Rabu, 14 Desember 2011

 “BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK AKU”

Ketika Yohanes mendapat kabar tentang semua peristiwa itu dari murid-murid-Nya, ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata, “Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” 


Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Lalu Yesus menjawab mereka, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta  melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.” (Luk 7:18-23)

Yohanes Pembaptis sedang berada dalam penjara Herodes (Luk 3:19-20), menghadapi kemungkinan untuk dihukum mati. Dalam kegelapan selnya, kiranya dia juga bertanya kepada dirinya sendiri apakah “nasib” seperti itu memang ada dalam rencana Allah? Apakah ada yang salah dalam khotbah-khotbahnya? Salahkah dia jikalau berani berkonfrontasi dengan raja Herodes? Apakah dia membuat kesalahan ketika mengatakan kepada para muridnya bahwa Yesus adalah sang Mesias?

Semua pertanyaan ini telah mendorong dirinya mengutus beberapa orang muridnya untuk bertemu dengan Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu?” (Luk 7:19). Dan jawaban dari Yesus barangkali membuatnya menjadi terkaget-kaget. Yesus mengacu pada segala mukjizat yang dibuat-Nya untuk kepentingan orang banyak (Luk 7:22), bahkan ketika Dia “membiarkan” Yohanes – sepupunya sendiri – untuk “tamat” dalam penjara.

Hidup dalam/oleh iman tidak selalu mudah. Melakukan discernment atas panggilan Allah bagi kehidupan kita, pada waktu kita sedang mempertimbangkan pengambilan keputusan-keputusan sulit, menjalani penderitaan karena sakit-penyakit – semua dapat menyangkut banyak kesakitan serta kepedihan. Seringkali jawaban-jawaban atas doa-doa kita tidak langsung datang, atau tidak datang dengan cara seperti kita harapkan atau inginkan, sehingga kita menemukan diri kita berada dalam pergumulan batin (katakanlah intra-personal conflict). Isu-nya di sini adalah apakah kita akan menaruh kepercayaan kepada Tuhan Yesus dan menggantungkan diri kepada kasih dan hikmat-Nya, ataukehilangan iman-kepercayaan kepada-Nya.

Jawaban Yesus kepada kedua orang murid Yohanes Pembaptis sangat menarik. Ia tidak memberikan jawaban “ya” atau “tidak”, konsisten dengan apa yang dikatakan-Nya dalam kesempatan lain: “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar” (Yoh 5:31-32). 


Yesus juga tidak langsung membuka dompet-Nya dan mengambil KTP-Nya, kemudian menunjukkan KTP itu kepada kedua murid Yohanes Pembaptis seraya berkata: “Lihat ini, nama: Yesus; tempat/tanggal lahir: Betlehem, Yudea, tanggal 1-1-01; pekerjaan: Mesias dst.” Yesus memberikanjawaban alkitabiah yang jauh lebih dapat mengungkapkan tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Nabi Yesaya telah menggambarkan sukacita dari mereka yang ditebus: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6; bdk. Luk 7:22). 


Peranan Yesus adalah untuk membawa kepada orang-orang tertindas, miskin, ‘wong cilik’, segala berkat yang sudah dinubuatkan dalam Kitab Yesaya. Kerajaan-Nya adalah kerajaan keadilan, kasih dan damai-sejahtera. Kerajaan itu datang seturut ‘pemikiran’ cara Allah sendiri, tidak dengan kekerasan, melainkan melalui undangan penuh kasih.

Segala mukjizat kesembuhan yang dilakukan Yesus dan kabar baik yang diwartakan oleh-Nya mencerminkan pekerjaan Mesias seperti dinubuatkan kitab para nabi. Jadi memang ada jawaban yang lebih bermakna bagi Yohanes Pembaptis daripada sekadar jawaban “ya” atau “tidak”. Kedua murid Yohanes Pembaptis akan melaporkan kembali kepadanya bahwa apa saja yang dikerjakan oleh Yesus memang penggenapan dari nubuatan-nubuatan mengenai Mesias, “Ia yang akan datang” (Luk 3:16). 


Yang patut dicatat adalah pesan  tambahan yang diberikan oleh Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Luk 7:23). Kata-kata Yesus ini merupakan suatu tantangan bagi Yohanes Pembaptis, dan juga tantangan bagi kita semua, yaitu untuk membuang dari pikiran kita pendapat yang terbentuk sebelumnya mengenai bagaimana Allah seharusnya bertindak dan untuk siapa. Ingat: Allah adalah Allah! Kita manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya.

Dalam Yesus kita semua terberkati, kita semua berbahagia, karena dalam Dia kita menerima kehidupan. Dia datang, menyembuhkan, mewartakan kabar baik, menderita, wafat dan bangkit kembali, sehingga kita dapat turut ambil bagian dalam kehidupan kekal yang telah dimiliki-Nya sejak keabadian sebagai Firman Allah (lihat Yoh 1:1 dsj.) Ia datang untuk mendamaikan kita dengan Bapa surgawi dan memberikan kepada kita kuasa Roh Kudus.

Kepada  semua orang yang tidak menemukan batu sandungan dalam diri-Nya, tetapi yang percaya dan  menerima-Nya, Dia memberikan kesempatan untuk partisipasi penuh dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Kalau begitu halnya, betapa terberkatinya kita, betapa bahagianya kita! Oleh karena itu kita – dengan penuh iman – harus berupaya untuk memperoleh kehidupan sedemikian.

Teristimewa dalam masa Adven ini, dalam suasana doa kita harus melakukan permenungan atas berbagai kesaksian yang ada dalam Kitab Suci, kesaksian Gereja sepanjang masa, termasuk kesaksian para kudus dan kesaksian umat beriman pada zaman modern ini.


