Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Mei 2012

Tempayan Retak


Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya tidak retak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak-sempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”

“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya yang telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.

Karena cacatku ini saya telah membuatmu rugi,” kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dengan seksama, dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air itu yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tetapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya.

Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.

Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap dari kita, memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan Yesus akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias meja Bapa–Nya.

Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Senin, 28 Mei 2012

Tangguh Seperti Rajawali


Rajawali menjadi burung yang paling populer sepanjang peradaban manusia. Ujudnya dijadikan simbol oleh banyak bangsa sejak dulu. Menjadi lambang militer saat kekaisaran Roma dan Persia, digunakan juga oleh Napoleon, hingga saat Ottoman Turks berkuasa di Turki.

Sementara di Indonesia, Rajawali sudah dipakai oleh Kerajaan Sintang sekitar abad 13 M. Dan, jaman sekarang, lebih dari 40 negara menggunakan Rajawali sebagai lambang nasional

Maka pertanyaannya, mengapa Rajawali? Salah satu jawabnya karena Rajawali adalah burung yang tangguh.  Rajawali terbang sangat tinggi di langit biru dan...sendirian dalam mencari makan. Bisa melihat sampai 5 kilometer jauhnya, serta kecepatan terbangnya maksimal 160 km/jam.

Meski
Rajawali mewarisi kemampuan tersebut secara genetik, bukan berarti mereka tidak berlatih dan berjuang saat masih kecil.
Rajawali muda mulai berlatih terbang saat mencapai usia 2 atau 3 bulan. Beberapa bahkan lebih cepat, terutama bagi Rajawali kecil yang tidak suka berbagi sarang dengan saudaranya.

Awal belajar terbang pasti mengalami jatuh-bangun. Tak ada satu burung
Rajawali pun yang langsung sukses terbang saat pertama kali mencoba.

Pada beberapa kasus, ada
Rajawali muda yang takut keluar sarang dan belajar terbang. Maka orang tuanya akan terbang sekeliling sarang sambil memancing anaknya dengan makanan favorit. Jadi tak benar pendapat yang mengatakan orang tua Rajawali sengaja menendang anaknya agar berani terbang.

Bagaimanapun, seekor Rajawali muda harus punya keberanian untuk keluar dari sarangnya yang nyaman. Karena pada usia sekitar 6 bulan Rajawali muda harus bisa terbang sendiri tanpa pengawasan orang tuanya.

Mereka juga belajar mencari umpan dengan melihat serta mengikuti orang tuanya saat berburu. Mereka belajar terbang tinggi, mengintai, lalu terjun secepatnya menyikat buruan.

Seperti
Rajawali, untuk menjadi tangguh perlu tekad dan keberanian. Terkadang, kita harus keluar dari 'comfort zone' (zona nyaman) seperti halnya Rajawali muda keluar dari sarang mereka.

Hanya dengan keberanian melakukannya, kita bisa mengetahui dunia yang luas, dan bisa terbang tinggi mengejar apa yang kita mau.

Sabtu, 28 April 2012

Menuai Dari Apa Yang Kita Tanam

Suatu pagi sambil minum kopi seorang ibu setengah baya membaca koran. Tiba-tiba ia tertarik dengan iklan, consultasi online. Iklan itu berbunyi demikian, "Apakah anda stress dengan hidup anda, karena perilaku, sikap dan karakter anda? Silahkan hubungi 239-405, tetapi ketika anda terhubung, dengarkan dan laksanakan saja apa yang dikatakan.

Dibarengi ingin tahu, si ibu yang merasa banyak problem mencoba menelepon nomor itu. Setelah terhubung ia mendengarkan kata-kata berikut, "Anda menelepon ke tempat yang benar sekali. Ketahuilah jika anda menemukan diri anda maka anda juga akan menemukan Allah. Allah tetap besertamu. Kamu tidak pernah sendiri entah bagaimana pun kamu atau situasi apapun yang kamu alami. Allah selalu ada dan hadir menolongmu."

Suara dari nomor itu melanjutkan, "Sadarilah HUKUM GEMA ATAU GAUNG" di mana kata-kata atau teriakan yang terlontar segera akan kembali kepada anda.

Jika anda menyanyikan lagi rohani, gemanya akan kembali kepadamu, Jika anda berkata lembut, gaung lembut juga akan datang kepadamu, dan jika anda mengatakan aku mengasihimu, suara itu juga akan segera mengunjungi anda.

Tetapi ingat, jika anda marah, jengkel, emosi dan mengutuk, gemanya juga akan kembali kepadamu. Maka pilihlah yang mana anda mau??? selamat merenung dan Allah hadir dalam renunganmu. Semoga anda menemukan diri anda dan menemukan Allah.

