Jumat, 02 Desember 2011

Nyanyian Rohani Anak : Sebuah Sarana Pewartaan Injil

Oleh: Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi Pr  

Tugas mewartakan Injil adalah panggilan setiap pengikut Kristus. Tuhan menghendaki agar kabar baik-Nya itu diteruskan kepada segala makhluk (Mrk 16:15), sehingga semua bangsa pun menjadi murid-Nya, yang setia melakukan semua yang telah diperintahkan-Nya (Mat 28:19-20a). Sasaran pewartaan Injil ini juga mencakup anak-anak, yang sejak dini dijadikan murid-murid Yesus melalui pembaptisan. Selanjutnya, mereka perlu diajar melakukan semua perintah Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun 2008-2012 arah kerasulan Kitab Suci di Indonesia adalah mendekatkan kitab suci kepada anak-anak. Aneka upaya telah dicoba dan dilakukan, termasuk dalam lokakarya "Menyanyikan Firman" di Malang, 15-16 Oktober 2011, dengan maksud melalui nyanyian anak yang diciptakan maka Firman Tuhan itu bisa dinyanyikan, dihafal, diresapkan dalam hati, dan terlebih dipraktekkan oleh anak-anak dalam hidup sehari-hari. Rasul Paulus menasihatkan agar kita memanfaatkan mazmur, kidung, dan nyanyian rohani untuk saling mengajar dan meneguhkan iman (Ef 5:19; Kol 3:16). Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi pendasaran biblis-teologis karya pewartaan Injil melalui sarana nyanyian rohani anak.

A.      Umat Allah yang Senang Menyanyi

Bangsa Israel adalah bangsa yang suka menyanyi, sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan gembira, sukacita, dan syukur atas karya Allah dalam hidup mereka. Misalnya nyanyian syukur setelah pembebasan dari Mesir (Kel 15:1-15), nyanyian sukacita atas pemberian air di padang gurun (Bil 21:17-18), dan nyanyian Hakim Debora dan Barak atas kemenangan terhadap musuh (Hak 5:1-31).

Setelah Bait Allah dibangun oleh Salomo, mulai ditentukan aneka petugas yang akan menyanyi dan mengiringi ibadat dengan pelbagai alat musik (1 Taw 15:16-24). Kendati selama pembuangan Babel, liturgi Bait Allah tidak bisa dilangsungkan, toh di antara umat yang kembali dari pembungan Babel masih terdapat dua ratus penyanyi laki-laki dan perempuan (Ezr 2:65). Bisa jadi kelompok ini berkembang dari liturgi di sinagoga selama pembuangan Babel itu.

Bagaimana dengan kesaksian Perjanjian Baru sendiri? Injil secara eksplisit menyebutkan bahwa setelah perjamuan malam terakhir Yesus dan para murid-Nya menyanyikan nyanyian pujian saat mereka menuju bukit Zaitun (Mat 26:30; Mrk 14:26). Apa yang dinyanyikan tidak disebutkan secara eksplisit. Bisa jadi yang dinyanyikan adalah bagian kedua dari Halel, yakni Mzm 115-118, tetapi bisa juga suatu nyanyian lain.

Beberapa Bapa Gereja melihat teks ini sebagai inspirasi nyanyian madah syukur sesudah komuni. Paulus dan Silas yang dipenjarakan di Filipi pun tetap berdoa dan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah sehingga terjadilah gempa yang hebat sehingga mereka pun bisa terlepas (Kis 16:25).

B.      Para pengarang lagu rohani dalam Alkitab

Dalam Kanon Perjanjian Lama kita terdapat kelompok "Nyanyian dan Kebijaksanaan", selain kelompok kitab Taurat, Sejarah, dan Nabi-Nabi. Yang dimaksudkan dengan Nyanyian di sini adalah kitab Kidung Agung dan Mazmur yang dari bentuk dan pembawaannya merupakan suatu nyanyian.