GAMBARAN TENTANG YESUS

Yohanes Pembaptis dipanggil dan diutus sebagai perintis jalan bagi sang Mesias. Karena keculasan hati manusia, Yohanes dijebloskan ke dalam penjara. Dari suatu wilayah luas-terbuka dan bebas-lepas, ia sekarang berada dalam sebuah ruang sel tertutup dan sempit …… bagaikan seekor burung yang digunting sayap-sayapnya.

Dalam situasi yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila seseorang sampai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengenai masa lampau kehidupannya, juga mengenai tujuan hidupnya. Begitu pula halnya dengan Yohanes!

Kiranya menurut pandangan Yohanes, pribadi Yesus itu tidak cocok dengan beberapa segi pemahamannya tentang sosok seorang Mesias. Gambarannya tentang Yesus tidak sesuai dengan apa yang ia telah terima dengan ketulus-ikhlasan hati dari berbagai nubuatan Perjanjian Lama. 


Yesus itu dibayangkannya sebagai seorang yang sudah mengayunkan kapak guna menebang pohon beserta akar-akarnya; atau sebagai orang yang memegang nyiru untuk menapis dengan cermat lalu menyimpan gandum dalam lumbungnya, sedangkan sekam yang tinggal dibuangnya dalam api yang tak terpadamkan : “Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan” (Luk 3:17).

Dalam penjara Yohanes menyadari bahwa Yesus bertindak lain sekali dengan persepsinya tentang Yesus. Yesus tidak memutuskan buluh yang patah terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar (lihat Yes 42:2). Yesus lebih menyerupai Hamba YHWH, sesuai yang dilukiskan dalam Kitab Yesaya (lihat Yes 52:13-53:12), daripada seorang nabi besar dan dahsyat-perkasa, yang dengan segala kekuatannya memusnahkan ketidakadilan dan mendirikan sebuah kerajaan keadilan di atas bumi ini. Singkatnya: Yesus tampak lain daripada apa yang diinginkan/dibayangkan oleh Yohanes.

Kita tahu bahwa pada awalnya para rasul juga mempunyai gambaran lain tentang Yesus. Ingatlah peristiwa di mana Simon Petrus dihardik oleh Yesus karena dia berpandangan bahwa “Mesias, Anak Allah” tidak cocoklah untuk menderita sengsara (lihat Mat 16:22-23). Hal yang sama terdapat pada banyak orang Yahudi pada zaman itu, terutama di kalangan para pemuka agama bangsa itu. 


Akan tetapi Yohanes mengambil sikap sangat tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri, yakni dia minta penjelasan dari Yesus sendiri. Hal inilah yang menggambarkan Yohanes sebagai “pahlawan kepercayaan” yang luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri tidak mempengaruhi kepercayaannya kepada Yesus. Betapapun lainnya sosok Yesus daripada yang dibayangkan olehnya, Yohanes tetap setia kepada-Nya.

Oleh karena itu, disuruhnyalah dua orang muridnya bertanya kepada Yesus apakah Ia-lah Yang-Akan-Datang itu, atau seorang lain yang harus dinantikan (Luk 7:18-20). Jawaban yesus cocok seluruhnya dengan tindakan-Nya; cintakasih, bela rasa dan kasih-Nya terhadap orang miskin, menderita sakit-penyakit dan berkekurangan. Jawaban itu diakhiri-Nya dengan suatu peringatan yang bukan hanya bagi Yohanes, melainkan juga bagi semua orang segala zaman yang berupaya mencari relasi dengan Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Luk 7:23).

Apa yang terjadi pada diri Yohanes dapat terjadi pula pada diri setiap insan. Gambaran yang dimilikinya tentang Yesus mungkin saja tidak cocok dengan kenyataan. Semakin kita menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, semakin besar pula kemungkinan timbulnya pertanyaan dan kebimbangan. Namun justru dalam situasi sedemikianlah akan menjadi nyata kebesaran dan kekuatan iman-kepercayaan kita. Yohanes yang seakan-akan berdiri di ambang peralihan dari masa lama kepada masa baru, menunjukkan jalan yang harus kita tempuh: Pada jalan ini dia masih memegang peranan yang luhur sebagai pendahulu dan perintis bagi Yesus Kristus.

Yesus sungguh mendengarkan doa-doa kita dengan penuh bela rasa. Satu alasan mengapa Yesus tidak selalu menjawab doa-doa kita pada saat dan dengan cara seperti kita inginkan, adalah karena Dia ingin memberikan kepada kita sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hanya dapat kita terima selagi kita bertekun dalam iman. 


Yesus mengetahui bahwa apabila kita sampai ke titik penyerahan diri secara lengkap-total kepada-Nya dan kepada rencana-Nya atas diri kita, maka kita akan mengenal dan mengalami kedamaian yang tak tergoyahkan. Yesus menginginkan iman kita. Dia mencari hati yang akan menjadi semakin kecil agar Dia dapat menjadi semakin besar – suatu rumusan kehidupan yang diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis (Yoh 3:30).

Dalam bacaan pertama ada tertulis: “Akulah TUHAN (YHWH) dan tidak ada yang lain” (Yes 45:18). Marilah kita masing-masing melakukan pemeriksaan batin untuk mengidentifikasikan apa saja yang menggoda kita sampai kehilangan kepercayaan kepada Allah. 


Di sinilah pergumulan itu terjadi. Di sinilah kita mempunyai kesempatan untuk menjadi kecil – melepaskan rencana-rencana “hebat dan besar” kita sendiri, membuang rasa takut kita tentang apa yang akan terjadi, dan percaya penuh keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan kepada kita hikmat-kebijaksanaan, kekuatan dan kasih yang kita butuhkan.


Sumber  :  http://catatanseorangofs.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.