Seorang pemuda tanggung ingin mencobai Budha, apakah ia memang bijak, sabar dan melaksanakan apa yang ia kotbahkan. Maka ia mendatangi sang Budha dan ia pura-pura marah dan melampiaskannya dengan kata-kata yang tidak baik. Ia, mengutuk, menghardik, jengkel, dan marah kepada Budha.

Sang Budha mendengarkan dengan sabar, lembut dan penuh kasih. Setelah si pemuda itu selesai bicara, Budha berkata lembut, "Anakku, jika seseorang menolak pemberian orang lain, kemana akhirnya sesuatu yang diberi itu?

Si pemuda itu menjawab, "Orang bodoh pun tahu menjawab itu, Ia jelaslah kembali kepada si pemberi. Budha mengatakan lagi, "Jika memang demikian aku menolak pemberianmu (kata-kata kotor yang kamu ucapkan) maka semua itu kembali kepadamu.

Si pemuda itu diam dan tertunduk. Budha meneruskan kata-kata bijak, "janganlan meludah ke langit karena itu akan kembali kepadamu dan janganlah membuang abu ketika angin datang maka abu itu akan menyerangmu. Akhirnya si pemuda itu menyadari dan mengakui kebijaksanaan dan kebajikan sang Budha.

Saudara-i terkasih dan teman-teman sekalian,
Yesus berkata, “ Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi Allah. Sebab, sebagaimana kalian menghakimi orang lain, begitu juga Allah akan menghakimi kalian. Dan ukuran yang kalian pakai menghakimi orang lain, juga akan dipakai Allah untuk menghakimi kalian (Matius 7:1-2).

Kedua, Ada peribahasa "Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai". Jika kamu menabur hal buruk, maka kamu akan menuai hal buruk juga. Apabila kamu menabur kebaikan, maka kamu akan menuai kebaikan juga.

Pesan sederhana dari kedua kutipan ini ialah, mari kita memupuk sikap yang lemah lembut, sabar, dan rendah hati. Jangan mengumbar kemarahan, jangan menanam kebencian, dan jangan menyiram balas dendam.

Tetapi marilah kita menanam cinta kasih, menyiramnya dengan kelemah lembutan, dan memupuknya dengan kerendahatan jati, maka kita akan menemukan diri kita dan menemukan Allah dan akhirnya kita akan menuai kebahagiaan dan kegembiraan sejati.


sumber : facebook.com - Sapaan Malam
oleh : Yosafat Ivo Ofm Cap

Bersihkanlah Jendela Rumahmu

Suatu kali, di pagi yang cerah di saat matahari mulai meninggi, seorang ibu sedang mengamati lewat jendela kaca dapurnya, seorang tetangga yang sedang menjemur pakaian di samping rumahnya. Ia mengamati dengan seksama pakaian yang sedang dijemur itu.

Tiba-tiba ia berkata, “Ibu ini baru saja mencuci tapi pakayan yang dicuci itu semuanya masih kelihatan kotor dan bahkan kuning-kuning. Ia memanggil suaminya dan mengatakan, “Lihat tetangga kita itu, ia mencuci tapi tidak bersih. Lebih baik tak usah mencuci kalau begitu hasilnya. Suaminya diam saja.

Dua hari berikutnya hal yang sama terjadi. Ia melihat tetangga itu sedang menjemur dan kain itu masih kelihatan kotor dan kekuning-kuningan. Ia mengritik habis-habisan tetangganya itu, “Barangkali ia sudah buta rasa, buta penglihatan dan buta semuanya. Suaminya tetap diam dan tidak bereaksi.

Beberapa hari kemudian, si ibu sedang sarapan di dapurnya. Sekali lagi ia melihat lewat kaca dapurnya, tetangga yang sama menjemur pakaian. Kali ini sempurnanya. Semua pakaian itu bersih dan tidak nampak lagi kekuning-kuningan.

Dengan suara keras ia memanggil suaminya dan memberi tahu, “Hal yang baru ini. Ini ajaib namun nyata.” lanjutnya, “Baru kali ini saya melihat ibu itu mencuci dengan baik dan bersih.

Suaminya dengan suara pasti mengatakan, “Bukan, bukan karena itu. Ia selalu mencuci dengan bersih. Masalahnya ialah jendela kaca dapur kita sudah sangat kotor dan berdebu dan kemarin saya sudah bersihkan dengan sangat baik. Isterinya itu pun malu dan sangat merasa bersalah.