Mazmur sekaligus merupakan doa, puisi, dan nyanyian. Sementara Kidung Agung yang berasal dari nyanyian cinta kedua (calon) mempelai hendak mengagungkan cinta antara Tuhan dan umat-Nya. Tradisi menganggap bahwa Mazmur berasal dari Daud (bdk. Am 6:5), dimana banyak mazmur berjudul "dari Daud", sementara Kidung Agung dianggap ditulis oleh Salomo yang piawai menulis sajak dan lagu. Dia telah menggubah 3000 amsal dan 1005 nyanyian. Dia telah menulis sajak tentang pelbagai hal (1 Raj 4:32-33).

Selain kedua tokoh besar itu, dalam Alkitab juga ditampilkan beberapa tokoh yang telah mengarang lagu rohani, yakni:

Miriam, kakak Musa (Kel 15:21) - begitu menyaksikan pasukan Mesir binasa di laut, sementara orang Israel berhasil menyeberang dengan kaki kering.
Musa (Ul 31:22) - lagu ini dimaksudkan sebagai kesaksian atas karya Tuhan (Ul 32:19).

Tentu orang-orang sederhana yang secara spontan melambungkan pujian begitu menyadari kasih Tuhan atas diri mereka, seperti Hana (1 Sam 2:1-10), Bunda Maria (Luk 1:46-56), Zakharia (Luk 1:67-79), dan Simeon (Luk 2:29-32).

C.      Mengenal Lebih dalam Nyanyian Rohani dalam Alkitab

Mari sejenak kita menyimak secara singkat jenis lagu, alat musik, dan pola lagu yang ada dalam Alkitab. Berdasarkan isi dan waktu dinyanyikannya, setidaknya kita mendapati empat jenis lagu, yakni:

Kebanyakan lagu bernada gembira dan sukacita, yang menggambarkan kegembiraan dalam pesta dan juga pujian kepada Tuhan. Lagu gembira ini tidak cocok bagi mereka yang berduka (Ams 25:20). Maka saat dibuang di negeri Babel, orang Israel enggan menyanyikan lagu sukacita Sion (Mzm 137:3). Lagu gembira dibawakan dengan penuh sukacita dan memakai alat-alat musik (1 Sam 18:6; 1 Taw 13:8).

Para pendengarnya diharapkan turut terlibat bergembira (bdk. Luk 15:25; Mat 9:23-24).

Nyanyian ratapan dan kesedihan, misalnya saat Daud meratapi kematian Saul dan Yonatan (2 Sam 1:17), juga suatu nyanyian ratapan Yeremia atas kematian Yosia (2 Taw 35:25) dan kitab Ratapan yang menggambarkan ratapan nabi Yeremia atas keruntuhan kota Yerusalem dan Bait Allah-Nya.

Lagu-lagu ziarah dalam Mazmur mengiringi para peziarah mendaki bukit Zion, tempat Bait Allah berada. Mis Mzm 120-134.

Kumpulan lagu cinta yang terdapat dalam kitab Kidung Agung, biasanya dinyanyikan pada pesta pernikahan.

Selanjutnya mengenai alat musik yang dipakai untuk mengiringi nyanyian, bisa dibedakan tiga jenis, yakni alat musik bertali, alat musik tiup, dan alat musik pukul. Alat musik bertali meliputi kecapi (Kej 4:21; Kel 31:27; 1 Sam 16:23); gambus yang dipetik dengan jari (1 Sam 10:5), rebab, dan serdam (Dan 3:5). Sementara alat musik tiup terdiri dari seruling, sangkakala yang berasal dari tanduk, canang yang bergemerincing (bdk. 1 Kor 13:1). Adapun yang termasuk alat musik pukul adalah gong (1 Kor 13:1), giring-giring yang dipasang pada pakaian imam (Kel 28:33); ceracap (Mzm 150), yang berbentuk seperti dua tempurung atau sebuah piala yang dipukuli; dan rebana, dimana satu tangan memegangnya dan tangan yang lain memukulnya (bdk. Anak Yefta dlm Hak 11:34).

