Minggu, 07 April 2013

Perbedaan Ajaran Ekaristi antara Gereja Katolik & Protestan


Perbedaan Ajaran Ekaristi antara Gereja Katolik & Protestan

Sejak awal Gereja mengalami berbagai perpecahan. Namun dalam sejarah Gereja tercatat dua perpecahan besar, yaitu :

1.         Pemisahan Gereja Timur (Ortodoks) dari Gereja Barat (Katolik Roma) pada tahun 1054 yang disebabkan perbedaan pandangan teologis khususnya yang berkaitan dengan hubungan  Roh Kudus dengan Bapa dan Putra, serta kedudukan Paus; dan

2.         Perpecahan di Gereja Barat akibat reformasi Protestan pada abad ke-16 yang disebabkan keberatan Martin Luther tentang iustificatio (pembenaran), kuasa hierarki, dan soal sakramen. Yang kemudian diikuti oleh Ulrich Zwingli dan Johanes Kalvin di Swiss, dan merambah ke Belanda dan Skotlandia. Di Inggris Raja Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan.

Perpecahan Gereja tersebut tentunya juga menyebabkan perbedaan pandangan tentang berbagai hal. Salah satunya adalah perbedaan pandangan tentang perayaan Ekaristi. Melalui tulisan ini, saya mengajak untuk mengetahui perbedaan tersebut agar kita menjadi semakin yakin dengan apa yang kita imani. Mengingat terbatasnya tempat, saya akan membandingkan pandangan Gereja Katolik dengan pandangan Gereja Protestan yang kiranya dapat diwakili oleh pandangan Luther sebagai pelopor gerakan Reformasi.

Meskipun tidak merupakan soal pokok yang dilontarkan oleh Luther, namun ada perbedaan mendasar dalam pemahaman Luther tentang Ekaristi dengan pemahaman Gereja Katolik.

Gereja Katolik menanggapi perbedaan tersebut melalui Konsili Trente. Baik Luther maupun Gereja Katolik sama-sama meyakini realis praesentia (kehadiran Kristus dalam Ekaristi), tetapi Luther menolak pandangan Gereja Katolik bahwa roti dan anggur secara substansial berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (transubtantiatio).

Menurut Luther, tubuh dan darah Kristus ada bersama roti dan anggur (consubtantiatio), yang berarti roti dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus sejauh disantap – ketika tidak disantap maka roti dan anggur tetaplah roti dan anggur, bukan tubuh dan darah Kristus. Pandangan Gereja Katolik dirumuskan dalam Konsili Trente sebagai berikut : “dalam sakramen Ekaristi yang Mahakudus secara sungguh, nyata dan substansial ada tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus, bersama dengan jiwa dan keallahan-Nya, jadi seluruh Kristus” (DS 883/1651).

Kehadiran Kristus dalam Ekaristi, realis praesentia, sungguh nyata, bukan cuma lambang, sehingga yang ada bukan lagi roti dan anggur melainkan tubuh dan darah Kristus. Dalam Ekaristi terjadi “perubahan seluruh substansi roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah, sedang yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur; perubahan ini oleh Gereja Katolik dengan tepat disebut trans-substantiatio” (DS 884/1652).

Dan kehadiran Kristus dalam roti dan anggur terjadi secara penuh, “di bawah masing-masing rupa dan di bawah setiap bagian dari kedua rupa tersendiri” (DS 885/1653), yang berarti bila hanya menyambut Tubuh saja atau Darah saja sudah menyambut Kristus secara penuh, bukan menyambut sebagian Kristus saja. Konsili Trente juga menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi bersifat tetap (DS 886/1654).

Artinya, roti dan anggur yang telah dikonsekrasi tetaplah tubuh dan darah Kristus, bukan hanya pada saat perayaan atau selama disantap saja.

Luther juga menolak pandangan Gereja Katolik bahwa Ekaristi adalah kurban. Mengapa? Karena bagi Luther kurban satu-satunya dalam Perjanjian Baru hanyalah salib Kristus, bukan Ekaristi. Sedangkan Gereja Katolik melalui Konsili Trente menegaskan bahwa Ekaristi adalah kurban yang tidak dapat dilepaskan dari kurban salib Kristus yang terjadi satu kali untuk selama-lamanya.

Ekaristi disebut kurban karena Ekaristi justru menghadirkan kurban salib Kristus tersebut, sekaligus membawa kurban silih dari Gereja. Dengan menghadirkan kurban salib Kristus Gereja bersyukur atas karya keselamatan Allah yang diterima melalu Kristus. Maka Ekaristi sering juga disebut kurban pujian.


Sumber  :  http://katekesekatolik.blogspot.it

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.