Saudara-i terakasih dan teman-teman sekalian. Anda pasti ingat atau bahkan menghafal lagu Ariel, Ada apa denganmu. Banyak di antara kita barangkali pernah menonton filem yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, “Ada apa dengan cinta,” Ungkapan sentimental dari kedua hal ini lebih condong barangkali mempertanyakan hal-hal sesuatu tentang orang lain, atau hal di luar diri kita.

Memang nyata dalam kehidupan ini, kita kadang asyik melihat, menilai, mengamati, mengkritik dan bahkan menghakimi orang lain dengan ukuran dan kriteria yang kita miliki. Kisah di atas menggambarkan kenyataan ini.

Maka saya memberi suatu ungkapan lain yang sedikit beda, “Apa apa dengan saya? Kog saya gampang marah, tersinggung. Ada apa dengan diriku? Kog aku lebih suka melihat, menilai, mengritik dan menghakimi orang lain. Ungkapan ini mengajak kita untuk merenung dan merefleksi diri.

Mengenal diri adalah langkah yang sangat penting sebelum kita mengenal orang lain. Menilai diri sendiri adalah lebih mulia daripada kita menilai orang lain. Karena itu orang bijak mengatakan, “Jangan pakai dirimu sebagai “cermin” untuk menilai orang lain tetapi pakailah orang lain menjadi cermin untuk diri mereka sendiri (objektif).” Kalau kita tidak mampu mengenal diri dengan baik, maka kita juga tidak akan mampu mengenal orang lain sebagaimana mereka adanya.

Mari kita, anda dengan saya membersihkanlah lebih dahulu jendela rumah kita maka kita akan melihat dengan jernih, bersih, murni dan objektif orang lain. Mari kita lebih dahulu menata hati, sehingga kita mampu “mencerahi” orang lain. Semoga.

sumber : facebook.com - Sapaan Malam
oleh : Yosafat Ivo Ofm Cap

Jangan hadapkan cermin itu ke orang lain tetapi hadapkanlah ke dirimu sendiri.

Para sahabatku terkasih kita sering merasa bahwa kursi itu tidak empuk untuk kita duduki dan ruangan itu gerah untuk dimasuki. Kita juga kerap merasa rumah itu tidak nyaman untuk didiami dan kita seperti merasa orang asing di lingkungan kita sendiri.

Sering juga kita merasa bahwa setiap orang tidak bersahabat terhadap kita. Tatapan mereka seperti mau menelan kita hidup-hidup. Berhadapan dengan situasi yang demikian kita kadang perlu memeriksa diri dan meneropong ke kedalaman hati kita.

Masalah sering terletak bukan apa yang ada diluar diri kita tetapi sebaliknya apa yang nyata dalam hati kita. Intinya kalau hati kita tidak tenang, tidak nyaman, tidak teduh di mana pun kita berada, kita akan merasa gersang. Kalau hati kita diselimuti kegelisahan, kecemasan dan ketakutan di mana pun kita tinggal hal itu bagaikan berdiam di dekat api yang membara.

Jangan hadapkan cermin itu ke orang lain tetap hadapkan ke dirimu sendiri. Di dalam hatimu tersimpan semua jawaban atas pertanyaan kehidupan. Kalau selama ini kita sering mempertanyakan orang lain baiklah kali ini kita mempertanyakan diri kita sendiri.

Kalau kita sudah berdamai dengan diri sendiri kita akan mampu menciptakan ketenangan, keteduhan, dan kedamaian dalam hati kita. Karena itu janganlah biarkan riak hidup menguasai dirimu. Jangan juga biarkan masalah menggerogoti pikiran, hati dan perasaanmu. Biarlah kesusahan sehari untuk sehari dan besok punya kesusahan sendiri.

Ketika kamu menyerah dengan segala situasi dan kondisi saat itulah kamu merasa gersang di mana pun kamu berada. Sebaliknya ketika kamu mampu menciptakan hati yang “berbunga” segala kondisi di sekitarmu tidak akan mampu mengusik jiwamu dan merasuki pikiran dan mencederai perasaanmu.

Sebaliknya kamu akan mampu menciptakan ruang yang nyaman dan teduh untuk semua orang. Logikanya kalau dirimu sudah “harum” bagaimanapun kondisi dan situasi di sekitarmu, kamu akan tetap harum dan bahkan kamu bisa mengharumi sekitarmu.

Sekali lagi hadapkanlah cermin itu ke dirimu sendiri. Lihatlah dirimu, teroponglah perasaan dan tatalah hatimu. Selamat malam, Allah memberkatimu, keluarga dan anak-anakmu.


sumber : facebook.com - Sapaan Malam
oleh : Yosafat Ivo Ofm Cap

Rabu, 28 Desember 2011

Shi Sang Chi You Mama Hau

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati. Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb.

Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia. Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya. Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.

Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar. Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.

Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2. Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain. Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya.

Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit. Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju ke sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga. Malamnya, ia mencuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.

Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman. Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya.

Ramuan tsb terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeser pun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar. Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat. Hujan lebat pun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”). Sang anak juga sudah sekolah.

Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya mencuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih mencuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya.

Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai. Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri, kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untukibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak.

Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb. Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab. “Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri.

“Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu. Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya. Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.

Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. “Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya. Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu?.”Maafkan saya, Nak.” “Tidak Bu, saya yang bersalah”

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak, “Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.” Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

 Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya. Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka.

Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya.

Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat. Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, Ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan. Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta. Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya.

Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam.

Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu. Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.

Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis “Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.” Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang. Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb.

Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu. Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi.

Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Didorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.

Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?” Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama.

Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”. Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu” Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi. Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua : 1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya. 2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya. Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun?

Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”

Kamis, 22 Desember 2011

“Ajari Anak2 Arti Natal Yang Sebenarnya”

Satu minggu sebelum Natal, saya kedatangan tamu. Begini ceritanya. Saya sedang bersiap-siap untuk tidur ketika saya mendengar suara berisik di ruang tamu. Saya membuka pintu kamar dan saya amat terkejut, Sinterklas tiba-tiba muncul dari balik pohon Natal.

Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya.
Malahan saya pikir saya melihat air mata di sudut matanya. "Apa yang sedang anda lakukan?" saya bertanya. 

"Saya datang untuk mengingatkan kamu … AJARILAH ANAK-ANAK!" kata Sinterklas.
Saya menjadi bingung; apa yang dimaksudkannya?

Kemudian dengan suatu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata, "Ajarilah anak-anak! Ajarilah mereka arti Natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini telah dilupakan oleh banyak anak."


Sinterklas merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini. Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah ke atas, mengingatkan kita bahwa segala pikiran kita di masa Natal hanya terarah pada surga."

Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah BINTANG cemerlang. "Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia, dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya."

Ia memasukkan tangannya lagi ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebatang LILIN. Ajarilah anak-anak bahwa Kristus adalah terang dunia, dan ketika kita melihat terang lilin kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan."

Sekali lagi ia memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah LINGKARAN lalu memasangnya di pohon Natal. "Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran melambangkan cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti.
Cinta adalah kasih sayang yang terus-menerus - tidak hanya saat Natal tetapi sepanjang tahun."

Kemudian dari tasnya ia mengeluarkan hiasan SINTERKLAS. "Ajarilah anak-anak bahwa saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati dan segala niat baik yang kita rasakan sepanjang bulan Desember."

Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah HADIAH dan berkata. "Ajarilah anak-anak bahwa Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memberikan anaknya yang tunggal…"

"Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah anak - anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Hendaknyalah kita memberi dengan semangat yang sama dengan para majus."

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk tongkat dan menggantungkannya di pohon Natal. "Ajarilah anak-anak bahwa batangan permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi meninggalkan kawanannya dan tersesat maka gembala datang dan menuntun mereka kembali. 

Batangan permen ini mengingatkan kita bahwa kita adalah penjaga saudara-saudara kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi meninggalkan gereja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja. Selayaknyalah kita berdaya upaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik dan menuntun mereka pulang ke rumah."

Ia memasukkan tangannya lagi ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah boneka MALAIKAT. "Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi, "Kemuliaan bagi Allah di surga dan damai di bumi bagi manusia. Sama seperti para malaikat di Betlehem, kita patut mewartakan Kabar Gembira tersebut kepada keluarga dan teman-teman: 

Immanuel - Tuhan beserta kita!


Sekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya dan saya melihat matanya telah bersinar kembali. 

Ia berkata, "Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal yang sebenarnya. 

Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya - 
Immanuel - Tuhan beserta kita. 

Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa - Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya dan anak-anak saya - suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya - dan arti kedatangan Yesus ke dunia.

Dan saya tahu, bagi saya dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang terindah - karena 

IMMANUEL ~ TUHAN BESERTA KITA!


Sumber : News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

Rabu, 14 Desember 2011

 “BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK AKU”

Ketika Yohanes mendapat kabar tentang semua peristiwa itu dari murid-murid-Nya, ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata, “Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” 


Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Lalu Yesus menjawab mereka, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta  melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.” (Luk 7:18-23)

Yohanes Pembaptis sedang berada dalam penjara Herodes (Luk 3:19-20), menghadapi kemungkinan untuk dihukum mati. Dalam kegelapan selnya, kiranya dia juga bertanya kepada dirinya sendiri apakah “nasib” seperti itu memang ada dalam rencana Allah? Apakah ada yang salah dalam khotbah-khotbahnya? Salahkah dia jikalau berani berkonfrontasi dengan raja Herodes? Apakah dia membuat kesalahan ketika mengatakan kepada para muridnya bahwa Yesus adalah sang Mesias?