Bagaimana cara mereka membawakan lagu? Para ahli belum menemukan apakah bangsa Israel mengenal sistem notasi. Dalam mazmur disebutkan aneka cara membawakan mazmur, dimana pada bagian judul disebutkan "Menurut lagu...". Pola-pola lagu yang terdapat pada mazmur antara lain:

Rusa di kala fajar (Mzm 22) * Gitit (8, 81,84)
Yang ke delapan Mzm 6, 12) * Mahalat (Mzm 53, 88)
Bunga bakung (Mzm 45, 69, 80) * Mut Laben (Mzm 9)
Bunga bakung kesaksian(Mzm 60) * Alamot (Mzm 46)
Jangan memusnahkan (Mzm 57, 58, 59, 75)
Merpati di pohon-pohon tarbantin yang jauh (Mzm 56)

Agaknya ini suatu pola lagu, bagaimana mazmur tersebut dibawakan. Sayangnya, sampai sekarang para ahli belum mengetahui bagaimana pola-pola lagu tersebut dinyanyikan.

Kita memang tidak banyak tahu bagaimana suatu lagu atau mazmur itu dulu dinyanyikan oleh bangsa Israel. Namun, yang pasti nyanyian sungguh membawa dampak dan pengaruh baik bagi mereka yang menyanyikan maupun bagi mereka yang mendengarkan, seperti pengalaman Paulus dan Silas yang berada di dalam penjara Filipi tadi (Kis 16:25-26).

Yang perlu dicatat lagi, bunyi permainan kecapi Daud membuat Saul merasa lega dan nyaman dan roh jahat yang ada padanya pun menjauh (1 Sam 16:23). Sementara pengalaman nabi Elisa sendiri, begitu mendengarkan permainan kecapi, maka kekuasaan Tuhan meliputi dia(2 Raj 3:15). Di sini kita bisa menyimpulkan bahwa musik sungguh memberikan ketenangan, bahkan suatu pengalaman akan Allah.

D.     Nasihat untuk Memanfaatkan Nyanyian Rohani

St. Paulus melihat bahwa mazmur adalah salah satu karunia yang perlu dipersembahkan dalam pertemuan jemaat dengan maksud untuk membangun jemaat setempat (1 Kor 14:26). Dia menasihatkan agar nyanyian rohani dimanfaatkan di antara jemaat Kristen:

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu (Kol 3:16).

Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Ef 5:19).

Dengan demikian nyanyian rohani sungguh bisa dimanfaatkan untuk saling mengajar dan mengingatkan, sedemikian sehingga perkataan/Firman Tuhan semakin meresap dan terbatinkan.

Sementara Penulis Surat Yakobus menganjurkan, "Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!" (Yak 5:13b). Dengan demikian kiranya ada korelasi antara menyanyi, bergembira, dan kemerdekaan anak-anak Allah (Rom 8:21). Anak-anak Allah bisa menghayati apa artinya kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Mat 6:34b). Bahkan pada mulut bayi dan anak-anak yang menyusu telah disediakan puji-pujian (Mat 21:16). Maka bukanlah hal yang berlebihan bila kita juga mengajak anak-anak untuk menyanyi dan memuliakan Tuhan dalam nyanyian rohani.

E.      Nyanyian Rohani dalam Gereja

Sejak awal Gereja menampilkan diri sebagai komunitas yang suka bernyanyi, entah dengan cara didaraskan (bdk. "satu hati dan satu suara", dalam Rom 15:5-6) ataupun ditemukannya notasi lagu gerejani pada abad III. St. Agustinus sendiri merumuskan pengalaman sukacita dan terharu saat mendengarkan lagu-lagu dalam ibadat gerejani:

Betapa aku menangis, karena madah dan nyanyianmu, sangat terharu oleh suara yang merdu dalam gerejamu! Suara-suara itu masuk ke dalam telingaku dan meneteskan kebenaran ke dalam hatiku; perasaan-perasaan saleh bergelora di dalamnya, air mataku mengalir, dan aku memperoleh kepuasan hati yang sejati" ( Pengakuan 9, 6, 14 - dikutip dalam KGK 1157).

Sampai sekarang kita mengenal ungkapan St. Agustinus juga " Qui bene cantat bis orat ", barangsiapa menyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali. Baru pada abad VI Paus Gregorius Agung mengawali penggubahan lagu gerejani yang kini kita kenal sebagai lagu gregorian.

