Sabtu, 28 April 2012

Bersihkanlah Jendela Rumahmu

Suatu kali, di pagi yang cerah di saat matahari mulai meninggi, seorang ibu sedang mengamati lewat jendela kaca dapurnya, seorang tetangga yang sedang menjemur pakaian di samping rumahnya. Ia mengamati dengan seksama pakaian yang sedang dijemur itu.

Tiba-tiba ia berkata, “Ibu ini baru saja mencuci tapi pakayan yang dicuci itu semuanya masih kelihatan kotor dan bahkan kuning-kuning. Ia memanggil suaminya dan mengatakan, “Lihat tetangga kita itu, ia mencuci tapi tidak bersih. Lebih baik tak usah mencuci kalau begitu hasilnya. Suaminya diam saja.

Dua hari berikutnya hal yang sama terjadi. Ia melihat tetangga itu sedang menjemur dan kain itu masih kelihatan kotor dan kekuning-kuningan. Ia mengritik habis-habisan tetangganya itu, “Barangkali ia sudah buta rasa, buta penglihatan dan buta semuanya. Suaminya tetap diam dan tidak bereaksi.

Beberapa hari kemudian, si ibu sedang sarapan di dapurnya. Sekali lagi ia melihat lewat kaca dapurnya, tetangga yang sama menjemur pakaian. Kali ini sempurnanya. Semua pakaian itu bersih dan tidak nampak lagi kekuning-kuningan.

Dengan suara keras ia memanggil suaminya dan memberi tahu, “Hal yang baru ini. Ini ajaib namun nyata.” lanjutnya, “Baru kali ini saya melihat ibu itu mencuci dengan baik dan bersih.

Suaminya dengan suara pasti mengatakan, “Bukan, bukan karena itu. Ia selalu mencuci dengan bersih. Masalahnya ialah jendela kaca dapur kita sudah sangat kotor dan berdebu dan kemarin saya sudah bersihkan dengan sangat baik. Isterinya itu pun malu dan sangat merasa bersalah.

Saudara-i terakasih dan teman-teman sekalian. Anda pasti ingat atau bahkan menghafal lagu Ariel, Ada apa denganmu. Banyak di antara kita barangkali pernah menonton filem yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, “Ada apa dengan cinta,” Ungkapan sentimental dari kedua hal ini lebih condong barangkali mempertanyakan hal-hal sesuatu tentang orang lain, atau hal di luar diri kita.

Memang nyata dalam kehidupan ini, kita kadang asyik melihat, menilai, mengamati, mengkritik dan bahkan menghakimi orang lain dengan ukuran dan kriteria yang kita miliki. Kisah di atas menggambarkan kenyataan ini.

Maka saya memberi suatu ungkapan lain yang sedikit beda, “Apa apa dengan saya? Kog saya gampang marah, tersinggung. Ada apa dengan diriku? Kog aku lebih suka melihat, menilai, mengritik dan menghakimi orang lain. Ungkapan ini mengajak kita untuk merenung dan merefleksi diri.

Mengenal diri adalah langkah yang sangat penting sebelum kita mengenal orang lain. Menilai diri sendiri adalah lebih mulia daripada kita menilai orang lain. Karena itu orang bijak mengatakan, “Jangan pakai dirimu sebagai “cermin” untuk menilai orang lain tetapi pakailah orang lain menjadi cermin untuk diri mereka sendiri (objektif).” Kalau kita tidak mampu mengenal diri dengan baik, maka kita juga tidak akan mampu mengenal orang lain sebagaimana mereka adanya.

Mari kita, anda dengan saya membersihkanlah lebih dahulu jendela rumah kita maka kita akan melihat dengan jernih, bersih, murni dan objektif orang lain. Mari kita lebih dahulu menata hati, sehingga kita mampu “mencerahi” orang lain. Semoga.

sumber : facebook.com - Sapaan Malam
oleh : Yosafat Ivo Ofm Cap

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.