Semua pertanyaan ini telah mendorong dirinya mengutus beberapa orang muridnya untuk bertemu dengan Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu?” (Luk 7:19). Dan jawaban dari Yesus barangkali membuatnya menjadi terkaget-kaget. Yesus mengacu pada segala mukjizat yang dibuat-Nya untuk kepentingan orang banyak (Luk 7:22), bahkan ketika Dia “membiarkan” Yohanes – sepupunya sendiri – untuk “tamat” dalam penjara.

Hidup dalam/oleh iman tidak selalu mudah. Melakukan discernment atas panggilan Allah bagi kehidupan kita, pada waktu kita sedang mempertimbangkan pengambilan keputusan-keputusan sulit, menjalani penderitaan karena sakit-penyakit – semua dapat menyangkut banyak kesakitan serta kepedihan. Seringkali jawaban-jawaban atas doa-doa kita tidak langsung datang, atau tidak datang dengan cara seperti kita harapkan atau inginkan, sehingga kita menemukan diri kita berada dalam pergumulan batin (katakanlah intra-personal conflict). Isu-nya di sini adalah apakah kita akan menaruh kepercayaan kepada Tuhan Yesus dan menggantungkan diri kepada kasih dan hikmat-Nya, ataukehilangan iman-kepercayaan kepada-Nya.

Jawaban Yesus kepada kedua orang murid Yohanes Pembaptis sangat menarik. Ia tidak memberikan jawaban “ya” atau “tidak”, konsisten dengan apa yang dikatakan-Nya dalam kesempatan lain: “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar” (Yoh 5:31-32). 


Yesus juga tidak langsung membuka dompet-Nya dan mengambil KTP-Nya, kemudian menunjukkan KTP itu kepada kedua murid Yohanes Pembaptis seraya berkata: “Lihat ini, nama: Yesus; tempat/tanggal lahir: Betlehem, Yudea, tanggal 1-1-01; pekerjaan: Mesias dst.” Yesus memberikanjawaban alkitabiah yang jauh lebih dapat mengungkapkan tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Nabi Yesaya telah menggambarkan sukacita dari mereka yang ditebus: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6; bdk. Luk 7:22). 


Peranan Yesus adalah untuk membawa kepada orang-orang tertindas, miskin, ‘wong cilik’, segala berkat yang sudah dinubuatkan dalam Kitab Yesaya. Kerajaan-Nya adalah kerajaan keadilan, kasih dan damai-sejahtera. Kerajaan itu datang seturut ‘pemikiran’ cara Allah sendiri, tidak dengan kekerasan, melainkan melalui undangan penuh kasih.

Segala mukjizat kesembuhan yang dilakukan Yesus dan kabar baik yang diwartakan oleh-Nya mencerminkan pekerjaan Mesias seperti dinubuatkan kitab para nabi. Jadi memang ada jawaban yang lebih bermakna bagi Yohanes Pembaptis daripada sekadar jawaban “ya” atau “tidak”. Kedua murid Yohanes Pembaptis akan melaporkan kembali kepadanya bahwa apa saja yang dikerjakan oleh Yesus memang penggenapan dari nubuatan-nubuatan mengenai Mesias, “Ia yang akan datang” (Luk 3:16). 


Yang patut dicatat adalah pesan  tambahan yang diberikan oleh Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Luk 7:23). Kata-kata Yesus ini merupakan suatu tantangan bagi Yohanes Pembaptis, dan juga tantangan bagi kita semua, yaitu untuk membuang dari pikiran kita pendapat yang terbentuk sebelumnya mengenai bagaimana Allah seharusnya bertindak dan untuk siapa. Ingat: Allah adalah Allah! Kita manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya.

Dalam Yesus kita semua terberkati, kita semua berbahagia, karena dalam Dia kita menerima kehidupan. Dia datang, menyembuhkan, mewartakan kabar baik, menderita, wafat dan bangkit kembali, sehingga kita dapat turut ambil bagian dalam kehidupan kekal yang telah dimiliki-Nya sejak keabadian sebagai Firman Allah (lihat Yoh 1:1 dsj.) Ia datang untuk mendamaikan kita dengan Bapa surgawi dan memberikan kepada kita kuasa Roh Kudus.

