Sabtu, 07 Januari 2012

NAMA YESUS YANG TERSUCI DAN PERTEMPURAN BELGRADO [1456]

Pada hari ini, tanggal 3 Januari, segenap anggota keluarga Fransiskan memperingati secara khusus “NAMA YESUS YANG TERSUCI”. Rahasia dari Santo Fransiskus dari Assisi, Bapak Serafik kita – adalah bahwa dia mengasihi Allah dengan mengasihi ciptaan Allah – alam ciptaan; dan makhluk ciptaan Allah – manusia. Dia menyadari bahwa Allah yang Tak Berwujud dapat dicapai dalam karya-karya-Nya, dan bahwa sang Penyebab yang tak kelihatan dapat dilihat dalam efek-efek yang disebabkan-Nya, bahwa yang Spiritual dapat digambarkan dalam hal yang berwujud materi. Fransiskus menyadari bahwa seorang manusia bukanlah sekadar sebuah jiwa, melainkan sebuah jiwa yang menempati sesosok tubuh/badan. Melalui badanlah dan hanya melalui badan inilah jiwa dapat dicapai. Melalui indera-inderalah bahwa pikiran seorang manusia dapat diajar, dan melalui perasaan-perasaannyalah hatinya dapat dipimpin.

Fransiskus dan Nama Yesus yang Tersuci. Barangkali contoh yang paling baik dari sentuhan Santo Fransiskus pada hati manusia melalui indera-inderanya adalah dramatisasinya di Greccio perihal peristiwa kelahiran Yesus. Dan di sini – di Greccio – dia tidak hanya menunjukkan kasih-Nya yang lemah lembut bagi Allah-Manusia, Sang Juruselamat yang masih anak bayi itu; melainkan juga pada Nama-Nya yang tersuci, Nama di atas segala nama, YESUS. Beato Thomas dari Celano mencatat, bahwa seringkali bilamana Kristus hendak disebutnya “Yesus”, maka karena cintakasih-Nya yang sangat berkobar-kobar, disebutnya “Kanak-kanak dari Betlehem”, dan ketika dia mengucapkan kata “Betlehem”, maka terdengar seperti domba yang mengembik. Ketika dia menyebut “Kanak-kanak Betlehem” atau “Yesus”, maka lidahnya menjilat-jilat bibirnya dan menelannya seakan itu madu yang memberikan kemanisan (lihat 1Cel 86). Devosinya kepada “Nama Yesus yang Tersuci” diwujudkan oleh Fransiskus dalam banyak cara. Fransiskus mengusir roh jahat dalam Nama Yesus, misalnya ketika dia mengusirnya dari dalam diri seorang perempuan di kota San Gemini: “Dalam nama Tuhan Yesus Kristus,  kuperintahkan  kamu dalam ketaatan yang suci, hai roh jahat, untuk keluar dari perempuan ini, dan jangan berani mengganggu dia lagi” (1Cel 69). Ketika seorang saudara pada suatu hari bertanya kepadanya, mengapa dia rajin mengumpulkan kertas-kertas yang berisikan tulisan, walaupun hasil kerja orang kafir, maka Fransiskus menjawab: “Nak, karena di dalamnya terdapat huruf-huruf, yang daripadanya dapat disusun Nama termulia Tuhan Allah” (1Cel 82).

Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila di kemudian hari  para pengikut Fransiskus mengkhotbahkan perlunya praktek devosi kepada “Nama Yesus yang Tersuci”. Ada cukup banyak cerita tentang praktek kesalehan para saudara dina sehubungan dengan devosi ini, misalnya  Santo Antonius dari Padua [+ 1231];  Gilbert dari Tournay atau Guilbert von Doornik [+ 1284]; Santo Ludovikus (Louis) dari Anjou [+1299], uskup di Toulouse; Ubertino dari Casale [+ 1329-41]; Santo Bernardin dari Sienna [+ 1444];  Beato Simon dari Lipnika [+ 1490]; Beato Bernardin dari Feltre [+ 1494]; Bernardin de Bustis dari Milano [+ 1500]; Santo Yakobus dari Marka [+1476] dan banyak lagi. 