Yang menarik adalah nyanyian rohani tidak hanya dimanfaatkan dalam ibadat, tetapi juga dalam katekese dan pengajaran iman oleh para misionaris, seperti kesaksian St. Fransiskus Xaverius (1506-1552) berikut ini:

Syukur kepada Allah! Di Ternate ini sudah menjadi kebiasaan, anak lelaki di jalan-jalan dan anak perempuan serta wanita di rumah, para buruh di perkebunan dan nelayan di laut, siang-malam menyanyikan lagu suci, bukan lagi nyanyian-nyanyian kotor. Mereka senang menyanyikan Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kesepuluh Perintah Allah, Perbuatan-Perbuatan belas kasih, Pengakuan Dosa Umum, serta banyak lagu dan doa seperti ini. Mereka itu, baik yang baru bertobat maupun yang masih kafir, menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Syukur kepada Allah, bahwa saya dengan cepat disukai, baik oleh orang Portugis di pulau ini maupun oleh orang pribumi yang beragama Kristen dan bukan!

Dari kesaksian Sang Misionaris ulung ini kita bisa belajar : 

Pertama, cara menghafalkan pokok-pokok iman adalah dengan menyusunnya menjadi sebuah nyanyian yang bisa dihafalkan dan dinikmati. 

Kedua , mereka bisa menyanyikan kapan dan dimana saja, sehingga mereka dapat terus diingatkan akan pokok-pokok iman tersebut, tetapi juga bisa mewartakannya bagi orang sekitar. 

Ketiga , mereka menyanyikannya dalam bahasa mereka sendiri, dengan demikian bisa diduga bahwa syairnya bisa mereka mengerti dan lagunya cocok dengan konteks budaya setempat. 

Keempat , buah dari pewartaan ini St. Fransiskus Xaverius bisa diterima oleh semua orang. Semoga kesaksian Sang Pelindung Karya Misi ini juga memberi inspirasi untuk karya pewartaan Injil saat ini.

F.      Nyanyian Rohani Menurut Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II juga menaruh perhatian pada kebudayaan, juga kepada para seniman sebagai pelopor kebudayaan. Dalam Gaudium et Spes art. 62, paragraf 4 dinyatakan sebagai berikut:

Oleh karena itu, perlu diusahakan, supaya para seniman-seniwati merasa, bahwa mereka dihargai oleh Gereja dalam kejuruan mereka sendiri, lagi pula supaya dengan menikmati kebebasan yang sewajarnya mereka lebih mudah mengadakan pertukaran dengan jemaat Kristen. Juga bentuk-bentuk baru kesenian, yang menanggapi selera masyarakat sekarang menurut perangai pelbagai bangsa dan sifat khas daerah-daerah, dihargai oleh Gereja.

Hendaknya itu semua mendapat tempatnya juga di tempat ibadat, bila dengan cara pengungkapan yang disesuaikan dan selaras dengan tuntutan-tuntutan liturgi, mengangkat hati umat kepada Allah.

Demikianlah kemuliaan Allah tampil makin cemerlang, dan pewartaan Injil makin jelas bagi daya tangkap manusia, serta nampak bagaikan tumbuh dari dalam kenyataan hidupnya

Sementara berkaitan dengan para pengarang lagu rohani, konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi menyapanya secara khusus. Melalui aneka lagu rohani yang mereka ciptakan diharapkan umat bisa memanfaatkannya untuk ibadat dan devosi umat (SC 118). Adapun sumber inspirasi lagu rohani ini bisa berasal dari sumber-sumber Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi (SC 121). Mereka juga dihimbau untuk memanfaatkan pula lagu-lagu kerakyatan (SC 119), yang bisa melahirkan lagu-lagu inkulturatif. Berkaitan dengan penciptaan lagu rohani untuk liturgi, diharapkan para pengarang lagu rohani juga mendapatkan pendidikan liturgi yang memadai (SC 115).