Kepada  semua orang yang tidak menemukan batu sandungan dalam diri-Nya, tetapi yang percaya dan  menerima-Nya, Dia memberikan kesempatan untuk partisipasi penuh dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Kalau begitu halnya, betapa terberkatinya kita, betapa bahagianya kita! Oleh karena itu kita – dengan penuh iman – harus berupaya untuk memperoleh kehidupan sedemikian.

Teristimewa dalam masa Adven ini, dalam suasana doa kita harus melakukan permenungan atas berbagai kesaksian yang ada dalam Kitab Suci, kesaksian Gereja sepanjang masa, termasuk kesaksian para kudus dan kesaksian umat beriman pada zaman modern ini.


GAMBARAN TENTANG YESUS

Yohanes Pembaptis dipanggil dan diutus sebagai perintis jalan bagi sang Mesias. Karena keculasan hati manusia, Yohanes dijebloskan ke dalam penjara. Dari suatu wilayah luas-terbuka dan bebas-lepas, ia sekarang berada dalam sebuah ruang sel tertutup dan sempit …… bagaikan seekor burung yang digunting sayap-sayapnya.

Dalam situasi yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila seseorang sampai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengenai masa lampau kehidupannya, juga mengenai tujuan hidupnya. Begitu pula halnya dengan Yohanes!

Kiranya menurut pandangan Yohanes, pribadi Yesus itu tidak cocok dengan beberapa segi pemahamannya tentang sosok seorang Mesias. Gambarannya tentang Yesus tidak sesuai dengan apa yang ia telah terima dengan ketulus-ikhlasan hati dari berbagai nubuatan Perjanjian Lama. 


Yesus itu dibayangkannya sebagai seorang yang sudah mengayunkan kapak guna menebang pohon beserta akar-akarnya; atau sebagai orang yang memegang nyiru untuk menapis dengan cermat lalu menyimpan gandum dalam lumbungnya, sedangkan sekam yang tinggal dibuangnya dalam api yang tak terpadamkan : “Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan” (Luk 3:17).

Dalam penjara Yohanes menyadari bahwa Yesus bertindak lain sekali dengan persepsinya tentang Yesus. Yesus tidak memutuskan buluh yang patah terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar (lihat Yes 42:2). Yesus lebih menyerupai Hamba YHWH, sesuai yang dilukiskan dalam Kitab Yesaya (lihat Yes 52:13-53:12), daripada seorang nabi besar dan dahsyat-perkasa, yang dengan segala kekuatannya memusnahkan ketidakadilan dan mendirikan sebuah kerajaan keadilan di atas bumi ini. Singkatnya: Yesus tampak lain daripada apa yang diinginkan/dibayangkan oleh Yohanes.

Kita tahu bahwa pada awalnya para rasul juga mempunyai gambaran lain tentang Yesus. Ingatlah peristiwa di mana Simon Petrus dihardik oleh Yesus karena dia berpandangan bahwa “Mesias, Anak Allah” tidak cocoklah untuk menderita sengsara (lihat Mat 16:22-23). Hal yang sama terdapat pada banyak orang Yahudi pada zaman itu, terutama di kalangan para pemuka agama bangsa itu. 


Akan tetapi Yohanes mengambil sikap sangat tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri, yakni dia minta penjelasan dari Yesus sendiri. Hal inilah yang menggambarkan Yohanes sebagai “pahlawan kepercayaan” yang luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri tidak mempengaruhi kepercayaannya kepada Yesus. Betapapun lainnya sosok Yesus daripada yang dibayangkan olehnya, Yohanes tetap setia kepada-Nya.

Oleh karena itu, disuruhnyalah dua orang muridnya bertanya kepada Yesus apakah Ia-lah Yang-Akan-Datang itu, atau seorang lain yang harus dinantikan (Luk 7:18-20). Jawaban yesus cocok seluruhnya dengan tindakan-Nya; cintakasih, bela rasa dan kasih-Nya terhadap orang miskin, menderita sakit-penyakit dan berkekurangan. Jawaban itu diakhiri-Nya dengan suatu peringatan yang bukan hanya bagi Yohanes, melainkan juga bagi semua orang segala zaman yang berupaya mencari relasi dengan Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Luk 7:23).

Apa yang terjadi pada diri Yohanes dapat terjadi pula pada diri setiap insan. Gambaran yang dimilikinya tentang Yesus mungkin saja tidak cocok dengan kenyataan. Semakin kita menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, semakin besar pula kemungkinan timbulnya pertanyaan dan kebimbangan. Namun justru dalam situasi sedemikianlah akan menjadi nyata kebesaran dan kekuatan iman-kepercayaan kita. Yohanes yang seakan-akan berdiri di ambang peralihan dari masa lama kepada masa baru, menunjukkan jalan yang harus kita tempuh: Pada jalan ini dia masih memegang peranan yang luhur sebagai pendahulu dan perintis bagi Yesus Kristus.