Yang ingin saya kedepankan dalam kesempatan ini adalah seorang murid dan sahabat Santo Bernardin dari Sienna, dan seorang pengkhotbah ulung pada zamannya: Santo Yohanes dari Capistrano [1456]. Orang kudus ini terlibat dalam pertempuran Belgrado pada tahun terakhir kehidupannya di dunia ini, dan peranan “Nama Yesus yang Tersuci” sangat signifikan dalam pertempuran tersebut. Malah hasil pertempuran itu melestarikan budaya Kekristenan di dunia Barat (Eropa).

Yohanes dari Capistrano dan Pertempuran Belgrado. Pada tahun 1453 Sultan Mohammad II menaklukkan dan merebut Konstantinopel (Istanbul). Sultan ini berketetapan hati “mempertobatkan” orang-orang Kristiani di Barat untuk memeluk agama Islam. Objektif Muhammad II yang pertama adalah Jerman. Ia telah sampai ke negeri Hungaria dan bersama pasukannya maju menuju benteng kota Belgrado. Tampaknya sedikit saja harapan bagi Hungaria untuk dapat bertahan. Namun di Jerman ada Yohanes dari Capistrano. Dia membangkitkan semangat para pangeran dan rakyat-kebanyakan untuk melawan musuh yang menyerbu. Paus Kallistus II memaklumkan perang melawan orang-orang Turki pimpinan Mohammad II seraya menunjuk Yohanes dari Capitstrano untuk mempromosikan ‘perang’ itu lewat khotbah-khotbahnya.

Pada waktu itu Yohanes sudah berumur 70 tahun dan kondisi fisiknya sudah banyak menurun karena terguras oleh kerja kerasulan yang keras dan hidup mati-raga yang tidak main-main. Dia kelihatan seperti orangtua yang terdiri dari kulit dan tulang saja. Namun orang kudus ini membuktikan bahwa dirinya masih gesit sebagai pesuruh Kristus. Dia melakukan perjalanan PP antara Jerman dan Hungaria secara intens, mengumpulkan para sukarelawan untuk maju berperang melawan musuh Kekristenan pada masa itu. Dengan pasukan yang berhasil dikumpulkan, dia kemudian berangkat menuju Belgrado guna membantu pasukan di bawah komando Jenderal Hunyadi yang sedang bertahan di sana.


Benteng kota Belgrado sudah dikepung oleh beribu-ribu pasukan Ottoman Turki, tetapi kenyataan ini tidak membuat Yohanes menjadi takut samasekali. Dengan penuh keyakinan akan nama Yesus yang kudus (IHS)[1] dan gambaran salib yang tertera pada panji-panji pasukannya, dan acapkali menyerukan nama terkudus Tuhan secara keras, Yohanes bersama-sama pasukan yang dipimpinnya maju terus melawan pasukan musuh yang sepuluh kali lebih kuat daripada pasukan Kristiani secara keseluruhan. Kuasa Tuhan dimanifestasikan dalam pertempuran Belgrado itu. Pasukan Kristiani berhasil mencapai kemenangan gilang-gemilang pada hari Pesta Santa Maria Magdalena, 22 Juli 1456. Ini adalah mahkota dari segala kegiatan kerasulan Yohanes dari Capistrano.

Pada masa itu sebenarnya dunia Kekristenan sedang mengalami keretakan. Para pangeran lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai pertengkaran kecil di antara mereka sendiri daripada memikirkan nasib peradaban dunia barat. Pada saat itu pusat Gereja di Roma baru saja mulai memperoleh kembali prestisenya setelah sekian lama mengalami keterpurukan yang disebabkan oleh Skisma Barat besar, di mana Hungaria berfungsi sebagai titik kontak utama. Sekarang Hungaria menjadi saksi dari desersi yang memalukan sang Raja dan seisi istananya di hadapan pihak musuh yang sedang mengepung.

