kepada orang tua. Kita semua menginginkan hidup yang berkecukupan, usaha dagang yang diberkati, dan rumah yang sejahtera. Semua itu akan kita peroleh jika kita mengasihi dan menghormati orang tua.

4. Gereja.

Pastor atau pendeta memang berkewajiban merawat dan memelihara iman semua anggota jemaatnya. Selain melayankan sakramen pada waktu-waktu tertentu, mereka juga secara intim mengunjungi dan mendoakan umat, khususnya yang sudah tidak dapat hadir dalam kebaktian atau upacara gerejawi. Dalam gereja juga ada "Komisi Perkunjungan", yang secara rutin mengunjungi orang sakit dan lansia.

5. Saudara, Kerabat, dan Handai Tolan.

Semua orang terpanggil untuk menjadi pemberita Injil bagi sesamanya, tetapi hanya sedikit sekali orang yang melakukannya.

Konseli: Mengapa?

Konselor: Karena orang-orang itu merasa tidak mampu, tidak tahu harus
berbicara apa dan berbuat apa.

Hal-hal yang dapat kita lakukan adalah:

a. Mengunjungi dan mengajak berbicara. Kebanyakan mereka kesepian dan merasa dikucilkan. Mereka ingin didengarkan dan diperhatikan.
b. Membacakan firman Tuhan yang telah kita persiapkan lebih dulu. Singkat saja.
c. Mendoakan mereka.
d. Meminjami buku rohani kalau mereka masih bisa membaca atau ada yang membacakan.
e. Mengajak mereka menyanyikan lagu-lagu rohani yang sudah lama mereka kenal.


Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Pergi dalam Damai Sejahtera
Judul asli artikel: Siapa yang Harus Melakukan?
Penulis: Debora K. Tioso
Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta 2010
Halaman: 22 -- 25

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.