Penyusunan lagu rohani yang bersumber dari kitab suci, kiranya sekaligus bisa menjadi sarana pewartaan bagi mereka yang belum mengenal Kristus, dimana konstitusi Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi juga mengharapkan adanya terbitan atau kemasan khusus Alkitab bagi mereka yang belum beriman pada Kristus.

Selain itu, hendaknya diusahakan terbitan-terbitan Kitab Suci, dibubuhi dengan catatan-catatan yang sesuai, supaya digunakan juga oleh mereka yang bukan Kristiani, dan yang cocok dengan keadaan mereka.

Hendaknya para Gembala jiwa, serta Umat Kristiani dalam keadaan mana pun juga, berusaha untuk dengan pelbagai cara menyebarluaskan terbitan-terbitan itu dengan bijaksana (GS 25, 3).

G.     Sekedar Catatan Liturgis

Berkaitan dengan lagu rohani anak yang dimaksudkan untuk liturgi, secara khusus dalam Misa Kudus, harus dibedakan antara lagu-laguproprium (pembuka, persembahan, madah syukur, dan penutup) danordinarium (Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Kudus, Pengiring Pemecahan Roti). Nyanyian liturgi diharapkan bisa mengungkapkan perjumpaan antara Tuhan dan manusia; serta perjumpaan manusia sebagai warga gereja. Adapun menurut E. Martasudjita dan J. Kristanto,Memilih Nyanyian Liturgi ( Yogyakarta : Kanisius, 2007, hlm. 15-21), yang menjadi kriteria nyanyian liturgi adalah:

Membantu terjadinya perjumpaan antara Tuhan dan manusia, serta antar manusia dan sesamanya, Sesuai dengan misteri iman akan Kristus yang sedang dirayakan,
Mampu mempersatukan umat beriman dan membantu umat untuk berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam perayaan liturgi.

Adapun yang dimaksudkan dengan nyanyian rohani di luar liturgi adalah nyanyian yang bisa memperkaya kerohanian seseorang. Nyanyian rohani ini dapat dinyanyikan dalam pertemuan bina iman anak, pewartaan, pelajaran agama, ziarah, dan sebagainya.

H.     Refleksi Penutup

Penyusunan nyanyian rohani yang bersumber dari kitab suci kiranya akan membantu penyanyi dan pendengar untuk mengenal Firman Tuhan, menghafalkannya, dan secara konkret bagaimana mewujudkannya dalam hidup sehari-hari. Sebagai contoh bisa dilihat aneka lagu rohani anak yang disusun oleh Sdr. Gregorius Uce dan terkumpul dalam buku Samuel Kecil: Modul Pertemuan dan Lagu Baru untuk Bina Iman Anak (YPN, 2008). Melalui aneka nyanyian rohani ini, pendengar dan penyanyi diajak untuk:

Mengenal, bahkan menghafalkan Firman Tuhan, serta menemukan inspirasi untuk mewujudkannya.

Menikmati keindahan dalam tatanan dan alunan nada yang sungguh bisa menggerakkan emosi, Menikmatinya sembari mengerjakan hal lainnya.

Upaya inkulturasi perlu mendapat tempat agar nyanyian rohani, entah bagi anak-anak maupun orang dewasa, sungguh berbicara kepada hati dan perasaan para pendengar sesuai dengan konteks budayanya. Indah sekali bila dari Keuskupan Malang misalnya, akan lahir lagu-lagu inkulturatif juga, entah berupa campur sari rohani ataupun nyanyian rohani dengan gaya Madura dan Osing (Banyuwangi).

Sejak dini anak-anak perlu diperkenalkan dengan Firman Tuhan, sedemikian sehingga sejak awal juga mereka menjadi murid-murid Yesus yang mau mendengarkan dan melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal inilah sumbangan para pengarang nyanyian rohani untuk memberikan kesaksian iman melalui karya mereka (bdk. AA 6).

Seminari Tinggi Beato Giovanni Malang, 15 Okt 2011

Penulis adalah staf pengajar di STFT Widya Sasana, Dirdios KKI Keuskupan Malang, dan anggota Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Malang.

Sumber  :  http://www.imankatolik.or.id/nyanyian_rohani_anak_sebuah_sarana_pewartaan_injil.htm

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.