Pada tanggal yang menentukan itu, 22 Juli 1453, pasukan Islam dikalahkan secara menentukan, walaupun mereka memiliki berbagai keuntungan apabila dibandingkan dengan pasukan Kristiani: (a) moral tinggi mereka karena kemenangan berturut-turut dalam berbagai pertempuran sebelumnya; (b) kesatuan dan persatuan; (c) jumlah pasukan yang superior; (d) persiapan yang direncanakan dengan baik dan secara metodikal. Pasukan Kristiani terdiri dari 4.000 pasukan kavalri dibantu oleh pasukan “gado-gado” yang terdiri dari pekerja tangan, petani, rahib, pertapa dan pelajar/mahasiswa, yang praktis tidak terlatih sebagai tentara dan diperlengkapi dengan “persenjataan gado-gado” pula, yang terdiri dari kapak sampai garpu rumput. Mereka harus menghadapi serbuan dari pasukan tentara terlatih pimpinan Muhamad II yang berjumlah sekitar 100.000 orang.

Kemenangan pasukan Kristiani bukanlah sekadar capaian manusia. Ada tangan-tangan Allah yang ikut campur dalam pertempuran itu. Pengamatan ini tidak hanya dikemukakan oleh para saksi, Santo Yohanes dari Capistrano sendiri dan Yohanes dari Tagliacozzo, melainkan juga dari banyak orang lain yang terlibat dalam peristiwa itu. Keberhasilan pasukan Kristiani melampaui segala ekspektasi semua orang, kecuali sedikit orang yang menempatkan pengharapan mereka pada Allah, dalam kuasa “Nama Yesus yang Tersuci”.

Pertempuran Belgrado dilaksanakan oleh pasukan Kristiani dalam “Nama Yesus”. Pasukan Kristiani yang berjaya itu menggantungkan diri tidak hanya pada kekuatan persenjataan mereka, melainkan juga pada sebuah NAMA yang adalah milik Sang Mahakuasa sendiri. Fakta ini didukung oleh testimoni-testimoni yang hampir tidak berkesudahan. Jadi, bukanlah tanpa alasan apabila ada tradisi yang menggambarkan Santo Yohanes dari Capistrano yang sedang membawa panji-panji NAMA KUDUS. Manakala Yohanes dari Capistrano berbicara dengan pasukan Kristiani yang beraneka ragam itu, dia harus mengandalkan bantuan seorang penerjemah, namun ada sebuah NAMA, yang diketahui dan dikenal oleh mereka semua. Walaupun tidak semua memahami makna NAMA itu dengan kedalaman yang sama, mereka tahu sekali bahwa NAMA itu sangat dihormati oleh “orang kudus tua” yang menyemangati mereka dengan efektif dalam pertempuran itu.

Perjumpaan Yohanes dari Capistrano dengan Saudari Maut (badani). Tidak lama kemudian “panglima tua-renta” itu jatuh sakit dan berjumpa dengan Saudari maut (badani) di biara Fransiskan di Illok, Hungaria pada tanggal 23 Oktober. Dia meninggal dunia karena infeksi yang disebabkan virus dan/atau bakteri yang berasal dari mayat-mayat yang begitu banyak bergelimpangan di medan pertempuran Belgrado. Yohanes dari Capistrano dikuburkan di kota kecil Villach, Hungaria. Pada batu nisannya ada tulisan kurang lebih seperti berikut: “Di sini dikuburkan Yohanes yang lahir di Capistrano, seorang laki-laki yang pantas untuk dipuji, pembela dan promotor iman, penjaga Gereja, pelindung penuh semangat dari ordo-nya, sebuah perhiasan bagi seluruh dunia, pencinta kebenaran dan keadilan, cermin kehidupan, pembimbing paling pasti dalam doktrin, dipuji-puji oleh lidah-lidah yang tak  terhitung jumlahnya, sekarang dia terberkati di dalam surga.” Sebuah catatan panjang yang memang pantas diterima oleh orang kudus dari Capistrano ini. Banyak sekali terjadi mukjizat setelah hari kematiannya. Yohanes dari Capistrano dibeatifikasikan pada tahun 1694 dan dikanonisasikan  pada tahun 1724. Peradaban dunia barat yang Kristiani terpelihara berkat keterlibatan orang kudus ini dalam Pertempuran Belgrado.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam atau mengandung SARA.
Terima Kasih.