Yesus sungguh mendengarkan doa-doa kita dengan penuh bela rasa. Satu alasan mengapa Yesus tidak selalu menjawab doa-doa kita pada saat dan dengan cara seperti kita inginkan, adalah karena Dia ingin memberikan kepada kita sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hanya dapat kita terima selagi kita bertekun dalam iman. 


Yesus mengetahui bahwa apabila kita sampai ke titik penyerahan diri secara lengkap-total kepada-Nya dan kepada rencana-Nya atas diri kita, maka kita akan mengenal dan mengalami kedamaian yang tak tergoyahkan. Yesus menginginkan iman kita. Dia mencari hati yang akan menjadi semakin kecil agar Dia dapat menjadi semakin besar – suatu rumusan kehidupan yang diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis (Yoh 3:30).

Dalam bacaan pertama ada tertulis: “Akulah TUHAN (YHWH) dan tidak ada yang lain” (Yes 45:18). Marilah kita masing-masing melakukan pemeriksaan batin untuk mengidentifikasikan apa saja yang menggoda kita sampai kehilangan kepercayaan kepada Allah. 


Di sinilah pergumulan itu terjadi. Di sinilah kita mempunyai kesempatan untuk menjadi kecil – melepaskan rencana-rencana “hebat dan besar” kita sendiri, membuang rasa takut kita tentang apa yang akan terjadi, dan percaya penuh keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan kepada kita hikmat-kebijaksanaan, kekuatan dan kasih yang kita butuhkan.


Sumber  :  http://catatanseorangofs.wordpress.com/

Selasa, 29 November 2011

Makna Kehadiran Tuhan dalam Perayaan Natal

Kita mempunyai kesempatan untuk memperkenankan Yesus datang ke dalam kehidupan kita dan mengubah diri kita. Apakah kita di mata dunia merupakan ‘orang besar, tokoh masyarakat, selebriti’, atau cuma sekadar ‘orang kecil, tak dikenal, biasa-biasa saja’, hanya ada satu saja yang akan ditanyakan Allah, yakni bagaimana keadaan hati kita?

Dan … Ia memang ingin sekali hadir  dan mengubah diri kita.

Salah satu tradisi dalam Gereja untuk merasakan kehadiran Yesus adalah melalui kandang Natal. Tradisi kandang natal dimulai di Greccio oleh Santo Fransiskus dari Assisi dan para saudara dina (Fransiskan) di tahun 1223. Sejak saat itu tidak ada pemandangan manapun dalam sejarah Kristiani yang lebih lembut dan lebih disayangi daripada kandang natal Betlehem.

Berbahagialah mata iman kita yang pada saat memandang kanak-kanak Yesus yang terbaring di palungan mengenali anak bayi itu sebagai Anak Allah. Apa yang disembunyikan Allah dari orang-orang cerdik pandai, telah dinyatakan oleh-Nya kepada kita anak-anak-Nya.

Ada banyak orang besar Perjanjian Lama sebelum Yesus dilahirkan, misalnya Abraham bapa iman kita, Musa pemberi hukum yang agung, Daud nenek moyang dari sang Raja-Mesias. Akan tetapi kepada mereka tidak diberikan perwahyuan seperti kepada kita, bahwa “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Natal adalah sebuah peristiwa yang indah, namun ada yang lebih indah lagi yang akan datang kelak. Natal menunjukkan bahwa Allah dilahirkan dalam kehinaan dan kerendahan, namun Dia akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya.

Di Betlehem kita melihat seorang anak bayi yang tak berdaya, namun pada akhir zaman kita akan melihat Kristus yang datang dengan segala kekuatan dan kuasa-Nya. Kita mempunyai alasan baik untuk menunggu dengan harapan penuh sukacita akan kedatangan Penyelamat kita, Yesus Kristus, karena mata kita akan terberkati melihat, bahwa Dialah yang mempunyai Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan, sekarang dan selama-lamanya (lihat Mat 6:13). 


Sumber : http://catatanseorangofs.wordpress.com/2011/11/28/aku-bersyukur-kepada-mu-bapa/

Senin, 21 November 2011

Memberi


Luk 21:1-4 - PERSEMBAHAN SEORANG JANDA MISKIN

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya”.


Arti kata memberi sendiri merupakan sebuah tindakan aktif untuk menyisihkan bahkan mengorbankan apa yang dimiliki untuk kemudian dibagikan kepada orang lain. Jadi selalu ada pihak penerima dari sebuah pemberian. Tentu konotasi kata yang satu ini kurang menguntungkan bagi orang yang melakukannya sebagai subyek. Akan sangat berbeda dengan pandangan perdagangan dalam dunia bisnis yaitu mengambil atau menerima sebanyak-banyaknya dari pengorbanan yang sekecil-kecilnya.

Tapi mengapa justru Yesus memuji seorang janda yang memberi dari kekurangannya? Bahkan ia mengorbankan seluruh nafkahnya demi tindakan memberi tersebut! Rasanya hampir tidak mungkin apalagi di jaman sekarang ini ada orang yang mau bahkan berani mengorbankan seluruh miliknya untuk diberikan kepada sesama, sekalipun itu persembahan kepada Gereja.

Jika perikop ini diterapkan kepada kelompok umat yang mempunyai harta benda yang cukup untuk berbagi, bahkan mereka yang berkelimpahan, maka rasanya Yesus hendak menegur kelompok umat seperti ini agar lebih tulus dalam memberi kepada sesama maupun persembahan kepada Gereja dan karya amal sejenisnya. Hanya dengan ketulusan hati orang bisa merasakan penderitaan orang lain yang berkekurangan dan membutuhkan uluran tangan dermawan yang murah hati. Jadi jelas pesan perikop: jangan asal memberi atau yang penting sudah memberi!

Lalu kalau perikop ini ditujukan kepada kelompok umat yang miskin dan berkekurangan, maka kiranya Yesus hendak mengatakan bahwa meskipun anda seorang yang tidak mampu, tapi anda masih tetap dapat berpartisipasi dalam memberi. Tuhan menghendaki persembahan terbaik dari setiap umat-Nya, kaya maupun miskin! Tidak ada alasan karena miskin maka tidak perlu memberi atau bebas dari memberi!

Ada bermacam-macam bentuk pemberian dan tidak selalu harus memberi dalam bentuk uang atau materi yang berwujud nyata. Setiap orang pasti mampu memberi. Jika umat Tuhan berkekurangan, maka berilah apa yang dimiliki, entah itu kebaikan hati untuk selalu mau menolong jika dibutuhkan, memberi tenaga, waktu, perhatian dan bakat-bakat lainnya.

Makna sesungguhnya dari setiap persembahan kita mengalir dari hati kita. Apakah kita mempersembahkan waktu, energi, uang, karena kita mengasihi Allah atau karena dengan memberi kita merasa baik atau kelihatan baik di depan orang-orang lain? Apakah kita memberi persembahan kita kepada Allah hanya dari kelebihan harta kekayaan kita? Ataukah kita seperti sang janda miskin, yang percaya bahwa sungguh pantas dan layak bagi Allah untuk menerima segalanya yang kita miliki?

Yesus ingin umat-Nya belajar dari janda miskin tersebut dalam memberi. Seolah-olah Yesus berkata: Berilah seluruh dirimu kepada Tuhan dan gunakan itu untuk menyenangkan hati Tuhan. Tidak akan pernah ada kata kekurangan atau tidak punya jika orang berani memberikan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Sebab dalam diri setiap umat-Nya, Tuhan sudah memperlengkapinya dengan kecukupan yang berlimpah.

Jadi persembahan yang berlimpah bagi Tuhan adalah mereka yang memberi dari kekurangan, bahkan memberikan seluruh dirinya. Biarlah Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan apa yang diberi umat-Nya dari kekurangannya. Untuk itu diperlukan ketulusan hati dalam memberi.

Bagaimana dengan diri-ku?


Cat. Tambahan :

Untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus di sini, pentinglah bagi kita untuk menyadari betapa kecil nilai dua uang tembaga itu. Uang tembaga itu dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama lepta; denominasi terkecil dari uang logam Yunani yang beredar pada waktu itu. Satu dinar (denarius) senilai dengan 128 lepta, upah sehari untuk seorang pekerja. Jadi apa yang dimasukkan sang janda miskin ke dalam peti persembahan itu bernilai 1/64 upah rata-rata sehari seorang pekerja. Hal ini menunjukkan betapa miskin janda itu. Mengapa sampai begitu miskin? Kita tidak tahu jawabnya. Yang diketahui adalah,  bahwa pada zaman Israel kuno, apabila seorang suami mati, warisannya diberikan kepada anak laki-laki tertua dan janda orang yang mati itu dibuat tergantung pada anaknya itu.


Sumber :
 - http://catatanseorangofs.wordpress.com/
 - http://www.facebook.com/pages/SABDA-MU-HIDUPKU/300893852260